Kisah Guru Ngaji di Kampung Pemulung di Makassar

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kisah Mardiana, Pejuang Qur’an dari Kampung Pemulung. Foto: Daarul Quran
zoom-in-whitePerbesar
Kisah Mardiana, Pejuang Qur’an dari Kampung Pemulung. Foto: Daarul Quran

Mardiana sudah bertahun-tahun menjadi guru ngaji di sebuah perkampungan di Makassar, Sulawesi Selatan. Kampung itu bukan kampung biasa, tapi kampung yang warganya sebagian besar menjadi pemulung.

Rumah-rumah di kampung itu hanya terdiri atas bedeng, selain itu juga di setiap sudut dan depan rumah berserakan barang bekas.

Seperti disampaikan PPPA Daarul Qur’an Makassar dalam keterangan persnya, Jumat (12/6), saat mereka membagikan sembako ke perkampungan itu, mereka menemukan ada sosok Mardiana.

Ketika santri PPPA Daarul Quran membagikan sembako mereka sampai di satu rumah. Rumah itu semi permanen dengan juntaian kayu dan seng di bagian atapnya.

Namun rumah itu digunakan sebagai tempat mengaji.

Rumah tersebut adalah milik Mardiana, seorang guru ngaji yang juga bekerja sebagai pemulung. Dibantu suaminya, Mardiana menyediakan fasilitas mengaji ala kadarnya, sekaligus menjadi guru ngaji sukarela untuk anak-anak di sana.

Anaknya juga membantu Mardiana dan suami untuk mengajar Al-Qur'an.

"Meski dengan berbagai keterbatasan, mereka tetap ikhlas dan semangat untuk terus mendakwahkan Al-Qur'an," demikian keterangan Darul Qur'an.

Ruangan kecil di salah satu sudut rumah Mardiana disulap menjadi tempat mengaji untuk anak-anak di kampung pemulung tersebut.

Bagi Mardiana dan keluarganya, dedikasinya menjadi guru ngaji adalah aset akhirat. Sehingga mereka percaya jika Allah belum memberikan balasan atas kebaikannya di dunia, maka di akhiratlah tempat terindah untuk menuai pahala tersebut.

"Dalam pandangan Mardiana pun, berdakwah tak melulu harus mewah. Buktinya, di antara berbagai kekurangan yang mereka miliki namun tetap dapat berbagi ilmu dan pengetahuan agama," tulis Darul Qur'an.

Mengapresiasi perjuangan dakwah Mardiana dan keluarganya, PPPA Daarul Qur'an Makassar memberikan bantuan berupa paket bingkisan, amanah dari para donatur. Paket bingkisan ini diberikan untuk para pejuang Qur'an yang terus mensyiarkan Al-Qur'an bahkan hingga pelosok Nusantara.

Tangis haru menyertai penyaluran kali ini, Mardiana yang tak kuasa menahan air matanya pun meluapkannya tangisannya. Baginya bingkisan tersebut bukan hanya sekadar bantuan semata, namun juga bentuk perhatian PPPA Daarul Qur'an kepada masyarakat pinggiran seperti dirinya.

"Alhamdulillah, Yaa Allah, alhamdulillah," ucap Mardiana diikuti lantunan surat Al-Fatihah untuk para donatur dengan berlinang air mata.

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

*****

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.