Kisah Auliya, Peserta Disabilitas Asal Medan yang Lulus Diklat SPPI Kopdes

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Muhammad Auliya Ansori Peserta Disabilitas asal Medan usai Upacara Penutupan Diklat SPPI KDKMP/KNMP di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (31/7/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Muhammad Auliya Ansori Peserta Disabilitas asal Medan usai Upacara Penutupan Diklat SPPI KDKMP/KNMP di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (31/7/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Di tengah barisan peserta yang mengikuti Upacara Penutupan Pendidikan dan Latihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (31/7), Muhammad Auliya Ansori berdiri dengan cerita yang berbeda.

Pria asal Medan, Sumatera Utara, itu menjadi satu-satunya peserta penyandang disabilitas di satuan pendidikannya yang berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian diklat.

Auliya mengikuti pendidikan di Pusat Bahasa Kodiklat TNI Angkatan Udara, Subang. Selama menjalani pendidikan, ia mengemban formasi sebagai Penjamin Mutu untuk program Kampung Nelayan Merah Putih.

"Itu yang berkebutuhan khusus atau difabel itu saya sendiri, seorang," kata Auliya kepada wartawan usai upacara penutupan.

Keputusan mengikuti SPPI bukan tanpa alasan. Lulusan Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Sumatera Utara itu mengaku memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat pesisir sejak masih duduk di bangku kuliah. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk ikut berkontribusi dalam program prioritas nasional Kampung Nelayan Merah Putih.

"Saya merupakan seorang Sarjana Perikanan di mana saya mendapatkan banyak pengalaman selama kuliah terkait dengan kehidupan masyarakat pesisir, sehingga saya ingin berkontribusi khususnya pada program prioritas nasional yaitu program Kampung Nelayan Merah Putih ini," tegasnya.

Sejumlah calon manajer Koperasi Merah Putih meluapkan kegembiraan usai upacara penutupan Diklat Bela Negara SPPI Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (31/7). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Selama mengikuti diklat, Auliya menjalani dua tahapan utama pendidikan, yakni Pendidikan Bela Negara selama sekitar 30 hari dan pendidikan manajerial selama 15 hari yang disesuaikan dengan formasi masing-masing peserta. Sebagai calon Penjamin Mutu, ia mempelajari penguatan kualitas dan daya saing produk hasil perikanan.

Meski memiliki keterbatasan fisik, Auliya mengaku tidak merasa diperlakukan berbeda. Menurutnya, para pelatih dan pembina menerapkan pendekatan yang mengedepankan sisi kemanusiaan dengan menyesuaikan aktivitas berdasarkan kemampuannya.

"Apabila saya menyanggupi, maka saya ikut. Apabila tidak, maka saya mengikuti arahan dari pelatih, seperti itu," kata dia.

Bekal yang diperoleh selama diklat ingin ia terapkan saat mulai bertugas di lapangan. Auliya berharap dapat membantu meningkatkan kualitas produk unggulan dari setiap Kampung Nelayan Merah Putih agar memiliki daya saing lebih tinggi dan distribusinya semakin luas.

"Yang ditekankan dari Kampung Nelayan Merah Putih ini adalah penguatan daya saing produk seperti itu. Jadi nantinya produk-produk yang memiliki nilai potensial dari suatu daerah Kampung Nelayan Merah Putih, maka bisa akan ditingkatkan ataupun didistribusikan lebih baik seperti itu," ujar Auliya.

Baginya kelulusan dari SPPI bukan sekadar menyelesaikan pendidikan. Kesempatan itu menjadi langkah awal untuk mengabdikan ilmu yang dimilikinya kepada masyarakat pesisir sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk berkontribusi dalam pembangunan.