Kisah Kakek Hartono: Usaha Sablon Sepi, Bangkit Lewat 'Tripleks' Hewan Terbang

Di sebuah rumah sederhana di Semaki Gede, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Hartono sibuk merangkai senar pada selembar tripleks yang telah diwarnainya. Dengan telaten, pria berusia 66 tahun itu merakit kerajinan berbentuk aneka satwa yang bisa bergerak menyerupai hewan terbang.
Terik matahari Yogyakarta tak mengusik konsentrasinya. Dua tahun terakhir, Hartono menekuni kerajinan tersebut setelah usaha sablon dan papan nama yang dirintisnya mulai sepi pesanan.
Rambutnya telah memutih, tetapi semangatnya untuk berkarya tetap menyala.
Hartono mengawali perjalanan usahanya setelah lulus dari Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI), sekolah menengah seni di Yogyakarta. Ia merintis usaha sablon yang sempat berjaya hingga era 2000-an.
Namun, kemunculan teknologi digital printing perlahan menggerus usaha sablon manual. Banyak rekan seangkatannya yang menjalankan usaha serupa terpaksa gulung tikar.
Hartono tak menyerah. Ketika pesanan sablon menurun, ia beralih membuat papan nama, termasuk huruf timbul dari tripleks. Namun, usaha tersebut juga semakin sepi.
Pada 2024, ia mencoba membuat kerajinan berbentuk hewan dari tripleks. Berbekal keterampilan mengolah bahan dan membentuk huruf, Hartono mulai membuat kupu-kupu dan lebah.
"Awalnya kan saya buka sablon dan percetakan. Terus karena sablon itu sepi, terus saya beralih profesi ke papan nama. Papan nama, terus huruf-huruf timbul dari tripleks itu," kata Hartono saat ditemui di rumahnya, Selasa (13/10).
"Rekan-rekan saya (yang usaha serupa) banyak gulung tikar," kisahnya.
Berinovasi agar Kerajinan Bisa Bergerak
Pada awalnya, kerajinan buatan Hartono hanya berbentuk gambar hewan tanpa gerakan. Ia kemudian mencari cara agar karya tersebut terlihat lebih hidup.
"Nyoba bikin binatang lebah, kupu-kupu. Awalnya cuma gini aja (tidak bergerak). Ini proses pembuatannya sama kayak bikin huruf. Cuma ini berbentuk gambar," katanya.
Hartono lalu berinovasi dengan menambahkan kawat dan senar agar bagian sayap dapat bergerak. Ia ingin membuat kerajinan yang seolah-olah bisa terbang ketika tertiup angin atau saat talinya ditarik.
"Terus saya pikir kalau gini doang kan benda kayak benda mati. Terus saya pikir bagaimana kalau setelah ini benda ini bisa terbang, seolah-olah terbang itu," ceritanya.
"Terus akhirnya ini saya belah jadi dua, saya potong, potong gini, kemudian saya kasih tali seperti ini," katanya.
Setelah membuat kupu-kupu, Hartono mengembangkan karyanya menjadi berbagai bentuk hewan lain, mulai dari lebah, burung, lumba-lumba, hingga kuda terbang.
Dari Hiasan Rumah Jadi Mainan Anak
Hartono awalnya membuat kerajinan tersebut sebagai pajangan rumah dan sarana hiburan bagi orang dewasa, termasuk lansia. Namun, ia tak menyangka anak-anak justru banyak tertarik dan menjadikannya mainan.
"Sebenarnya ini bukan mainan anak-anak, gitu ya, mainannya dewasa, (buat di) rumah-rumah, buat lansia, healing-healing gitu, tapi ngertinya (buat) anak-anak," katanya.
Hartono memberi nama usahanya Hartono Handicraft. Dalam sehari, ia mampu menghasilkan tiga hingga empat kerajinan. Setiap produk membutuhkan waktu sekitar tiga jam, mulai dari memotong tripleks, mengecat, hingga merakit bagian-bagiannya.
Ketelitian menjadi hal penting dalam proses pembuatan, terutama untuk memastikan sayap kerajinan dapat bergerak dengan seimbang.
"Paling lama instalasinya. Satu hari (buat) tiga sampai empat. Itu dari motong, cat, sampai ngrakit," katanya.
Hartono menjual kerajinan tersebut seharga Rp 40 ribu per buah. Untuk ukuran jumbo, harganya Rp 60 ribu. Selama ini, ia memasarkan produknya melalui promosi dari mulut ke mulut.
Viral di Media Sosial, Pesanan Bertambah
Belakangan, karya Hartono menarik perhatian setelah seorang content creator mengunggahnya di media sosial. Dampaknya, pesanan mulai berdatangan. Dalam sehari, ia menerima sembilan pesanan.
Hartono terkejut dengan ramainya perhatian terhadap karyanya. Ia bahkan tidak mengetahui unggahan tersebut menjadi viral karena tidak memiliki akun TikTok maupun Instagram. Selama ini, ia hanya menggunakan Facebook dan WhatsApp.
"Kemarin di medsos itu jadi ramai banget saya jadi kaget. Saya nggak tahu (kalau viral) saya tidak punya TikTok dan Instagram cuma Facebook dan WA saja," katanya.
Kini, Hartono berencana terus memproduksi kerajinan tersebut. Meski begitu, ia tetap menerima pesanan sablon dan papan nama jika ada pelanggan yang membutuhkan jasanya.
