Kisah Mahasiswa Gaza Raih Gelar Doktor di Universitas Airlangga

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kisah Mahasiswa Gaza Lulus di Unair (Foto: Dok. Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Kisah Mahasiswa Gaza Lulus di Unair (Foto: Dok. Istimewa)

Wajah sumringah terpancar dari sosok Ahmed Muhammad Omar Al-Madani, Mahasiswa asal Gaza, Palestina usai meraih gelar Doktor bidang sosial dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga Surabaya. Kelegaan timbul setelah dirinya menjalani ujian doktor terbuka di kampus setempat, Senin (16/7).

Saat ditemui kumparan, Selasa (17/7), pria yang akrab disapa Ahmed merasa bersyukur berhasil menyelesaikan studinya meski sempat diwarnai berbagai ujian. Yang dimaksud adalah ujian yang berada di luar urusan akademis.

"Alhamdulillah. Perjuangan kami menyelesaikan studi selesai. Tapi tidak sampai di sini kita akan belajar," ujarnya.

Ahmed mengungkapkan, dirinya lulus dari S3 Ilmu Sosial FISIP Unair setelah desartasinya berjudul "Hamas and Iran :A Strategy Alliance Bettwen A State and A Non State Actor" diluluskan penguji dengan predikat sangat memuaskan dan menjadi doktor ke-214.

Dia menjelaskan, dalam disertasinya Ahmed menjabarkan tujuan dari hubungan antara Hamas yang menjadi salah satu faksi di Palestina dan Iran, serta dampak yang ditimbulkan terhadap negara Palestina atas konflik yang terjadi.

Kisah Mahasiswa Gaza Lulus di Unair (Foto: Dok. Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Kisah Mahasiswa Gaza Lulus di Unair (Foto: Dok. Istimewa)

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa Iran membina hubungan dengan Hamas atas dasar agama kepada masyarakat Sunni. Iran dan Hamas juga membatasi hubungan sebatas ranah politik saja," ujarnya.

Ahmed menjadi mahasiswa Unair terhitung sejak November 2013. Studi ditempuh lewat beasiswa unggulan untuk mahasiswa asing yang diberikan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dia mengungkapkan, perjalanan untuk melanjutkan studi di Indonesia sangat tidak mudah. Salah satu kesulitan ialah proses untuk keluar dari negaranya yang sampai saat ini masih terjadi konflik.

"Ujian pertama, seharusnya saya tiba di Indonesia dan melangsungkan kegiatan perkuliahan pada September 2013. Namun, situasi di Palestina membuat saya saya harus tertahan hingga November 2013," tuturnya.

Kisah Mahasiswa Gaza Lulus di Unair (Foto: Dok. Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Kisah Mahasiswa Gaza Lulus di Unair (Foto: Dok. Istimewa)

Ahmed berkisah, bahwa demi keluar dari Gaza, dirinya harus melewati Rafah Border. Rafah Border merupakan pembatas antara Gaza, Palestina dan Mesir yang selalu tertutup dan hanya orang orang tertentu yang bisa mengaksesnya.

Setiap hari Ahmed harus ke Rafah Border untuk melakukan negoisasi agar bisa keluar dan terbang ke Indonesia. Tepat bulan November 2013 setelah negoisasi yang sulit akhirnya Ahmed berhasil melewati Rafah Border dan terbang ke Indonesia.

"Hanya ada dua pilihan, saya tetap tinggal di Gaza dengan situasi yang seperti ini atau aku keluar dari Gaza dan membuat hidupku lebih baik," ceritanya melewati jalan keluar konflik di negaranya.

Dia menambahkan, konflik Gaza bukan hal mudah bagi dirinya. Namun dengan perjuangan dan doa di tengah gempuran suara roket dan desingan peluru, dia bisa. Dia sukses mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu sosial dan berharap gelarnya bisa bermanfaat untuk perjuangan masyarakat Gaza atau Palestina.