Kisah Ali dan Toko Sembako di Kudus: Bangkit Usai Kehilangan Dua Tangan
ยทwaktu baca 3 menit

Di sebuah toko sembako sederhana, seorang pria melayani pembeli. Meski tangannya tidak sempurna, dengan cekatan ia mengangkat beras, menghitung kembalian, hingga membungkus barang-barang. Semuanya dilakukan dengan keterbatasan yang tak mematahkan semangatnya.
Dia adalah Ali Mankana (43), seorang penyandang disabilitas asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dia tak memiliki kedua tangan usai mengalami kecelakaan kerja.
Meski kedua tangannya hilang, semangatnya tak putus. Ia memilih bangkit dan membuka toko sembako.
Ali berdomisili di Desa Bae, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Sementara itu, toko sembako miliknya berada di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Ali terlahir normal, namun pada 2020 ia tersengat tegangan listrik saat bekerja sebagai kuli bangunan.
"Imbasnya tangan kanan saya aliran darahnya tidak mengalir. Kemudian membusuk hingga harus amputasi. Dua hari kemudian tangan kiri saya juga membusuk sehingga harus amputasi," katanya saat berbincang dengan kumparan, Selasa (14/4).
Setelah amputasi itu aktivitasnya sekadar membersihkan rumah sekaligus melatih agar otot tangannya tidak lemah.
"Setelah amputasi, kedua tangan saya sempat kaku dan sulit untuk digerakkan," terangnya.
Berusaha Bangkit
Selama masa pemulihan dua tahun itu, ia berusaha untuk bangkit. Ayah tiga anak itu berlatih makan sendiri, mandi menggunakan selang air yang digantung di kamar mandi, membalas pesan WhatsApp menggunakan siku, dan berlatih kegiatan lainnya.
"Setelah berjalan enam bulan, saya mulai terbiasa. Dari yang awalnya tidak dapat memegang sapu, sekarang sudah bisa," ujarnya.
Kebingungan serta perasaan putus asa menjalani kehidupan sempat dialaminya. Namun, dukungan terus mengalir dari keluarganya dan rekan-rekan difabel.
"Ada cibiran dari orang-orang, katanya tanpa dua tangan saya bisa apa. Tetapi saya tetap bersemangat bangkit demi keluarga saya," jelasnya.
Ia sadar masih memiliki keluarga yang harus dinafkahi. Dapur di rumahnya harus tetap ngebul. Dua dari tiga anaknya yang sudah bersekolah membutuhkan biaya pendidikan. Akhirnya, ia bangkit untuk menjalani kehidupannya yang baru.
Buka Toko Sembako Arto Moro
Tepat pada tahun 2023, ia mengontrak bangunan berukuran 5,5 meter x 6 meter untuk membuka toko sembako. Tokonya diberi nama "Arto Moro". Apabila diterjemahkan, nama tersebut memiliki makna "Uang Datang". Ia berharap nama tersebut memberikan kelancaran rezeki.
Modal membuka toko itu berasal dari uang pribadi dan dibantu rekannya. Kehidupan barunya pun dimulai.
Kendati tak memiliki kedua tangan, Ali mampu mengangkat satu karung beras. Termasuk memasukkan beras ke plastik kresek menggunakan gayung dilakoninya tanpa ada kendala.
Ali juga sudah terbiasa menerima maupun memberikan uang kembalian kepada pembeli. Tak terlihat sedikit pun kesulitan yang dialaminya.
Ali menjual berbagai sembako seperti beras, minyak goreng, dan mi instan. Ali juga menjual pakan (makanan) ikan, pakan burung, pakan kucing, dan pakan ayam.
Toko sembakonya buka setiap hari, mulai pukul 07.30 WIB sampai 20.00 WIB. Ia bersyukur tokonya semakin ramai setiap harinya.
"Alhamdulillah bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu dari toko ini bisa saya gunakan untuk biaya sekolah anak," imbuhnya.
