Kisah Giarti Mengais Rezeki di TPA Kudus, Menyulam Asa untuk Masa Depan Anak
·waktu baca 4 menit

Bau menyengat dan lalat berterbangan tak lagi asing bagi Giarti (42). Sejak tiga tahun terakhir, perempuan itu setia menyusuri tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjungrejo, Kudus, demi mengumpulkan rupiah untuk masa depan anak-anaknya.
Saat ditemui kumparan pada Senin (23/2), Giarti sedang mengumpulkan sampah anorganik di TPA Tanjungrejo. Ia membawa karung-karung untuk menyimpan sampah anorganik yang sudah dipilihnya untuk dibawa pulang.
Di sekitar tempatnya memilah sampah, tampak dua unit ekskavator sedang menata tumpukan sampah. Sementara itu, di area jalan sekitar TPA keluar-masuk truk dan bentor pengangkut sampah.
Giarti sehari-harinya memulung di TPA Tanjungrejo. Ia biasanya bekerja mulai pukul 06.00 WIB sampai 12.00 WIB selama bulan Ramadan. Jika tidak dalam bulan Ramadan, ia berangkat agak siang mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB.
Memilih menjadi pemulung dijalaninya lantaran membutuhkan pundi-pundi rupiah guna menyambung kebutuhan hidupnya. Perempuan 42 tahun itu berniat membantu suaminya yang bekerja sebagai tukang kayu.
Giarti dan suaminya memang harus bekerja keras. Terlebih, satu dari dua anaknya masih bersekolah di bangku SMA.
”Alasan pilih memulung ya daripada duduk-duduk di rumah tidak ada penghasilan. Kalau memulung seperti ini bisa dapat uang untuk bayar sekolah anak dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya saat ditemui di TPA Tanjungrejo, Senin (23/2).
Warga asal Desa Tanjungrejo itu biasanya mengepul botol air mineral, cup bekas minuman, kaleng minuman, kardus, dan lainnya yang masih bisa dijual.
”Sampah anorganik ini saya bawa pulang dulu. Kalau sudah 12 hari barulah saya bawa ke pengepul untuk ditukar uang,” ujarnya.
Ia membeberkan, penghasilannya dari memulung rata-rata berkisar Rp 100 ribuan per hari. Setiap uang yang didapat dari mengumpulkan sampah itu ditabungnya.
”Buat kebutuhan sehari-hari, bayar sekolah anak dan bayar kontrakan juga. Alhamdulillah cukup. Saya harus semangat untuk anak-anak,” kata Giarti.
Bekerja di tumpukan sampah sehari-hari tak membuat dirinya khawatir terpapar penyakit. Ia tak khawatir dengan bau sampah yang menyengat. Ia bahkan sudah akrab dengan debu yang kerap berterbangan di area TPA.
”Bau pasti ada, terutama kalau ekskavator sedang mengangkut sampah baunya sangat menyengat. Tetapi saya sudah memakai masker dan sarung tangan,” ucapnya.
”Bagi saya yang terpenting anak bahagia. Doa saya agar anak-anak saya tidak menjadi pemulung,” ujarnya.
Kerja kerasnya di atas tumpukan sampah bisa mengahasilkan dua sepeda motor.
”Alhamdulillah bisa untuk beli motor. Satu Scoopy dan satunya Smash. Motor Smash saya gunakan untuk mengangkut sampah yang sudah saya pilah,” jelasnya.
Keinginan lain Giarti dapat memiliki rumah sehingga ia dan keluarganya tak perlu lagi mengontrak.
Selama tujuh tahun ini, Giarti mengontrak rumah dengan biaya Rp 3 juta setahun. Setiap bulan ia merogoh kantong sebesar Rp 250 ribu untuk membayar kontrakan.
”Saya selalu berkeinginan dapat memiliki rumah yang sederhana untuk tidur,” ucapnya.
Menjadi pemulung juga dirasakan oleh Judi (55), warga Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ia sudah memulung di TPA Tanjungrejo sejak 2004 silam.
Sehari-harinya, ia memulung mulai dari pukul 06.00 WIB sampai 16.00 WIB. Pria yang kini memiliki dua anak itu mencari botol air mineral, plastik, kardus, dan kertas yang masih dapat dijual ke pengepul.
Pekerjaan ini dilakoninya lantaran kedua anaknya masih sekolah. Anak yang paling besar duduk di bangku MTs, sedangkan satunya lagi berstatus sebagai siswa kelas 6 SD.
”Hasil memulung ini bisa saya gunakan untuk membayar sekolah anak dan mencukupi kebutuhan sehari-hari,” katanya saat ditemui di lokasi, Senin (23/2).
Sama halnya dengan Giarti, ia tak takut tertimbun tumpukan sampah di TPA. Ia juga tidak khawatir terpapar penyakit. Perlengkapan kerja seperti celana panjang dan sepatu rutin digunakannya untuk melindungi tubuhnya.
Jerih payahnya terbayar kala pada 2023 silam ia mampu mengambil kredit sepeda motor. Cicilan Rp 630 ribu setiap bulan selama tiga tahun berhasil ia lunasi.
”Alhamdulillah bisa kredit sepeda motor Honda Beat. Ke depannya saya berkeinginan membangun rumah,” imbuhnya.
Sementara itu, Staf Operasional TPA Tanjungrejo, Mufidul Anam, mengungkapkan jumlah pemulung di area TPA Tanjungrejo ada 80 orang. Seluruhnya berasal dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
”Semuanya dari Kudus. Mereka memilih sampah anorganik untuk dijual lagi ke pengepul,” ucapnya.
Ia menyampaikan, puluhan pemulung itu sering memulung ketika jadwal pengiriman sampah anorganik tiba di TPA Tanjungrejo, yakni setiap Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu.
”Mereka memang mengambil sampah anorganik untuk dijual kembali. Biasanya dari TPA, sampah anorganik yang sudah dipilah dikumpulkan dahulu di rumah. Setelah beberapa hari baru dibawa ke pengepul,” imbuhnya.
