Kisah Hafithar: Bocah Kelas 1 SD Mengejar Mimpi Naik KRL dari Tangerang-Klender

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah penumpang KRL bersiap masuk rangkaian KRL Commuter Line di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Rabu (5/11/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah penumpang KRL bersiap masuk rangkaian KRL Commuter Line di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Rabu (5/11/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

Meski baru berusia 8 tahun dan duduk di bangku kelas 1 SD, tekad Hafithar untuk tetap bersekolah di SDN 4 Klender, Jakarta Timur, bikin siapa pun yang dengar ceritanya ikut salut.

Setiap hari, bocah ini berangkat dari rumah kontrakannya di Tangerang menggunakan kereta, tanpa pernah sekalipun mengeluh.

Kepala SDN 4 Klender, Dwiyanti Lestari, mengatakan Hafithar adalah anak yatim. Ayahnya meninggal lima tahun lalu. Usai itu, ia tinggal bersama ibunya di Kampung Sumur, Klender, hingga akhirnya masuk ke SDN 4 Klender.

"Ayahnya sudah meninggal sudah 5 tahun yang lalu, mengontrak di daerah Kampung Sumur," kata Dwiyanti saat ditemui kumparan, Senin (24/11).

Kepala Sekolah SDN 4 Klender, Dwiyanti Lestari, saat ditemui di SDN 4 Klender, Jakarta, Senin (24/11/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Pada September lalu, sang ibu mendapat pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di Tangerang, sehingga keduanya pindah ke sana. Sejak itu, jarak dari rumah ke sekolah otomatis melonjak jauh.

Awalnya, ibunya masih sempat mengantar dan menjemput, tapi rutinitas kerja membuat hal itu tak lagi memungkinkan.

Tetap saja, Hafithar tidak menyerah. Ia bangun sebelum subuh, berangkat sekitar pukul 03.45 WIB, lalu tiba di sekolah sekitar pukul 06.00 sampai 07.00 WIB. Menurut Dwiyanti, Hafithar hampir tidak pernah terlambat.

"Mulai pukul 3.45 WIB atau jam 3 lebih 45 menit berangkat kemudian sampai di sini itu jam 6 atau jam 7 kurang lah paling lambatnya dan memang jarang terlambat, tidak pernah terlambat dan tidak ada mengeluh gitu," ucap dia.

Suasana Stasiun KRL Cawang, Jakarta, Senin (1/9/2025). Foto: Nadia Riso/kumparan

Keberangkatan Hafithar terbilang aman. Ibunya menitipkannya pada sejumlah petugas stasiun. Setiap hari, ia berjalan kaki ke stasiun terdekat, lalu naik KRL, transit di Stasiun Tanah Abang, naik kereta tujuan Bekasi, turun di Stasiun Buaran, dan melanjutkan perjalanan dengan JakLingko.

Pulangnya, ia berangkat dari sekolah pukul 10.00 WIB dan baru tiba di rumah sekitar pukul 12.00 WIB.

Dwiyanti mengatakan semangat Hafithar patut dihargai, terlebih karena tak pernah terdengar ia mengeluh, meski rutinitas perjalanan itu cukup berat untuk anak seusianya.