Kiprah Dokter Terawan, dari Penemu Metode Cuci Otak hingga Dipecat IDI

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
DR dr Terawan Agus Putranto (Foto: Facebook @Berita Dokter)
zoom-in-whitePerbesar
DR dr Terawan Agus Putranto (Foto: Facebook @Berita Dokter)

Dunia kedokteran dikejutkan dengan beredarnya surat dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang berisi soal pemecatan sementara Mayjen Dr dr Terawan Agus Putranto karena diduga melakukan pelanggaran etik. Sanksi ini membuat dr Terawan tak boleh membuka praktik kedokteran.

Mungkin bagi publik, nama dr Terawan terdengar asing. Namun, tidak dengan mereka yang berkecimpung di dunia medis maupun para pasien yang pernah ditanganinya. Lalu siapa sebenarnya dr Terawan?

Mayjen TNI Dr dr Terawan Agus Putranto adalah lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Setelah lulus, ia langsung mengabdikan diri menjadi dokter di TNI Angkatan Darat.

Kemudian pria kelahiran Yogyakarta, 5 Agustus 1964 ini memperdalam ilmunya dengan mengambil Spesialis Radiologi di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya.

Merasa belum cukup ilmu, dr Terawan kembali melanjutkan pendidikan dengan menempuh program doktor di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, dan lulus pada 2013.

DR dr Terawan Agus Putranto (Foto: Twitter @KBRI Den Haag)
zoom-in-whitePerbesar
DR dr Terawan Agus Putranto (Foto: Twitter @KBRI Den Haag)

Namanya mulai dikenal setelah mempraktikkan metode cuci otak untuk menyembuhkan penderita stroke, metode yang sebenarnya sudah dia kembangkan sejak tahun 90-an. Metode yang biasa disebut brain flushing itu juga tertuang dalam desertasinya 'Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Celebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis".

Dalam pengalamannya, pasien bisa sembuh dari stroke selang 4-5 jam pasca-operasi. Metode pengobatan tersebut bahkan telah diterapkan di Jerman dengan nama paten ‘Terawan Theory’.

Pengobatan ala Terawan ini menggunakan teknik sederhana, mirip dengan cara membersihkan saluran gorong-gorong yang tersumbat. Menurutnya, stroke terjadi karena sumbatan darah di otak (Stroke Iskemik), sehingga darah tak mengalir dengan lancar. Sumbatan inilah yang dibersihkan, sehingga pembuluh darah kembali bersih dan bekerja dengan normal. Meski hingga Agustus 2016 metode ini belum dibuktikan secara ilmiah, namun metodenya terbukti berhasil.

Dalam metodenya, dr Terawan menggunakan obat heparin sebagai penghancur plak atau lemak yang menyumbat di pembuluh darah.

instagram embed

Berkat inovasinya, dr Terawan menerima beberapa penghargaan. Ia memperoleh penghargaan Bintang Mahaputra Naraya (2013), Hendropriyono Strategic Consulting (HSC) pada 2015. Pada 2017, ia berhasil memecahkan rekor dari Museum Rekor Indonesia sebagai Penemu Terapi Cuci Otak dan Penerapan Program Digital Substraction Angiography (DSA) Terbanyak. Terawan juga mendapat penghargaan Achmad Bakrie (PAB) XV pada 2017.

Jika melihat perjalanan kariernya, dr Terawan bukan orang sembarangan. Tercatat pada 2009, dr Terawan menjadi bagian dari tim dokter kepresidenan (2009). Ia pernah menjadi ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia, juga pernah menjadi ketua World International Committee of Military Medicine.

Surat pemecatan DR. Dr. Terawan Agus Putranto (Foto: Instagram @@vanitambayong)
zoom-in-whitePerbesar
Surat pemecatan DR. Dr. Terawan Agus Putranto (Foto: Instagram @@vanitambayong)

Di tingkat Asia Tenggara, ia duduk sebagai ketua ASEAN Association of Radiology. Dia kemudian menjadi Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto pada 2015 hingga sekarang.

Sudah banyak pasien yang ditanganinya temasuk dari kalangan elite seperti SBY, Aburizal Bakrie, dan AM Hendropriyono. Tebaru, ia mendapat instruksi langsung dari Presiden Jokowi untuk memberikan penanganan terbaik untuk Nyak Sandang, satu-satunya penyumbang pesawat pertama Indonesia, RI-001 Seulawah, yang masih hidup.

X post embed

Beredarnya surat pemecatan Terawan dari IDI memicu lahirnya tagar #savedokterterawan. Aburizal Bakrie yang pernah diobati Terawan turun tangan untuk membela dan menulis di media sosialnya, "Mudah menemukan testimoni orang yang tertolong oleh dr Terawan. Inilah mengapa saya perlu ikut membela dia. Orang yang dengki terhadap keberhasilan orang lain adalah orang yang tidak pandai mensyukuri, bahwa Allah telah memberikan kelebihan pada siapa pun yang dikehendaki-Nya."