Kisah Evan Saksi Kunci Kasus Pembantaian 5 Orang Sekeluarga di Indramayu
·waktu baca 3 menit

Kasus pembantaian 5 orang sekeluarga di Indramayu terungkap salah satunya atas peran Evan (30 tahun), anak buah korban Budi Awaludin (45).
Budi dan 4 anggota keluarganya (kakek, istri, dua anak), dibantai oleh Sobirin alias Ririn alias Irin alias R (35).
Di media sosial, Evan dicurigai sebagai pelaku pembantaian lantaran tetangga melihatnya mengambil mobil pikap milik Budi yang digadaikan.
Ternyata, Evan mengambil mobil itu atas perintah "Budi" lewat pesan WhatsApp.
Nah, yang Evan tidak tahu adalah Budi saat itu sudah dibunuh, dan ponsel Budi sudah dalam penguasaan Sobirin.
Walhasil, Evan menggadaikan mobil itu Rp 14 juta, ditransfer ke rekening DANA atas nama Budi. Alasan "Budi" menggadaikan mobil adalah perlu bayar utang istrinya ke temannya.
"Saya hanya bantu transfer sesuai arahan bos. Saya sendiri enggak tahu ternyata arahan itu dari pelaku, jadi saya merasa dijebak," ujar Evan.
Evan mengenali Sobirin yang pernah bekerja di Bank BJB bersama Budi. "Kalau dekat, tidak tahu," katanya.
Selama sepekan dari Senin (1/9) hingga Senin (8/9), Evan disembunyikan di Polres Indramayu karena polisi khawatir warga Desa Babadan, Kecamatan Sindang, Indramayu, itu dihakimi massa sebelum Sobirin cs tertangkap.
Penjelasan Polda Jabar
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menjelaskan bahwa Evan memang menjalankan perintah "Budi" untuk menggadaikan mobil.
"Peliknya persoalan ini, dan pengalihan kepada Saudara Evan ini, kami sampai 4 kali melakukan Olah TKP," ujar Hendra di Polda Jabar, Selasa (9/9).
"Dan kami sampaikan ada bentuk kerja sama kita dengan Evan juga, yang kita lakukan bersama supaya si tersangka utama itu lengah dan merasa bahwa ini sudah aman," kata Hendra.
Sobirin dan satu orang yang membantunya yakni Priyo (29) ditangkap.
Kapolres Indramayu, AKBP Mochamad Fajar Gemilang, mengatakan penangkapan itu dilakukan sesaat sebelum keduanya melaut menjadi Anak Buah Kapal (ABK).
"Saat itu belum ada keputusan mereka akan tinggal di mana, karena mereka juga paham polisi di mana-mana sedang mencari mereka. Akhirnya setelah mereka pikir tidak dapat kembali menemukan tempat aman, mereka kembali ke Indramayu untuk bekerja sebagai ABK," ujar Fajar di Polda Jabar.
"ABK kapal ini sekali berlayar antara 6 sampai 8 bulan. Jadi mereka sudah memikirkan besok harinya untuk berlayar, namun sebelum mereka bekerja sebagai ABK, kita melakukan penangkapan," kata Fajar.
Korban pembantaian ini adalah Budi sekeluarga, yakni ayah Budi (Sahroni yang sudah berusia 75 tahun), istri Budi (Euis, 40 tahun), dan dua anak Budi yakni Ratu (7 tahun) serta Bela (8 bulan).
Tragedi ini awalnya dikenal sebagai kasus penemuan 5 jasad sekeluarga dalam 1 lubang.
— — —
#JagaIndonesiaLewatFakta kumparan mengajak masyarakat lebih kritis, berperan aktif, bijak, dan berpegang pada fakta dalam menghadapi isu bangsa, dari politik, ekonomi, hingga budaya. Dengan fakta, kita jaga Indonesia bersama.
