Kisah 'Bank Sampah Bersinar' Sukses Dampingi Warga Ubah Sampah Jadi Uang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
CEO Bank Sampah Bersinar, Febriyanti SR. Foto: Robby Bouceu/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
CEO Bank Sampah Bersinar, Febriyanti SR. Foto: Robby Bouceu/kumparan

Pada tahun 2019, seorang Corporate Support Division Head di sebuah perusahaan multinasional meninggalkan kariernya dan banting setir untuk mendampingi masyarakat mengelola sampah. Dia adalah Febriyanti SR, lulusan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran.

Pada tahun itu, Fei Febri—demikian dia akrab disapa—bersama 7 orang lainnya, menginisiasi sebuah ruang layanan edukasi, inovasi, serta jasa pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Ruang tersebut bernama Bank Sampah Bersinar.

Bank Sampah Bersinar, Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (13/8/2024). Foto: Robby Bouceu/kumparan

Bank Sampah Bersinar kini punya lebih dari 850 unit bank sampah binaan se-Bandung Raya, baik di lingkungan RT, desa, sekolah, maupun instansi. Di sana, masyarakat bisa menukar segala macam sampah domestik yang telah dipilah dengan uang.

Untuk dapat menyediakan layanan tersebut, Bank Sampah Bersinar melalui proses yang panjang. Kepada kumparan, Fei pun membagikan kisah perjalanan Bank Sampah Bersinar.

Pada Mulanya Adalah Panggilan

Proses pengolahan sampah pilahan di Bank Sampah Bersinar, Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (13/8/2024). Foto: Robby Bouceu/kumparan

Fei mengatakan Bank Sampah Bersinar sebetulnya telah digagas sejak 2014 sebagai sebuah kegiatan sosial. Di sana, dia melihat kesempatan untuk berbisnis sekaligus berkontribusi secara langsung bagi lingkungan.

Dia mengaku mendapat semacam panggilan untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi sesama dan lingkungan.

“Kan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama, buat lingkungan juga. Jadi saya pikir ini adalah satu wadah yang bagus,” kata dia saat ditemui Rabu (14/8).

Proses pengolahan sampah pilahan di Bank Sampah Bersinar, Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (13/8/2024). Foto: Robby Bouceu/kumparan

Peluang itu pun mendorongnya untuk membuat sebuah komunitas dengan manajemen baru yang lebih profesional di tahun 2019. Tim yang semula hanya 8 orang ditambah, jam kerja teratur dibentuk, fokus awal ditentukan: Memberi sosialisasi dan edukasi masyarakat soal pengelolaan sampah.

Fokus itu diambil bukan tanpa sebab. Dia sendiri merasa prihatin dengan kebiasaan buruk masyarakat dalam mengelola sampah.

“Semua dimasukkan ke kantong plastik, taruh di depan, nanti tukang sampah ambil. Masih mending kalau seperti itu, kadang, ada yang dia sekalian pergi kerja buang sampahnya ke pinggir jalan, ke sungai, dan itu tuh biasa gitu di masyarakat kita,” ujar dia.

“Jadi, masalahnya bagaimana masyarakat kita ini harus berubah. Harus ada yang turun ke lapangan, membantu pemerintah mengedukasi masyarakat, mendampingi mereka sampai terbentuk kebiasaan,” imbuhnya.

Proses pengolahan sampah pilahan di Bank Sampah Bersinar, Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (13/8/2024). Foto: Robby Bouceu/kumparan

Kawasan Kabupaten dan Kota Bandung lantas dipilih sebagai wilayah binaan Bank Sampah Bersinar di awal. Fei mengatakan pendekatan ke masyarakat dimulai dengan mendatangi Camat, lalu pengurus kewilayahan di bawahnya hingga tingkat RT.

“Misal RW 01 ada lima RT. Yang tertarik hanya RT 01 dan 02, ya enggak apa-apa. Ya sudah kita jalan dengan RT 01 dan 02. Nanti bertahap kalau ini berhasil RT 03 ikut bergabung,” katanya.

Lebih lanjut, dia menyebut proses pendekatan ke masyarakat melalui banyak tahapan dan panjang. Pada prosesnya masyarakat binaan terus didampingi satu per satu hingga bisa mengelola sampah domestik mereka di bank sampah unit mereka sendiri.

“Setelah didampingi kita harus bentuk pengurus, kita harus latih, dan kita jemput sampahnya (yang sudah dipilah),” ucap dia.

Para warga itu terdaftar sebagai nasabah Bank Sampah Bersinar yang jadi bank sampah induk. Adapun pengumpulan sampah di wilayah mereka, dilakukan di bank sampah unit.

Proses pengolahan sampah pilahan di Bank Sampah Bersinar, Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (13/8/2024). Foto: Robby Bouceu/kumparan

Sampah-sampah yang dikumpulkan warga dan telah dipilah berdasarkan jenis-jenisnya di bank sampah unit, nantinya bisa disetorkan atau dijemput oleh pihak bank sampah induk. Selanjutnya, sampah terpilah akan ditimbang, lalu dikonversi menjadi uang atau saldo e-wallet sesuai berat dan jenisnya masing-masing.

Fei menyebut semua jenis sampah yang sudah dipilah bisa dikonversi jadi uang. Termasuk sampah plastik, sampah logam, sampah kaca, sampah kain, hingga sampah elektronik.

Proses pengolahan sampah pilahan di Bank Sampah Bersinar, Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (13/8/2024). Foto: Robby Bouceu/kumparan

“Kita ada juga seperti popok bayi. Misalkan kalau dia kumpulkan popok bayi dengan dia memilah sampah juga, dia nanti dapat poin. Nah itu nanti bisa ditukar dengan saldo e-wallet ya untuk sampah popok bayinya,” ungkap Fei.

Adapun untuk menjadi nasabah Bank Sampah Bersinar, orang bisa mengumpulkan anggota 20 orang, lalu mendaftar dengan cara mengunjungi kantor Bank Sampah Bersinar di Jalan Terusan Bojongsoang Nomor 174, Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, atau via online di situs resmi mereka.