Khotbah Ma'ruf Amin: Idul Fitri Pengakuan atas Kemenangan Rohani
·waktu baca 3 menit

Wakil Presiden ke-13 Indonesia, Ma'ruf Amin, menyebut Idul Fitri bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momen kemenangan rohani setelah umat Islam menjalani ibadah Ramadan.
Hal itu disampaikannya ketika menjadi khatib saat Salat Idul Fitri 1447 H di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Sabtu (21/3).
Turut hadir Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, dan mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang ikut melaksanakan salat Id.
“Para ulama mengingatkan takbir Idul Fitri bukan sekadar gema suara. Ia adalah pengakuan atas kemenangan rohani. Allah berfirman: Wa litukabbirullaaha ‘alaa maa hadaakum wa la‘allakum tasykuruun, agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya dan agar kamu bersyukur,” ujar Ma’ruf.
Ia menjelaskan, kemenangan tersebut tidak hanya dimaknai secara simbolik, tetapi merupakan hasil dari proses pengendalian diri selama Ramadan. Menurutnya, umat Islam telah dilatih menahan lapar, dahaga, amarah, hingga hawa nafsu.
“Ramadan telah kita lalui selama satu bulan penuh. Kita menahan lapar, menahan dahaga, menahan amarah, menahan hawa nafsu,” ungkap Ma’ruf.
“Para ulama mengatakan puasa bukan sekadar menahan lapar. Puasa bukan hanya menahan makan dan minuman, tetapi juga menahan segala sesuatu yang menjauhkan kita dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, kemenangan Idul Fitri adalah kemenangan moral dan spiritual,” lanjutnya.
Ma’ruf menambahkan, Idul Fitri juga menjadi momentum untuk kembali kepada fitrah sebagai manusia yang bersih dan suci, sekaligus mempererat hubungan antar sesama melalui tradisi saling memaafkan.
“Hadirin yang saya muliakan, Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah. Rasulullah bersabda: Kullu mauluudin yuuladu ‘alal fithrah. Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Fitrah adalah hati yang bersih, jiwa yang jujur, dan hubungan yang damai dengan sesama manusia. Karena itu, Idulfitri selalu diiringi dengan tradisi yang sangat indah, saling memaafkan,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai Ramadan setelah bulan suci berakhir, termasuk memperkuat silaturahmi sebagai fondasi kehidupan sosial.
“Tema kita hari ini adalah merajut silaturahim dalam simfoni kemenangan. Silaturahim bukan sekadar kunjungan, melainkan modal sosial peradaban. Rasulullah bersabda: Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahimnya,” tutur dia.
Menurut Ma’ruf, nilai-nilai yang dibangun selama Ramadan tidak hanya berdampak pada aspek spiritual, tetapi juga sosial dan ekonomi, seperti melalui zakat, infak, dan sedekah.
“Dalam satu bulan ini kita melihat zakat ditunaikan, infak digerakkan, sedekah dibagikan. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya membangun kesalehan ritual, tetapi juga kesalehan sosial. Ulama mengatakan agama tidak tegak hanya dengan ibadah saja, tetapi juga dengan keadilan,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan tantangan terbesar setelah Ramadan adalah menjaga konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai kebaikan di bulan-bulan berikutnya.
“Ibadah Ramadan memang berat menghadapi ujian dan tuntutan yang harus kita lakukan. Namun, yang lebih berat adalah menjaga keberlangsungan dan keistiqamahan hingga sebelas bulan ke depan agar kita tetap berjalan di jalur Ramadan, yaitu di jalan Allah dan petunjuk-Nya,” kata Ma’ruf.
