Kisah Joko di Sleman 10 Tahun Pakai Kompor hingga Lampu dari Biogas Kotoran Sapi

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kisah Joko di Sleman 10 Tahun Pakai Kompor hingga Lampu dari Biogas Kotoran Sapi
zoom-in-whitePerbesar

Joko Pitoyo (68 tahun) tak pernah khawatir ketika listrik padam. Ia juga tak khawatir kehabisan gas LPG.

Warga Dukuh RT 03 RW 21, Pandowoharjo, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman, ini selama 10 tahun terakhir menggunakan biogas dari kotoran sapi.

Bahan biogas berasal dari empat ternak sapinya. Tahi sapi diubah menjadi energi terbarukan, mulai untuk memasak hingga menerangi lampu.

Joko menunjukkan hasil api dari kompor biogasnya. Warna apinya biru. Jika kondisi biogas penuh, nyala api lebih optimal.

"Kalau normal, rebus air lima menit sudah mendidih," kata Joko ditemui di rumahnya, Rabu (10/12).

Meski masih tetap menggunakan kompor dan listrik konvensional, keberadaan biogas di rumahnya secara ekonomi membuatnya lebih hemat.

"Awalnya begini, jadi adik saya itu pelihara sapi perah. Kemudian dari Pertamina itu dibuatkan reaktor biogas. Berselang berjalan kurang lebih 1 tahun. Kok setelah itu mangkrak. Berhenti," cerita Joko.

Selang beberapa waktu, Joko mendapatkan tawaran dari sebuah koperasi apakah mau mengembangkan kembali biogas. Jika iya, maka akan dibantu.

"Terus saya coba untuk membuat di belakang ini ya. Awalnya saya mengambil kotoran (sapi) dari tempat adik. Itu kapasitasnya itu 3 meter kubik, cuma kecil saja skala rumah tangga ya (biogasnya)," katanya.

Biogas kapasitas tiga meter kubik itu biayanya Rp 12 juta.

"Mandiri itu biayanya. Itu ya komplit itu, termasuk kompornya itu sudah sedia," jelasnya.

Kala itu, setiap pagi Joko mengambil kotoran sapi dua sampai tiga angkong atau lancia. Setelah kapasitas tiga meter kubik terpenuhi, Joko menunggu satu minggu dan setelah itu biogas bisa dimanfaatkan.

"Menunggu penuhnya kubah itu selama kurang lebih 1 minggu bisa dimanfaatkan, sudah keluar gasnya dan bisa dimanfaatkan untuk kompor, kompor gas," katanya.

"(Kalau) lampu-lampu penerangan, jadi kerjanya seperti lampu petromax itu. Kemudian bahan bakunya dari biogas. Jadi nyalanya juga terang gitu," imbuhnya.

Sehingga ketika tetangganya mati listrik, rumah Joko masih terang.

"Juga sebuah keuntungan itu, keuntungan ketika harga LPG naik saya enggak terlalu repot gitu ya. Enggak terlalu berpengaruh gitu karena menggunakan biogas gitu," jelasnya.

Beli Sapi Sendiri

Berjalannya waktu, Joko bisa membeli sapi sendiri. Praktis empat sapinya sudah bisa mencukupi bahan baku untuk biogas. Dia mengisi kotoran sapi dua hari sekali.

"Sudah bisa untuk mencukupi sendiri berarti sudah tidak mengambil tempatnya adik lagi. Kemudian saya ngisinya ya ini sambil membersihkan kandang sambil saya masukkan situ. Itu ya sampai sekarang itu masih," katanya.

Biogas ini dia gunakan untuk sehari-hari seperti masak dan merebus air. Sementara lampu hanya insidental ketika mati listrik saja.

"Tapi untuk belakangan ini ada kendala. Sebenarnya waktu dulu itu masih bisa normal itu jadi residunya itu keluar sendiri gitu kan. Jadi ada tekanan gas di situ itu kemudian bisa keluar sendiri. Tapi setelah saya pelajari itu ternyata keraknya itu di atas. Nah itu menutup mengurangi volume kubahnya itu. Sehingga gasnya tidak maksimal," katanya.

Aman Digunakan

Joko mengatakan biogas ini aman digunakan karena yang dihasilkan gas metana.

"Termasuk low gas, LPG kan high gas. Jadi tidak terlalu berbahaya, belum terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan," bebernya.

Selama ini baru satu rumah yang menggunakan biogas. Tetangga maupun saudara Joko masih belum tertarik.

"Jadi seandainya mau nyambung bisa, cuma membelikan selang aja," katanya.

Selain energi yang dihasilkan, keuntungan juga didapat dari residu cair yang bisa digunakan untuk tanaman.

"Sementara ini cukup menguntungkan, residu cair bisa langsung buat tanaman-tanaman," jelasnya.

"Kurang lebih sudah berjalan 10 tahunan (menggunakan biogas). Gas 3 kilogram untuk cadangan. Menghemat jelas," katanya.