Kisah Ibu di Surabaya Rela Jadi Tukang Tambal Ban Truk demi Urus Anak dan Suami
ยทwaktu baca 3 menit

Tangan Siti Aisyah nampak lusuh menghitam. Ia pakai wearpack oranye yang mulai menghitam, karena debu dan kotoran jalanan. Keringat mengucur di sela-sela kerudung melewati pipinya.
Tangannya dengan cekatan melepas baut-baut ban truk, dengan impact wrench di tangannya. Lalu, ban setinggi dadanya itu ia turunkan dari as roda.
Siti kemudian mulai melepas ban truk yang menempel di ring velg menggunakan tire dismantling.
Itulah Siti Aisyah, ibu 5 anak yang setiap harinya bekerja sebagai tambal ban truk di pinggir Jalan Kalianak 55, Surabaya.
Siti mulai membuka lapaknya di pinggir jalan mulai pukul 17.00 WIB hingga 23.00 WIB. Sebab, pada jam itu, ia diperbolehkan untuk membuka jasa tambal ban di pinggir Jalan Kalianak.
Wanita asal Karawang ini harus melakoni pekerjaan ini karena untuk menopang kehidupan keluarganya. Sebab, kondisi suaminya kini tak bisa melakukan pekerjaan berat usai mengalami kecelakaan kerja.
"Awal mulanya bantu suami, cuma berhubung misal 1 tahun ini suami saya kecelakaan akhirnya gantian suami yang bantu saja, saya yang kerjanya full. (Kecelakaan kerja) kena ban meledak, (kena) tangan depan tengah-tengah ini," kata Siti saat ditemui di lokasi, Rabu (10/12).
"(Suami) bisa kok cuma tangan satu. Cuma kalau habis kerja itu tangannya yang satu itu kalau orang Jawa bilang kemeng (pegal), karena kan patah," tambah dia.
Siti sendiri sebelumnya bekerja sebagai buruh pabrik. Namun, penghasilannya sebagai buruh pabrik tidak bisa mencukupi keluarga. Sehingga, ia pun mengambil alih profesi suaminya tersebut.
"Kalau kerja pabrik itu waktu saya habis di pabrik. Jadi anak-anak saya enggak keurus. Kalau kerja kayak gini kan saya masih bisa ngurus anak, saya sorenya masih bisa masih bisa kerja. Jadi semuanya masih bisa saya lakuin," ucapnya.
Di samping itu, kata Siti, tidak ada pilihan lain selain menjadi tukang tambal ban truk yang ilmunya diwariskan dari suaminya.
"Yang pertama berat, yang kedua resikonya besar, tapi ya gimana lagi ya kayak enggak ada pilihan lain," katanya.
Siti mengungkapkan, banyak suka-duka yang ia rasakan selama setahun terakhir ini menjadi tukang tambal ban truk. Mulai kebanjiran order tambal ban hingga kesulitan tenaga hingga rasa was-was.
"Sukanya ya kalau kita lagi banyak rezeki itu alhamdulillah anak-anak bisa jajan gitu, bisa nyenengin anak-anak. Kalau dukanya banyak, kalau lagi ban lengket, kadang 1 jam enggak bisa terbuka. Kalau lagi ban jelek, disuruh pasang gitu kan kayak uji nyali gitu kan," ungkapnya.
Setiap satu ban truk yang ditambal, ia mematok tarif sebesar Rp 50 ribu. Siti juga menerima jasa panggilan tambal ban selama suaminya bisa mengantarkannya ke tempat tujuan.
"Satu hari kalau lagi panggilan itu lumayan. Panggilan itu kayak saya datang ke tempat orang misalkan orangnya telepon ada pengerjaan sekian ban misalkan ada 10, 15 itu alhamdulillah lumayan," ujar dia.
"Cuma kalau di jalan ini saya yang buka lapak di Kalianak 55 ya enggak seberapa. Paling dapat empat, kadang lima, tiga pernah, enggak dapat juga pernah," lanjutnya.
Siti berharap, pekerjaannya saat ini bisa terus mencukupi keluarganya dan bercita-cita membelikan hunian kepada orang tuanya di Karawang.
"Harapan saya anak-anak saya suatu saat nanti bisa mendapatkan hidup yang lebih baik. Jadi kayak semua kesulitan yang kami alami saat ini tidak dialami oleh anak-anak saya. Cuma kalau cita-citanya pengin beli rumah buat ibu di kampung," katanya.
