Kisah Kakek Bambang Jualan Donat Rp 2 Ribu di Yogya demi Mencari Berkah

Sebuah sepeda motor Honda Supra X tua terparkir di sisi timur Jalan Timoho, Kota Yogyakarta, tepatnya di sudut utara kampus STPMD "APMD" Yogyakarta.
Tampak sebuah kontainer atau wadah makanan 'membonceng' di jok belakang motor bebek berkelir biru itu. Papan putih tertulis "Donat 2.000" terlihat mencolok jadi penanda pemiliknya sedang berniaga.
Di samping motor, seorang kakek berkopiah hitam tengah duduk. Senyumnya merekah setiap pembeli datang. Tak hanya ramah, ia juga akrab dengan pembeli yang datang. Sosok itu adalah Bambang Sumarso, seorang kakek berusia 73 tahun.
Bagi Bambang, berjualan tidak melulu soal keuntungan. Dia mencoba mencari keberkahan, berharap bisa membantu mahasiswa yang kelaparan dengan donat murahnya. Donat itu dibuat sang istri di sebuah rumah kontrakan di Baturetno, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul.
"Yang bikin nyonya (istri), nyonya jam 8 kan sudah kerja di laundry sampai jam 6 sore," kata Bambang ditemui di sela-sela aktivitas jualannya, Rabu (14/10).
Bambang mengatakan, ia dan istrinya sepakat untuk menjual donat ini dengan harga yang terjangkau. Dia dan istrinya ingin membantu orang-orang, terutama mahasiswa perantauan.
"Dan harganya jangan yang mahal-mahal. Yang minimalis saja, masyarakat mampu, jadi (menyesuaikan) kemampuan untuk masyarakat, pelajar utamanya, mahasiswa bisa. Jangan yang muluk-muluk," bebernya.
Mencari Berkah
Meski harga yang ditawarkan murah, Bambang mengaku masih untung. Setiap hari dia membawa 100 buah donat. Malah, terkadang ada saja orang yang memborong dagangannya.
"Masing-masing pasti punya untung. Wis tidak usah terlalu ngoyo (mengejar untung). Kasarannya bisa untuk perekonomian, sudah jalan. Saya nggak pernah naik (harga donatnya)," katanya.
Bambang di masa muda pernah bekerja di pabrik keramik di Surabaya. Dia kemudian bekerja di bidang budi daya tanaman hingga pensiun.
Salah satu alasannya menjual dagangan murah karena dia tahu rasanya kelaparan saat muda dahulu.
"Cari barokah dari Allah," katanya.
Bahkan saking akrabnya, banyak mahasiswa yang meminta doa kepadanya. Misal ketika hendak menghadapi ujian maupun skripsi.
"Saya tanya muslimah atau nasrani, kan beda doanya," ujarnya tertawa.
Ingin Tetap Mandiri
Oleh sang anak, sebenarnya Bambang sudah diminta untuk tidak bekerja dan hanya mengantar jemput cucu sekolah.
"Saya nggak senang kalau ngganggur, selama masih dikasih kesehatan. Nanti menyalahi Ilaihi," katanya.
"Dulu pernah sama anak saya, tugas saya cuma antar jemput cucu, satu bulan kemudian saya opname di rumah sakit satu minggu. (Kerja gini) malah sehat," pungkasnya.
Bagi Bambang, pekerjaan ini adalah ibadah. Omzet Rp 150 ribu yang rata-rata dia dapatkan tiap hari lebih dari cukup. Dengan uang itu, ia bisa mengisi bensin motor kesayangannya dan membeli bahan baku donat untuk dijual keesokan harinya. Kembali mencari berkah dari yang ia bantu.
