Kisah AHY Kenang Detik-detik Reformasi 1998 di Barak Akmil

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
AHY foto bersama perserta sarasehan  (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
AHY foto bersama perserta sarasehan (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)

Reformasi sudah berjalan selama 20 tahun dan salah satu hasilnya adalah dihapuskannya dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). ABRI, yang kini berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), dinilai telah berhasil menuntaskan agenda reformasi mereka.

Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono juga turut menceritakan pengalamannya pada Mei 1998. Kala itu, cerita AHY, ia masih menempuh pendidikan sebagai perwira militer di Akademi Militer (Akmil), Magelang, Jawa Tengah.

“Saya saat itu taruna tingkat 2 di Akmil. Saya saksikan bersama-sama di TV di barak. Kami melihat rekan-rekan kita yang berjaga di Istana dilempari batu oleh masyarakat, diserang dan dihina," tutur AHY dalam acara 'Refleksi 20 Tahun Reformasi' di Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Senin (21/5).

"Nahan napas kita semua karena terjadi hal yang fundamental dan mengubah semua yang kita kenal dengan ABRI. Kami sempat berpikir, jangan-jangan kita salah jurusan, ketika melihat masyarakat yang benci dengan ABRI dulu. Jangan-jangan kami salah lahir,” kenangnya.

Namun pada saat yang sama, ia juga memahami mengapa masyarakat begitu membenci TNI kala itu. Pasalnya, pada masa itu, muncul anggapan bahwa semua jalan menuju birokrasi bisa ditempuh melalui Akmil.

“Dulu, konon, kalau mau jadi apa saja, bisa lewat Akmil. Menteri, bupati, gubernur, DPR, dan lain-lain (bisa) masuk Akmil. Bapak ibu, ini karena ada dwifungsi ABRI. Bahkan ada celetukan bahwa ABRI bisa melakukan semua tugas, kecuali tugas pokoknya,” paparnya.

Agus Harimurti Yudhoyono. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Agus Harimurti Yudhoyono. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Hal itu, kata AHY, terjadi karena implementasi dari dwifungsi ABRI. Pada masa Orde Baru, ABRI bisa menjalankan fungsi pertahanan sekaligus fungsi sosial politik.

Dampak dari dwifungsi ABRI pun luar biasa terasa, ketika ABRI justru lebih kuat menjalankan politik praktis dibandingkan fungsi utamanya sebagai pertahanan.

Namun setelah reformasi, Agus berpendapat ABRI yang kini menjadi TNI, berhasil melakukan reformasi karena telah melakukan beberapa hal.

“Sebagai eks TNI, saya laporkan kepada Bapak Ibu sekalian (bahwa) reformasi telah berjalan baik. Yang pertama, TNI lepaskan fungsi sospolnya, bahkan komitmennya fraksi TNI bisa keluar 5 tahun lebih awal. Kemudian ABRI dilepaskan dari afiliasi politiknya. Maka hari ini TNI sebagai institusi adalah lembaga imparsial dan netral,” ungkap Agus.

Lebih lanjut, menurut AHY, TNI juga berhasil melepaskan bisnis militernya saat hal itu diganti dengan peningkatan kesejahteraan para prajurti tanpa terkecuali. AHY bahkan menyebut dirinya merupakan wujud nyata dari reformasi TNI.

Seperti diketahui, Agus merupakan seorang perwira dengan pangkat Mayor Angkatan Darat. Ia harus melepaskan pangkat tersebut demi komitmennya saat mencalonkan diri sebagai cagub DKI Jakarta pada Pilgub DKI 2017 yang lalu.

“Saya juga berkaca pada apa yang terjadi pada saya saat Pemilu Gubernur lalu. Saya harus rela melepaskan seragam kebanggaan saya. Saya tahu kalau menang atau kalah saya tidak bisa kembali. Tapi ini merupakan komitmen TNI, untuk menjaga agenda reformasi,” pungkasnya.