Kumparan Logo
Nenek Fatimah, Unjuk rasa di Timika, Papua
Fatimah, nenek berusia 70 tahun nyaris menjadi korban amukan massa anarkis saat unjuk rasa melawan rasisme di Timika, Papua, Rabu (21/8).

Kisah Fatimah, Nenek 70 Tahun Berada di Tengah Kerusuhan Timika

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fatimah, nenek berusia 70 tahun nyaris menjadi korban amukan massa anarkis saat unjuk rasa melawan rasisme di Timika, Papua, Rabu (21/8). Foto: Antara Foto/Sevianto Pakiding
zoom-in-whitePerbesar
Fatimah, nenek berusia 70 tahun nyaris menjadi korban amukan massa anarkis saat unjuk rasa melawan rasisme di Timika, Papua, Rabu (21/8). Foto: Antara Foto/Sevianto Pakiding

Fatimah, seorang nenek berusia 70 tahun panik bukan kepalang saat saat unjuk rasa pecah di Timika, Kabupaten Mimika, Papua, Rabu (21/8).

Fatimah yang telah menjanda setelah suaminya wafat 20 tahun silam, tinggal sebatang kara di sebuah kios berukuran kecil di Jalan Cendrawasih, Timika.

"Saya tinggal sendirian. Anak-anak saya ada di Jawa dan Manado. Saya di sini jualan kue," kata Fatimah, Kamis (22/8).

Kios semi permanen tempat Fatimah berjualan kue hanya berjarak sekitar 200 meter dari Kantor DPRD Mimika, yang pada Rabu siang itu dipadati pengunjuk rasa.

Ketika unjuk rasa berakhir rusuh, sebagian massa berhamburan ke jalan raya menuju arah Kuala Kencana. Mereka melintas di depan kios milik Fatimah sambil melakukan perusakan.

Kios yang sederet dengan tempat Fatimah pun telah disulut api oleh pengunjuk rasa anarkis. Kepulan asap mulai membumbung, Fatimah panik dalam kios sendirian.

"Mereka bakar tadi di (kios) sebelah. Tadi baru pulang jualan, mau salat tiba-tiba sudah ramai di depan," ujar Fatimah sambil tangan dan bibirnya gemetar. Dia trauma.

Beruntung aparat keamanan segera tiba dan mengusir pengunjuk rasa. Kendaraan Water Canon langsung menyemprot kobaran api yang mulai membakar dinding kios.

Omah Fatimah ketakutan, dia panik sambil menangis. Seorang anggota polisi dari Satuan Sabhara Polres Mimika Bripda Tony lalu mengamankan omah Fatimah.

Fatimah mengaku, pengunjuk rasa tidak mengintimidasi atau memukulnya. Ia hanya ketakutan saat orang berlarian, kemudian melihat api mulai membakar kios di sebelahnya.

"Mereka tidak pukul saya, tapi saya panik karena api sudah menyala di sebelah. Kios ini berdempetan," katanya.

Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto mengatakan, kerugian akibat insiden aksi massa tersebut diperkirakan lebih dari Rp 1 miliar. Kerugian terbesar dialami Hotel Grand Mozza, dan sejumlah perkantoran.

"Mobil operasional TNI dan Polri juga dirusak. Kemudian tiga dari aparat terluka, satu anggota TNI dan dua anggota Polri. Alhamdulillah situasi saat ini sudah kondusif," ujar dia.

kumparan post embed