Kisah Halimah Yacob Nyaris Di-Drop Out karena Jualan Nasi Padang

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Halimah Yacob. (Foto: REUTERS/Edgar Su)
zoom-in-whitePerbesar
Halimah Yacob. (Foto: REUTERS/Edgar Su)

Halimah Yacob ditetapkan sebagai presiden Muslimah-Melayu pertama Singapura. Untuk mencapai posisi ini, jalan Halimah panjang dan berliku. Halimah butuh ketekunan dan keteguhan hati untuk terus belajar di tengah kesulitan ekonomi.

Wanita berusia 63 tahun ini mengaku tidak pernah berhenti menempuh pendidikan. Ada satu kisah yang hampir membuat sekolahnya terhenti. Ketika itu usianya baru 10 tahun, tapi dia hampir saja di-drop out oleh sekolahnya lantaran sering bolos.

Di usia delapan tahun, Halimah telah kehilangan ayahnya, seorang penjaga keamanan. Ibunya menjadi orang tua tunggal, menghidupi lima anaknya dengan berjualan nasi Padang, Halimah adalah anak bungsu.

"Dari usia 10 tahun, kegiatan saya di luar sekolah dihabiskan membantu ibu: Membersihkan, mencuci, merapikan meja, dan melayani pelanggan, dan saya adalah pelayan terbaik," kata Halimah dalam tulisannya di situs pribadinya, seperti dilansir News Channel Asia.

Namun kegiatannya membantu ibunya itu ternyata membuat sekolah terbengkalai. Di kelas 8 dia hampir di-drop out dari Sekolah Wanita China Singapura karena terlalu banyak membolos.

Halimah Yacob. (Foto: Facebook/Halimah Yacob)
zoom-in-whitePerbesar
Halimah Yacob. (Foto: Facebook/Halimah Yacob)

"Saya tidak pernah masuk sekolah untuk waktu yang lama dan akhirnya saya dibawa ke ruang kepala sekolah, dia berkata 'Nak, jika kamu tidak masuk ke sekolah lagi, saya akan mengeluarkanmu'. Itu adalah peringatan terakhir," ujar Halimah.

"Itu adalah salah satu momen paling buruk dalam hidup saya. Tapi saya katakan 'berhenti mengasihani diri sendiri, bangkitlah dan move on'," lanjut Halimah lagi.

Sejak saat itu dia bersikeras akan menyelesaikan sekolahnya dengan baik, mendapatkan pekerjaan untuk membantu ibunya. Tidak hanya tamat SMP, Halimah lulus SMA bahkan hingga ke perguruan tinggi.

Dia lulus fakultas hukum di University of Singapore, lalu mengambil gelar master di bidang hukum di National University of Singapore. Kariernya bermula tahun 1978 di Kongres Serikat Dagang Nasional selama tiga dekade.

Tahun 2001 dia terjun ke dunia politik dengan terpilih sebagai anggota parlemen. Pada tahun 2013, dia menjadi ketua parlemen wanita pertama Singapura. Dan tahun ini, dia akan segera dilantik menjadi presiden Muslimah-Melayu pertama Negeri Singa.

Dari hidup serba susah sebagai pelayan di warung nasi Padang, kini Halimah akan salah satu tokoh utama di Singapura. Dia mengatakan, kemiskinan dan kesulitan hidup yang dialaminya justru membuat dirinya sukses seperti sekarang.

"Kesulitan jangan menjadi penghalang. Saya rasa jika hidup saya mudah, saya tidak akan seperti ini," kata Halimah.

"Karena hidup saya keras, saya belajar banyak hal, saya belajar untuk bertahan hidup," lanjut dia.