Kisah di Balik Nama Sukarno Jadi Jalan di Ibu Kota Turki

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Pertama Indonesia Sukarno. Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Pertama Indonesia Sukarno. Foto: AFP

Pemerintah Turki setuju menganugerahkan nama Proklamator RI, Sukarno, menjadi nama jalan di area ibu kotanya. Tepatnya di depan gedung baru Kedutaan Besar RI di Kota Ankara.

Duta Besar RI untuk Turki, Lalu Muhamad Iqbal, menceritakan detail dari awal diusulkannya ide pemberian nama Sukarno hingga akhirnya disetujui oleh pemerintah Turki.

Menurut Iqbal, ide tersebut bermula dari kesadaran, tak ada simbol kedekatan antara Indonesia dengan Turki. Padahal, kedua negara memiliki hubungan erat, baik secara historis maupun emosional.

“Indonesia dan Turki ini merupakan dua negara yang sangat dekat secara historis, secara emosional. Namun, simbol kedekatan itu kita belum punya. Salah satu yang menjadi simbol kedekatan itu adalah dengan adanya jalan yang menggunakan nama pendiri bangsa masing-masing di kedua ibu kota,” jelas Iqbal kepada kumparan, Kamis (14/10).

Baik Ir Sukarno maupun Mohammad Hatta pernah menulis soal bagaimana kemerdekaan Turki pada 1923 menjadi inspirasi untuk juga bisa memerdekakan Indonesia.

“Dengan dasar inspirasi itu, kita lihat ada keperluan untuk mendorong [penamaan jalan] sebagai simbol penguatan hubungan kedua negara,” lanjutnya.

Semesta seakan berpihak pada KBRI Ankara. Pada 2019, pemerintah RI memutuskan untuk membeli gedung baru di kawasan prestisius Cankaya, kompleks diplomatik yang berlokasi di Ankara.

Presiden ke-1 RI Soekarno. Foto: AFP

“Jadi sebenarnya kita ini lagi membangun gedung baru KBRI Ankara. Jadi gedung yang sekarang ini sudah dibeli dari 1985 dan sudah tidak bisa menampung jumlah staf yang bekerja di KBRI Ankara,” ungkap Iqbal.

“Mumpung gedung kita baru, kita dorong untuk agar jalan di depan gedung baru ini diganti namanya dengan ‘Ahmet Soekarno’. Kita sampaikan usulan itu kepada Wali Kota Ankara.”

KBRI Ankara akhirnya menyampaikan ide tersebut pada awal 2021. Usulan tersebut disambut baik oleh Wali Kota Ankara, Mansur Yavaş. Namun, pihak Turki ingin tindakan ini bersifat resiprokal (saling berbalas). Mereka pun meminta Indonesia untuk juga menamai jalan di Jakarta dengan nama Bapak Bangsa (founding father) Turki.

“Dan kami sampaikan usulan ini kepada Pemprov DKI, kepada Wakil Gubernur. Secara resmi DKI sudah menyatakan kesiapannya untuk membalas pemberian nama yang di Ankara dengan pemberian nama di Jakarta. Dan sudah menyiapkan jalan yang nantinya akan diberikan nama dengan nama pendiri Turki,” ungkapnya.

Kemudian, pada kunjungan Menteri Luar Negeri RI Retno L Marsudi ke Turki pada 12-13 Oktober, pemerintah Turki menyampaikan persetujuan resmi atas penganugerahan nama jalan di KBRI Ankara.

“Menlu Turki menyampaikan secara resmi keputusan pemerintah resmi, khususnya Wali Kota Ankara, untuk memberikan nama ‘Ahmet Soekarno’, menggantikan nama jalan yang sudah ada di depan gedung baru KBRI Ankara,” kata Iqbal.

Saat ini, pemerintah Turki masih belum menginformasikan nama pasti untuk jalan di Jakarta. Tentu, kata Iqbal, nama Bapak Bangsa Turki adalah Mustafa Kemal Attaturk. Namun, untuk nama yang akan digunakan, masih belum dipastikan.

Sukarno-Hatta. Foto: kitlv.nl

Dalam acara “Ngopi Bareng Virtual” bersama KBRI Ankara, Iqbal mengungkapkan satu fakta menarik dari pemberian nama Jalan Ahmet Soekarno ini: sebelum diganti, nama jalan tersebut adalah Jalan Belanda (Dutch Street).

“Sebelum dikasih nama Ahmet Soekarno, ini namanya Jalan Belanda (Dutch Street). Jadi, ini Pak Sukarno kedua kalinya mengusir Belanda,” ujar Iqbal sembari terkekeh.

Mengapa ‘Ahmet Soekarno’, Bukan ‘Soekarno’?

Penyematan nama ‘Ahmet’ pada jalan depan KBRI Ankara ini memiliki latar belakang historis, sejak waktu kemerdekaan Indonesia, tujuh dekade lalu.

“Jadi begini, dulu, sebagaimana kita ketahui, atas saran Mufti Palestina pada saat kita memproklamasikan kemerdekaan kita, dalam rangka untuk mencari pengakuan dari negara-negara Islam di Timur Tengah saat itu, maka upaya yang dilakukan adalah Bung Karno melakukan roadshow ke negara-negara Timur Tengah,” jelasnya.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Sukarno saat itu adalah menggunakan nama Ahmad Sukarno, atau Ahmet Sukarno. Pencantuman nama Ahmad/Ahmet menunjukkan dirinya adalah seorang pemeluk Islam.

“Pak Presiden [Sukarno] berkali-kali menerima penghargaan dari negara-negara itu, dan namanya disebutkan sebagai Ahmad Soekarno atau Ahmet Soekarno,” tambahnya.

Di Turki sendiri, nama ‘Ahmet Soekarno’ lebih akrab di lidah dan telinga publik. Oleh karena itu, diputuskanlah pencantuman nama ‘Ahmet’.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berfoto di Rue Soukarno (Jalan Soekarno) di Rabat saat kunjungan kerja ke Maroko pada 18 April 2018. Foto: Susylo Asmalyah/ANTARA

Kapan Jalan Ahmet Soekarno Diresmikan?

Iqbal mengatakan, tanggal pasti peresmian jalan sang Proklamator itu belum bisa dipastikan.

“Sementara ini, kami memperkirakan gedung [baru KBRI Ankara] akan 100% siap untuk diresmikan dengan jalannya itu, akhir November atau awal Desember. Kalau tanggal belum ada,” pungkas Iqbal.

Tetapi, karena pemerintah Turki sudah menyatakan persetujuan mereka, KBRI Ankara hanya perlu memutuskan kapan nama jalan itu akan di-launching. Barulah setelah itu, Wali Kota Ankara akan mengumumkannya ke publik.

Yang pasti, salah satu pihak pertama yang dikabarkan oleh pemerintah kota adalah pemilik gedung di jalan tersebut.

Dengan ini, Turki menjadi negara keempat di dunia yang memiliki nama sang Proklamator RI. Mesir, Pakistan, dan Maroko telah lebih dulu menamai jalan besar mereka dengan nama Sukarno: Ahmed Sokarno St. di Kairo, Mesir; Soekarno Bazar dan Soekarno Square di Peshawar dan Lahore, Pakistan; serta Rue Soukarno di Rabat, Maroko.

Dasar penganugerahan nama itu pun sama, yaitu atas kekaguman mereka terhadap Sukarno dan hubungan baik antarnegara yang terus bertahan kuat.