Kisah Kakek Sunarya, Tukang Pijat Keliling yang Dibayar Seikhlasnya

Sunarya, kakek asal Tasikmalaya, setiap hari ditemani dengan tanda pengenalnya yang terbuat dari kardus, setia menunggu orang yang akan menggunakan jasa pijatnya. Hal itu ia lakukan demi mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Di Masjid Cipaganti, Bandung, ia biasa membuka jasa pijat. Dengan jari jemarinya yang sudah tampak mengeriput, ia masih tetap semangat memijat setiap bagian tubuh pengguna jasanya.
Kisah Kakek Sunarya dibagikan oleh Rhadyan atau pemilik akun Instagram @rhadyan_s, pada Kamis (1/3) lalu. Dalam unggahan tersebut tampak Sunarya yang mengenakan peci berwarna hitam, sedang duduk di depan Masjid, sambil memegang tanda pengenal bertulisan "Terima pijat Bapak Sunarya terima panggilan 081573080091".
Saat dikonfirmasi kumparan (kumparan.com), Sabtu (11/3) Rhadyan mengatakan, kisah tersebut ia dapat dari rekan komunitas sosialnya yang bernama Adi.
Lewat Rhadyan, kumparan kemudian menghubungi Adi, ia mengaku menemui Kakek Sunarya di Masjid Cipaganti pada Selasa (6/3), setelah seseorang memberitahunya via Instagram.
Setiap harinya, Kakek Sunarya harus mengeluarkan uang untuk ongkos menuju tempat biasa ia menunggu pelanggan sebesar Rp 50 ribu.
"Beliau dari tempat tinggalnnya ke Masjid Cipaganti lumayan jauh. Harus naik angkutan umum dua kali. Panggilan lewat telepon jarang, jadi beliau akan selalu mangkal di masjid tersebut," kata Adi saat dihubungi kumparan.
Pria 70 tahun itu diketahui tinggal menumpang di kontrakan anaknya yang sudah berumah tangga dan bekerja sebagai tukang ojek di daerah Ciwastra, Bandung. Istri Kakek Sunarya yang sedang sakit juga ikut tinggal bersamanya.
"Kakek Sunarya bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sebenarnya punya rumah di Tasikmalaya katanya, tetapi ditinggali anaknya. Kemarin saat ngobrol beliau suaranya pelan sekali, ia bilang punya anak tiga," ujar Adi.
Kakek Sunarya siap melayani jasa pijat di Masjid Cipaganti mulai pukul 09.00 WiB hingga 14.00 WIB. Upah yang didapat dari hasil memijat juga tidak menentu. Ia bahkan tak mematok biaya jasa pijitnya. Kakek Sunarya mengaku rela dibayar seikhlasnya.
Jika sedang ramai, ia bisa mengantongi uang sebesar Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu per hari. Namun sebaliknya, jika sepi ia bahkan tidak membawa pulang uang sepeser pun.
"Paling telat pulang habis asar. Orang-orang biasa memberinya upah Rp 20 sampai Rp 100 ribu, seikhlasnya saja," tuturnya.
Menurut Adi, alasan Kakek Sunarya memiih Masjid Cipaganti sebagai lokasi membuka jas pijat karena mengandalkan orang-orang usai salat di masjid tersebut.
"Di masjid itu juga ada saingan tukang pijat. Makanya beliau mengaku jika ada rezeki ingin sekali membuka usaha warung kecil-kecilan di kampung halamannya, Tasikmalaya Jawa Barat," katanya.
Mengetahui kondisi tersebut, Adi bersama rekan komunitas sosialnya berencana untuk melakukan penggalangan dana, demi membantu mewujudkan impian Kakek Sunarya dan istri.
"Insyaallah kita semampunya akan bantu. Kami juga mencantumkan nomor rekening dalam unggahan, siapa tahu ada teman-teman yang juga tergerak hatinya untuk ikut membantu," tutup Adi.
Hingga saat ini, unggahan @rhadyan_s sudah dibagikan ulang oleh warganet lainnya dan banyak mendapat komentar positif.
