Ki Hajar Dewantara dalam Ingatan Cucunya

Meski tidak lama tinggal bersama dengan Ki Hajar Dewantara, ingatan akan sang eyang masih membekas jelas di benak keempat cucunya. Dalam acara peringatan Hari Pendidikan Nasional di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mereka menceritakan kisah bagaimana sang eyang memberikan teladan dan pengaruh yang besar dalam kehidupan mereka.
Lama tinggal di Bali membuat Litasari jarang bertemu dengan sang eyang. Sampai akhirnya Ki Hajar Dewantara meminta ibunda Litasari kembali ke Yogyakarta untuk kembali tinggal bersama.
"Pada waktu itu (Ki Hajar Dewantara) sudah mulai sakit sehingga panggil ibu saya untuk (kembali) serumah di Yogya. Alhamdulilah punya kesempatan satu tahun dengan beliau," tutur Litasari di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (2/5).
Setiap pulang sekolah, kenang Litasari, Ki Hajar selalu memanggilnya untuk masuk ke dalam kamar, memintanya untuk memijat kakinya sambil bertanya kegiatan Litasari selama berada di sekolah.
"Nanya di sekolah tadi pelajarannya apa. Terus kalau sama saya selalu tanya tentang lagu Jawa," kenangnya.
Litasari yang kala itu bersekolah di Sekolah Taman Siswa Yogyakarta kerap mendapatkan pelajaran lagu bahasa Jawa sehingga Ki Hajar selalu memintanya untuk menyanyikan lagu bahasa Jawa yang dia pelajari di sekolah.
"Kemudian saya disuruh nyanyi dan membicarakan isinya tentang apa karena waktu itu bahasa Jawa saya nggak sebagus sekarang karena baru pindah dari Bali," tuturnya.

Selama tinggal bersama dengan Ki Hajar, Litasari mengungkapkan banyak pelajaran baik yang dia dapatkan dari Ki Hajar lewat contoh kehidupan sehari-hari. Hal yang paling Litasari kenang adalah ketika seorang penjual telur dan penebang pohon yang sudah renta lewat di depan rumah mereka.
"Ki Hajar bilang 'Lihat. Mereka sudah tua tapi tetap berusaha dan bekerja'. Dia selalu mengatakan itulah contoh orang yang wong merdeko. Berani hidup merdeka," katanya menirukan ucapan Ki Hajar kala itu.
Setelah Litasari, Granawati juga turut bercerita sembari mengenang Ki Hajar. Beda dengan Litasari yang tinggal dengan Ki Hajar selama satu tahun, Granawati hanya dapat berkumpul dengan Ki Hajar ketika lebaran saja.
"Semasa kecil saya selalu kumpul sama sepupu. Tiap pagi kita bangun dan diajak eyang jalan-jalan. Semua tanaman dan buah-buahan diperkenalkan kepada kami," kenangnya.
Esoknya, Ki Hajar kembali akan menanyakan kepada cucunya buah apa saja yang kemarin telah diperkenalkan dan berapa jumlahnya sembari berjalan-jalan. Rupanya apa yang dilakukan oleh Ki Hajar kepada cucunya saat itu merupakan salah satu metode mengajar yang disebut ngerti, ngroso, ngelakoni.
"Jadi kamu ngerti dulu nanti baru tahu itu gunanya untuk apa dan kenapa seperti itu," ungkapnya.
Selain itu, Granawati juga menyadari alasan mengapa Ki Hajar sering sekali mengumpulkan cucu-cucunya bersama dengan dia. Dengan cara seperti itu, Ki Hajar ingin mengajarkan tujuan hidup berkelompok.
"Beliau ngumpulin kami ada satu tujuan, yaitu kalau hidup ada kelompok yang saling memberi dan saling menerima. Ki Hajar menengahi saja," kenangnya.
Berbeda dengan kedua saudaranya yang lain, Widiawati menyoroti bagaimana pengaruh sang nenek, Nyi Sutartinah, atau yang oleh cucunya akrab dipanggil Nyi Hajar, dalam kehidupan Ki Hajar.
"Nyi Hajar selalu mendampingi nggak cuma soal urusan rumah tangga tapi juga politik dan pendidikan," tutur Widiawati mengenang peranan Nyi Hajar.

Widiawati pun menceritakan kembali cerita yang dia dengar ketika Ki Hajar dipenjara di LP Pekalongan setelah pulang dari pengasingan di Belanda. Nyi Hajar yang saat itu sedang melahirkan dan menderita pendarahan hebat tetap mengingatkan Ki Hajar untuk segera mendirikan lembaga pendidikan untuk anak-anak yang tidak bisa mengenyam pendidikan.
"Dalam keadaan itu Nyi Hajar tetap mengingatkan Ki Hajar untuk segera mendirikan pendidikan untuk anak bangsa yang nggak pernah mendapatkan pendidikan yang sama dengan yang lain. Nyi Hajar sangat banyak mendorong," kenangnya.
Berbeda dengan Litasari, Granawati dan Widiawati, Antarina Sulaiman tidak pernah bertemu dengan Ki Hajar karena dirinya lahir ketika Ki Hajar sudah wafat. Namun dia belajar mengenai sistem pendidikan yang dianut oleh Ki Hajar lewat cerita dari om nya.
"Beliau cerita dia juga ikut menemani dalam perjuangannya dalam konsep pendidikan," tuturnya.
Antarina yang juga pendiri Highscope mengungkapkan meski tidak pernah bertemu dengan Ki Hajar banyak mengadopsi sistem pendidikan yang dibentuk oleh Ki Hajar. Setelah mendengar cerita mengenai sistem dan konsep pendidikan yang diciptakan oleh Ki Hajar, Antarina seakan menemukan konsep pendidikan yang juga dia cari untuk Highscope.
"Saya mendalami pendidikan dari Ki Hajar dan juga yang saya dapatkan dari konsep internasional. Itu yang memang saya cari," tutupnya.
Entah sebuah kebetulan atau tidak, keempat cucu Ki Hajar juga turut bekerja dalam dunia pendidikan. Litasari merupakan dosen Teknik Elektro di UGM, Granawati merupakan dosen Fakultas Ekonomi di Universitas Trisakti, Widiawati berprofesi sebagai dokter gigi, dan Antarina sebagai pendiri dan CEO dari Highscope.

