KIPI COVID-19 pada Lansia Paling Banyak Sakit Kepala, Masih dalam Batas Wajar

11 Maret 2022 12:48 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ketua ITAGI, Prof. Sri Rezeki Hadinegoro. Foto: Youtube/@Badan POM RI
zoom-in-whitePerbesar
Ketua ITAGI, Prof. Sri Rezeki Hadinegoro. Foto: Youtube/@Badan POM RI
ADVERTISEMENT
Vaksinasi menjadi suatu langkah yang penting bagi masyarakat dunia untuk mencegah penularan COVID-19. Ia dapat membentuk antibodi yang mampu memperkuat imunitas dalam tubuh, sehingga tidak mudah terpapar virus.
ADVERTISEMENT
Apalagi bagi lansia, vaksinasi sangatlah penting karena diketahui bahwa fungsi organ-organ penting dalam tubuh sudah menurun. Sehingga diperlukannya vaksinasi untuk membuat antibodi kekebalan terhadap penyakit infeksi yang berat.
Vaksinasi untuk kelompok rentan memiliki efek samping dan takaran dosis yang hampir sama seperti kelompok dewasa pada umumnya. Umumnya, persentasenya hanya sedikit yang mengalami KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi.
Efek yang timbul setelah vaksinasi yang membuat seseorang menjadi tidak nyaman karena adanya demam, sakit kepala, muntah, dan lain sebagainya.
Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Prof. Dr. Sri Rezeki Hadinegoro, menjelaskan bahwa terkadang tidak bisa ditentukan penyebab KIPI pada lansia ini memang karena vaksin atau karena penyebab lain seperti komorbid atau penyakit penyerta lainnya.
ADVERTISEMENT
“Kita tidak bisa menentukan apakah KIPI pada lansia memang karena vaksin atau karena penyebab lain. Semakin tua akan banyak sistem organ yang menurun sehingga banyak komorbid, terkadang menjadi rancu penyebabnya memang penyakitnya atau karena vaksinnya,” jelas Sri dalam diskusi BNPB, Jumat (11/3).
Setelah pemberian vaksinasi pada lansia biasanya efeknya sama dengan kelompok dewasa, yaitu terdapat keluhan paling banyak 10% karena mengalami sakit kepala, demam, dan berbagai keluhan lainnya.
“Kalau kita lihat selama ini untuk lansia pemberian vaksin COVID-19 ini sama dengan dewasa pada umumnya. Adanya keluhan sakit kepala paling banyak sekitar 10%. Ada juga yang mual, lesu, mengantuk, terkadang juga demam atau mungkin menggigil. Tetapi tidak berat,” kata Sri.
Artinya gejala fisik yang timbul terhadap lansia yang memiliki kondisi yang sehat akan sama seperti kondisi fisik yang timbul pada orang muda pada saat menerima vaksin.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, lansia yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid harus dikontrol dengan baik dan tetap wajib untuk mengkonsumsi obatnya supaya tidak terjadi keluhan pada kelompok lansia tersebut.
Sri juga menjelaskan bahwa KIPI terbagi menjadi 2 bagian yaitu lokal reaksi dari tempat suntikan dan reaksi sistemik.
“KIPI dibagi menjadi 2 bagian. Pertama, reaksi di tempat suntikan misalnya di lengan atas kemudian terasa bengkak, terasa nyeri atau merah. Kedua disebut reaksi sistemik yang pada umumnya seperti demam, mual, diare. Jadi tergantung dari gejala apa yang timbul,” ujarnya
Sangat disarankan bagi semua masyarakat untuk tidak langsung pulang setelah vaksinasi. Tunggu selama 15-30 menit untuk melihat adakah efek samping yang muncul setelah divaksin.
ADVERTISEMENT
Diperlukan juga pengawasan di rumah untuk lansia selama kurang lebih 3 hari, apabila dalam 3 hari terasa pusing, mual, dan nyeri pada tempat suntikan dapat diberikan obat-obatan ringan atau kompres dengan air dingin. Tetapi jika lebih dari 3 hari, harus segera berobat ke faskes terdekat.
Hal ini diyakini bisa meningkatkan cakupan vaksinasi lansia yang belum mencapai target. Menjadi yang terendah atau di bawah 60 persen.
Reporter: Devi Pattricia