Khotbah Jumat Soal Yahudi yang Dipelintir dan Propaganda Melawan Syeikh Sudais

Khotbah Syeikh Dr Abdul Rahman Al-Sudais di Masjidil Haram pada salat Jumat 4 September 2020 ternyata sempat memicu perdebatan.
Hal ini karena ada yang menafsirkan atau bahkan memelintir bahwa isi khotbah itu mengandung dorongan untuk menormalisasi hubungan Arab Saudi dan Israel, mengikuti jejak UEA-Israel sebelumnya.
Dalam bagian khotbahnya yang bertema Tauhid, Syeikh Sudais antara lain menyoal interaksi yang baik antara Nabi Muhammad dan tetangganya dari kelompok Yahudi.
Contoh ini menjadi salah satu alasan munculnya interpretasi bahwa Syeikh Sudais — salah satu imam di Masjidil Haram yang juga ketua Presidensi Dua Masjid Suci — mendorong Arab Saudi menormalisasi hubungan dengan Israel, negara yang mencaplok Palestina.
Padahal jelas, Arab Saudi selaku pemrakarsa Arab Peace Initiative menegaskan bahwa tidak ada perdamaian Arab dengan Israel tanpa hengkangnya Israel dari daerah Palestina yang didudukinya berdasar peta tahun 1967.
Pihak Masjidil Haram mengecam munculnya “pelintiran” itu dan menyebutnya sebagai “propaganda melawan Syeikh Sudais”.
“Pengguna di media sosial dengan marah memperdebatkan pidato imam itu. (Namun) Banyak netizen Israel melihat ucapan imam itu sebagai tanda perubahan yang akan datang dalam posisi Saudi di Israel," tulis MoroccoWorldNews.com.
"Sementara itu, laporan media Israel menyatakan bahwa khotbah itu adalah sinyal yang jelas dari upaya pendekatan kesepakatan normalisasi dengan Israel,” imbuhnya.
Salah satu media Israel yang menulis perkara itu adalah The Jerusalem Post, dengan berita berjudul “Sermon suggests Saudi Arabia near normalizing ties with Israel” pada 6 September.
“Khotbah yang disampaikan pada hari Jumat oleh Abdul Rahman al-Sudais, imam Masjidil Haram di Makkah, telah ditafsirkan oleh sebagian orang Arab dan Muslim sebagai awal normalisasi dengan Israel. Dalam ceramahnya, Sudais mengatakan bahwa ajaran Islam menuntut umatnya untuk menghormati non-Muslim dan memperlakukan mereka dengan baik,” tulisnya.
“Menurut Sudais, Nabi (Muhammad SAW) itu begitu baik kepada tetangga Yahudinya sehingga kemudian dia masuk Islam. Sudais juga berbicara tentang perlunya untuk "mengoreksi dan memurnikan keyakinan Islam dari keyakinan yang salah dan mencurigakan,” imbuhnya.
Namun, mereka yang mendukung kemerdekaan Palestina, mencurigai motif dari twit-twit atau pendapat orang Israel.
“Twit-twit seorang zionis, mencintai dan memuji Imam Makkah,” komentar salah satu pengguna media sosial. Sedangkan mereka yang termakan ‘pelintiran’ ini mengecam Syeikh Sudais.
Propagranda Melawan Syeikh Sudais
Secara resmi, pihak Syeikh Sudais atau Masjiidil Haram tidak mengeluarkan komentar atas interpretasi atau pelintiran yang merugikan Syeikh Sudais.
Tapi, akun yang terbiasa menginformasikan kabar-kabar internal Masjidil Haram termasuk aktivitas Syeikh Sudais, yaitu Haramain Sharifain, mengecam keras hal tersebut dalam tulisan berjudul “Propaganda againts Syeikh Sudais” pada Rabu (9/9).
“Menyusul khotbah yang disampaikan oleh Syeikh Abdul Rahman Al-Sudais pada 16 Muharram 1442, orang-orang tertentu telah mengambil kata-kata Khatib yang terhormat di luar konteks dan disajikan dalam klip-klip pendek yang memberi kesan bahwa Khatib yang terhormat sedang mendorong agenda untuk menormalkan sikap terhadap kerja sama dengan negara tertentu di dunia politik,” tulisnya.
“Setelah memposting tudingan itu dan menciptakan situasi di kalangan mereka sendiri, sejumlah orang mulai menuduh Khatib macam-macam tanpa menyadari bahwa mereka telah menjadi korban dari propaganda yang bertujuan memfitnah para imam Haramain,” sambungnya.
Dijelaskan, topik utama khotbah Syeikh Sudais adalah tentang Tauhid.
“Khatib berbicara tentang dasar Tauhid dan kesetiaan pada penyembahan kepada Allah semata. Khatib juga kemudian berbicara tentang generasi Hanif yang menyembah Allah saja, tetapi orang-orang besar menyimpang dari jalan yang benar dan memilih syirik (menyekutukan Allah) termasuk orang Kristen dan Yahudi,” tulisnya.
“Khatib lebih lanjut berbicara tentang menjaga hubungan baik antara orang-orang dari agama yang berbeda dan berbicara tentang aliansi berbeda Nabi Muhammad SAW yang dibuat dengan orang-orang Yahudi di Madinah (Piagam Madinah-Red) dan “mempertahankan perilaku yang diajarkan Islam dengan menjaga hati orang tetap bersama dan bahkan mengarahkan orang untuk menerima Islam,” ujarnya.
Dijelaskan, Khatib juga berbicara tentang masalah pendudukan Palestina dan pendudukan Masjid Al Aqsa dan menekankan bahwa masalah itu tidak boleh dilupakan oleh umat Islam “di tengah pergulatan yang baru terjadi”.
Haramain Sharifain juga mengimbau agar umat Islam mendengarkan sendiri khotbah tersebut yang diterjemahkan ke berbagai bahasa, yang bisa didengarkan lewat saluran-saluran yang tersedia.
“Umat Muslim harus memanfaatkan layanan yang diberikan ini dan tidak boleh percaya berita palsu, propaganda, dan upaya untuk menyebabkan ketidakpercayaan dan perpecahan umat Muslim. Semua informasi harus diambil dan ditanyakan dari sumber yang sahih,” tegasnya.
Sedikit tentang Piagam Madinah bisa dibaca di sini:
