Kisah Ibu Penjual Gorengan di Medan: Panik Tak Punya Uang, Anak DBD & Tifus
·waktu baca 2 menit

Halimah (43 tahun), seorang penjual gorengan di Kota Medan, menceritakan betapa sulitnya memasukkan anaknya, berinisial JJ, ke rumah sakit.
JJ sudah demam tinggi selama 3 hari lalu dibawa oleh Halimah ke Puskesmas. JJ pun dirawat selama 2 hari. Namun, ternyata BPJS miliknya sudah tidak aktif sehingga ia harus membayar Rp 1,8 juta.
"Sudah tak ada lagi uang. Itu pun uang Rp 1,8 juta saya utang sana-sini. Karena saya enggak punya uang, saya bawa pulang anak, meskipun dilarang dokter," ujar Halimah, di RS Madani, Selasa (11/7), sebagaimana dalam siaran pers yang diterima kumparan.
Usai dibawa pulang, ternyata kondisi JJ semakin memburuk. Halimah pun membawa anaknya ke klinik. Pihak klinik mengatakan, bahwa JJ sudah komplikasi yakni demam berdarah dengue (DBD) stadium 4, infeksi usus, dan tifus kronis.
Halimah pun memutuskan untuk membawa JJ ke rumah sakit dengan program berobat dengan menunjukkan KTP.
"Semula ditolak karena nama anak saya JJ tidak ada di Kartu Keluarga karena JJ anak dari suami pertama saya," jelasnya.
Mendapat penolakan itu, Halimah hanya pasrah dan meminta pertolongan kepada temannya. Mendengar itu, temannya pun mengadukan kepada anaknya yang bernama Reza yang kuliah di Jakarta.
Tanpa pikir panjang, Reza langsung menghubungi Wali Kota Medan, Bobby Nasution, melalui akun Instagramnya untuk meminta bantuan.
Bobby Langsung Perintahkan
Bobby pun langsung merespons. Aparat pemerintah setempat dikerahkan membawa JJ ke RS Madani Kota Medan.
"Alhamdulillah, kepala lingkungan membawa saya ke sini (RS Madani). Terima kasih Pak Bobby, tolong bantu anak saya," kata Halimah.
"Saya hanya penjual gorengan, saya enggak punya saudara. Tolong anak saya sampai kesembuhannya," ujar Halimah.
