Kisah Mahasiswi di Maluku Cari Sinyal hingga ke Bukit Demi Sidang Skripsi Online

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mahasiswa D3 di Maluku sidang skripsi online di atas bukit. Foto: Dok. Mario Josian Kakisina
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa D3 di Maluku sidang skripsi online di atas bukit. Foto: Dok. Mario Josian Kakisina

Kisah seorang mahasiswi D3 di Maluku yang harus naik bukit untuk menjalani sidang skripsi online menjadi sorotan. Cerita itu diunggah oleh Mario Josian Kakisina, seorang warga Kaibobo, Seram Bagian Barat, Maluku, melalui akun Facebooknya, Selasa (4/7).

X post embed

"Salah satu kasus di beta punya kampung Desa Kaibobo, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat. Beta adek sepupu yang mau ujian skripsi harus naik ke puncak gunung biar ujang deng panas toma saja cuma par dapa sinyal untuk ujian skripsi secara online," tulis Mario.

Kepada kumparan, Mario mengatakan, foto yang ada di Facebooknya itu merupakan sepupunya, Megi Seipatiratu. Foto itu diambil pada 2 Juni 2020. Pada saat itu, Megi habis menjalani sidang tugas akhir secara online di sebuah bukit yang berjarak 4 kilometer dari kampungnya Kaibobo, Seram Bagian Barat.

Ilustrasi pendaki gunung Foto: thinkstock

"2 Juni 2020, sepupu saya ujian skripsi di salah satu politeknik kesehatan di Ambon. Saya terharu sekaligus sedih naik gunung dengan baju untuk ujian," ujar Mario, Kamis (16/7).

Ia menambahkan, jaringan internet di kampungnya memang tak ada. Selama pandemi COVID-19, pelajar harus naik ke atas bukit untuk mengikuti pembelajaran secara online.

"Siswa dan mahasiswa naik ke puncak gunung sekitar 3-4 kilometer dari kampung. Sampai daratan tinggi melewati jurang, lembah, untuk mendapatkan jaringan telekomunikasi," tambahnya.

Mario mengatakan, proses sidang tugas akhir Megi berlangsung selama dua jam. Mulai dari presentasi, tanya jawab, hingga masukan untuk perbaikan. Bahkan, penguji dari pihak kampus mengetahui jika Megi harus naik gunung untuk melakukan sidang online.

"Diadang panas, kepentingan diprioritaskan. Di atas gunung juga tak ada tempat berlindung, hanya di bawah pohon," ungkapnya.

Ia menambahkan, semenjak adanya corona, Megi memilih pulang kampung dari Ambon ke Kaibobo. Selain kondisi kesehatan, faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan. Oleh karena itu, mau tak mau, Megi harus naik ke atas bukit untuk kuliah dan melakukan bimbingan online.

Selama ini, Megi kerap cerita soal proses kuliahnya kepada Mario yang saat ini berada di Ambon. Mario juga tengah menyelesaikan studinya di sebuah universitas di Ambon.

"Kalau Meginya di kampung, tidak ada sinyal, kecuali mereka atau keluarga naik ke gunung. Baru ada jaringan," pungkasnya.