Kisah Disabilitas Tanpa Tangan di Kudus Jadi Kuli Bangunan dan Sopir

Kisah inspiratif datang dari disabilitas asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Nor Effendi (26). Effendi, yang kehilangan dua tangan ini masih gigih melanjutkan hidup dan bekerja sebagai kuli bangunan dan sopir.
Nor Effendi tinggal di Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Anak pertama dari tiga bersaudara itu awalnya memiliki kedua tangan. Namun, musibah kecelakaan kerja pada 2018 menyebabkan kedua tangannya diamputasi.
"Pada tahun 2018 saya kesetrum saat sedang bekerja sebagai kuli bangunan di daerah Jawa Barat. Saya mengalami luka bakar dan kedua tangan saya harus diamputasi," katanya saat ditemui kumparan, Kamis (18/6).
Saat itu, ia syok. Tapi dukungan keluarga dan orang-orang terdekatnya membangkitkan mentalnya.
"Apa pun keadaanmu, harus tetap semangat. Itu yang sering disampaikan keluarga untuk memotivasi saya," terangnya
Pemulihan setelah amputasi dilakoni Nor Effendi dalam kurun waktu 2019 sampai 2021. Pada tahun 2021 ia mendaftar pekerjaan sebagai driver ojek online. Akan tetapi dirinya ditolak.
"Akhirnya saya coba nyopir by order karena saya belum ada kerjaan tetap," ujarnya.
Kehilangan dua tangan tak membuatnya kesulitan ketika menyetir mobil. Nor Effendi mantap mengantar kliennya ke mana pun. Mulai dari Kudus, Pati, Tegal, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan kota lainnya.
Pria berusia 26 tahun itu mempraktikkan cara mengendarai mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Sekilas tak berbeda, dengan sisa tangan yang ada Effendi masih bisa menjangkau setir.
Ia juga mampu membuka pintu mobil dengan baik. Kehilangan dua tangannya tak menghambat gerakannya.
"Saya selalu mantap nyopir. Keraguan biasanya memang datang dari customer. Biasanya mereka tanya beneran bisa nyopir, mas?" ujarnya.
Namun, jadi sopir belum bisa diandalkan jadi pegangan hidup. Sebab, orderan datang tak menentu. Itulah yang membuatnya berpikir perlu memiliki pekerjaan lain.
Lalu, ia mencoba menekuni profesi sebagai kuli bangunan.
Keterbatasan ini membuatnya hanya bisa melakukan jenis pekerjaan terbatas seperti; angkat batu bata, membawa ember berisi semen, dan hal lainnya yang tidak terlalu berat. Sedangkan bagian lainnya yang tak bisa dilakukannya, dikerjakan rekannya.
Kehilangan kedua tangan tak dipungkiri membuatnya kesulitan beraktivitas ke luar rumah. Salah satunya tak bisa mengendarai sepeda motor.
Sementara itu untuk aktivitas lainnya seperti makan dan mandi, Nor Effendi sudah terbiasa. Dalam waktu dekat dia berencana untuk merantau ke luar kota untuk bekerja sebagai kuli bangunan. Baginya pekerjaan apa pun akan dikerjakan asalkan dirinya mampu.
"Rencana mau ikut kerja dengan bapak jadi tukang bangunan sebisanya saya. Alasannya daripada di rumah tidak ada pekerjaan yang pasti," imbuhnya.
