Kia Ungkap Alasan Selalu Produksi Mobil di Korea Selatan

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kia Sportage dan Kia Sedona (Foto: Gesit Prayogi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kia Sportage dan Kia Sedona (Foto: Gesit Prayogi/kumparan)

Kia Mobil Indonesia (KMI) memilih untuk memasarkan kendaraan dalam bentuk Completely Built Up (CBU) yang didatangkan dari Korea Selatan. Padahal, jika merakit mobilnya di Indonesia, jenama Korea Selatan itu setidaknya bisa membuat mobil buatannya lebih kompetitif.

Namun faktanya, Kia mengenyampingkan pilihan produksi di banyak negara dan memusatkan produksi dan pengembangan produk di Korea Selatan.

“Kia itu ingin mobilnya jadi produk dunia dan otomatis banyak yang perlu di-improve” ucap Product Development Kia Mobil Indonesia, Tonny Saptono dalam acara Media Drive di Segarra Ancol, Jakarta Utara, Kamis (5/10).

Tonny melanjutkan, strategi itu tentu saja menuntut Kia untuk menciptakan produk dengan kualitas global dan dapat diterima di banyak pasar.

Di Indonesia, konsep ini tentunya berlaku. Kia Mobil Indonesia merasa bahwa untuk mendapatkan produk yang memiliki kualitas teruji, produk harus dibuat langsung dari Korea Selatan.

“Akhirnya CBU untuk menjaga kualitas dunia. Kami tidak boleh lagi bicara CKD yang sempat kita lihat pada beberapa tipe seperti Kia Carens,” katanya. Saat ini, produk Kia buatan Korea Selatan berhasil diterima di 172 negara.

Menjaga kualitas tak semudah membalikkan telapak tangan. Kia pun meningkatkan investasi di dalam negeri dan menggunakan robot yang mencakup 80 persen dari proses produksi.

Teknologi

Kia sendiri sadar bahwa mengandalkan desain saja tak cukup untuk memikat konsumen. Hingga pada akhirnya mereka pun mulai fokus mengembangkan teknologi mesin.

Gayung bersambut. Tonny menambahkan, “Kami mendapatkan kategori best engine saat merilis Kia Picanto tahun 2011. Kemudian mesin Diesel Sportage yang berkapasitas 2,0 liter terbukti lebih unggul.”

Dalam hal keselamatan, Kia pun tak mau kompromi soal fitur keselamatan. Mereka pun memilih Euro NCAP sebagai ajang pembuktian.

“Kenapa kami pakai Euro NCAP karena paling ketat dibandingkan lembaga pengujian yang lain,” tuntas dia.