Kisah Balita di Kalsel Sudah 3 Hari Dirawat Akibat ISPA di Tengah Asap Karhutla

Nur Kiswah, anak berusia tiga tahun asal Desa Galam Rabah, Kecamatan Cintapuri Darussalam, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Ratu Zalecha Martapura.
Di usianya yang masih belia, Nur Kiswah mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti desanya.
Sudah tiga hari Nur Kiswah menjalani perawatan di rumah sakit. Batuk, sesak napas, dan demam menjadi keluhan yang dialaminya. Bagi Ahmad, ayah Nur Kiswah, kondisi sang anak menjadi kekhawatiran tersendiri di tengah kabut asap yang terus menyelimuti tempat tinggal mereka.
Ahmad menuturkan, kabut asap di desanya muncul hampir setiap hari sejak Agustus 2026. Asap pekat menyelimuti permukiman warga sejak pagi hingga siang, bahkan terkadang bertahan sampai malam hari.
“Sejak bulan Agustus hingga sekarang, kebakaran sering terjadi hampir setiap hari. Karena itu, kabut asap juga muncul setiap hari di desa kami,” ujar Ahmad, Senin (12/10/2026).
Kondisi tersebut membuat warga khawatir terhadap dampak paparan asap, terutama bagi anak-anak yang rentan mengalami gangguan pernapasan.
Pengalaman Nur Kiswah menjadi salah satu gambaran bagaimana karhutla tidak hanya membakar hutan dan lahan, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat di sekitarnya.
Mayoritas Pasien ISPA Anak-Anak
Di Rumah Sakit Ratu Zalecha Martapura, Nur Kiswah bukan satu-satunya anak yang menjalani perawatan akibat gangguan pernapasan di tengah kabut asap.
Dokter umum yang menangani pasien, dr. Ika Lestari, mengatakan mayoritas pasien ISPA yang dirawat merupakan anak-anak. Gejala yang dialami pasien antara lain batuk, sesak napas, dan demam tinggi.
“Total ada 20 anak yang dirawat di Rumah Sakit Ratu Zalecha akibat terpapar ISPA di tengah asap pekat. Sedangkan untuk rawat jalan sebanyak 13 orang,” ujar Ika.
Menurut Ika, pasien mendapatkan pengobatan sesuai dengan gejala yang dialami. Sejumlah pasien juga diketahui memiliki penyakit penyerta. Saat ini, empat pasien masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Ika mengimbau masyarakat untuk melindungi anak-anak dari paparan kabut asap dengan mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat disarankan menggunakan masker yang sesuai.
Ia juga mengingatkan orang tua agar mewaspadai gejala gangguan pernapasan pada anak, terutama sesak napas atau kondisi kesehatan yang memburuk, dan segera mencari pertolongan medis jika keluhan tersebut muncul.
Bagi keluarga Nur Kiswah dan warga lain yang terdampak, kabut asap bukan sekadar persoalan lingkungan. Asap yang datang hampir setiap hari menghadirkan kekhawatiran akan kesehatan anak-anak mereka.
Di tengah upaya pemulihan pasien yang masih dirawat, warga berharap kebakaran hutan dan lahan segera ditangani agar kabut asap mereda, kualitas udara membaik, dan anak-anak dapat kembali beraktivitas tanpa dibayangi ancaman gangguan pernapasan.
