Kisah Laysa Latifah, Atlet Catur DKI Peraih Medali Emas Terbanyak di POMNAS 2025

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Laysa Latifah (20), Atlet Catur peraih medali emas terbanyak di POMNAS XIX Jateng, saat ditemui di Gedung Dinas Olahraga DKI Jakarta, Jumat (8/5/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Laysa Latifah (20), Atlet Catur peraih medali emas terbanyak di POMNAS XIX Jateng, saat ditemui di Gedung Dinas Olahraga DKI Jakarta, Jumat (8/5/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Laysa Latifah sukses memborong lima medali emas pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) ke-19 di Semarang dan Solo, Provinsi Jawa Tengah, menjadikannya atlet peraih emas terbanyak dari kontingen DKI Jakarta di ajang tersebut.

Atas prestasi itu, mahasiswi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berusia 20 tahun ini pulang membawa bonus penghargaan senilai Rp 132 juta dari Pemprov DKI Jakarta.

Hari ini, Jumat (8/5), Laysa baru saja menerima penghargaan secara simbolis dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Saat ditanya soal rahasia di balik tumpukan medalinya, ia menjawab tanpa basa-basi.

“Rahasianya pasti latihan. Terus juga banyak latih tanding. Kalau catur itu emang dia nggak instan ya, jadi emang harus dibentuk dari latih tanding dan juga latihan. Karena kalau misalkan cuma latihan doang nggak latih tanding tuh nggak bisa,” ujarnya saat ditemui di Gedung Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, yang baru saja diresmikan Pramono.

Ia merasa beruntung menjadi bagian dari kontingen DKI Jakarta. Menurutnya, fasilitas dan intensitas try out yang diterima atlet DKI jauh lebih baik dibanding provinsi lain.

“Bisa dibilang saya juga dapat privilege sebagai atlet DKI Jakarta ini, karena dibanding teman-teman saya yang lain di provinsi lain itu try out-nya lebih dikit dibandingkan DKI Jakarta. Fasilitas dari DKI Jakarta ini bisa dibilang lebih unggul daripada provinsi lain,” katanya.

Terinspirasi Sang Ayah

Perjalanan Laysa ke dunia catur bermula dari rumah. Ayahnya penggemar catur meski tidak pernah bertanding. Kakaknya, yang kemudian mewarisi kecintaan itu adalah seorang juara dari ajang kompetisi bergengsi.

“Awalnya itu saya ikut kakak. Jadi bapak saya ini suka catur, tapi bukan atlet. Nah, habis itu akhirnya kakak saya ini juga main catur. Kakak saya itu juga sempat juara SEA Games, juara PON,” ceritanya.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, saat memberikan penghargaan pada Atlet, Pelatih dan Asisten Pelatih perish medali di POMNAS XIX Jateng, di Gedung Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi DKI Jakarta, Jumat (8/5). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Yang membuat Laysa tergoda bukan semata trofi prestasi, tapi juga kemandirian.

“Dari situ saya pengin juga ikutan karena saya melihat kakak saya itu bisa beli barang-barang sesuai kemauan dia dari uang sendiri,” ujarnya, tertawa kecil.

Juara Kejurnas Usia 8 Tahun

Laysa mulai mengenal catur sejak usia 4-5 tahun. Tapi fokus serius baru datang ketika ia menjuarai Kejurnas pertama kalinya.

“Untuk fokusnya mungkin pertama kali juara Kejurnas itu umur 8 tahun,” katanya.

Sempat mencoba badminton karena postur tubuhnya yang tinggi, ia akhirnya kembali ke papan catur.

“Sempat nyoba badminton cuma emangnya kurang suka, jadi saya lebih suka catur. Ya sampai sekarang gitu berlanjut,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, dirinya adalah satu dari tiga bersaudara perempuan di keluarganya, kedua saudarinya pun gemar bermain catur.

Banyak orang mengira catur cukup dengan hafalan strategi. Laysa tidak sepenuhnya setuju.

“Kalau tipsnya mungkin lebih banyak berpikir sebelum melangkah ya pastinya. Kadang kalau awam-awam gitu yang amatir mereka tuh suka jalannya cepet-cepet aja gitu tanpa dipikir dulu,” katanya.

Mental Sangat Penting

Di level kompetisi tinggi, kata Laysa, tekanan datang bukan hanya dari posisi bidak di papan. Lawan pun bisa jadi sumber intimidasi tersendiri.

“Kadang kan lawannya itu ada yang rupanya serem atau kayak sengak gitu-gitu kan. Nah, dari saya itu kayak lebih sabar, lebih menjaga mental juga karena kalau di catur mentality itu sangat penting juga,” ujar Laysa.

Laysa Latifah (20), Atlet Catur peraih medali emas terbanyak di POMNAS XIX Jateng, saat ditemui di Gedung Dinas Olahraga DKI Jakarta, Jumat (8/5/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Mental sekuat itulah yang membawanya melintasi berbagai panggung. Satu emas di SEA Games Thailand, tiga emas di PON, juara Asia Under 18, hingga sejumlah gelar best woman di turnamen terbuka internasional.

“Kemarin itu alhamdulillah di SEA Games Thailand juga dapet satu emas karena saya cuma main di satu cabang nomor. Terus yang kemarin itu ya multi-event lagi ya berarti PON tiga emas. Sempat juga juara Asia Under 18. Ya dan juga kadang suka best woman di beberapa open turnamen kayak gitu,” ungkapnya.

Mahasiswi UNJ FE

Di luar arena, Laysa adalah mahasiswi UNJ Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen yang masih punya tanggung jawab akademik.

“Tapi saya tetap masih latihan-latihan juga membagi waktu. Yang penting dua-duanya tuh jalan aja gitu lho. Dan juga yang menurut saya walaupun lebih fokus ke catur saya udah cukuplah menjalankan tugas saya sebagai mahasiswi ini,” katanya santai.

Untuk persiapan ke depan pun ia tidak berubah, tetap rutin, tetap konsisten ungkapnya.

“Kalau persiapan sih setiap hari itu pasti latihan sendiri. Jadi mungkin kalau misalkan sudah mendekati itu lebih diperbanyak latih tanding juga, terus ya lebih fokus aja gitu,” ujarnya.

Di balik semua pencapaiannya itu, Laysa punya keinginan yang sederhana. Ia ingin catur, olahraga yang masih sering dianggap sebelah mata, mendapat tempat yang lebih layak.

“Catur ini kan bukan olahraga yang populer ya, jadi penginnya sih lebih diperhatikan. Terus mungkin bisa dibuat kayak turnamen-turnamen internasional untuk cabor catur kayak gitu,” ujarnya.

Dan untuk Jakarta, kota yang membesarkannya sebagai atlet, gadis itu menitipkan satu mimpi besarnya.

“Harapannya semoga DKI Jakarta ini bisa balik lagi ke PON ini bisa juara umum, karena bisa dibilang udah lumayan lama ya kita nggak juara umum gitu,” pungkasnya.