Kisah Mak Painah, Lansia Tangguh dengan Semangat Hidup yang Terus Menyala
·waktu baca 2 menit

Di salah satu sudut rumah sederhana Kelurahan Pucangsawit, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Mak Painah (73) keluar menuju area pemakaman. Dari pekerjaan berjualan bunga dan membersihkan makam, ia bisa membesarkan Aditya Herlambang.
Sejak suaminya meninggal, Mak Painah hidup sebatang kara bersama sang anak asuh, Aditya yang ia besarkan sejak bayi.
Penghasilannya tidak menentu. Kadang hanya cukup untuk makan hari itu saja. Kadang lebih sedikit lagi, bahkan tidak sampai Rp10 ribu. Setiap pagi, ia memungut bunga kamboja yang gugur serta membersihkan makam yang dikunjungi peziarah. Pekerjaan yang mungkin terlihat sederhana, tapi dari situlah ia bertahan hidup.
Tapi dari situlah, ia membesarkan Aditya. Awalnya, hanya dititipkan sebentar. Tapi orangtua kandungnya tidak pernah kembali, dan sejak itu Mak Painah mengurus semua kebutuhan hidup Aditya.
“Sudah saya anggap anak sendiri,” ucap Mak Painah dengan senang.
Aditya tumbuh di tengah kehidupan yang serba sederhana. Ia bisa bersekolah, serta terpenuhi kebutuhan lainnya di tengah keterbatasan.
Saat Aditya lulus SMP, Mak Painah sempat bingung. Ia tidak tahu bagaimana harus melanjutkan biaya sekolah anak asuhnya.
“Waktu itu saya benar-benar takut dia tidak bisa sekolah lagi karena saya tidak punya biaya,” katanya.
Kemudian datanglah kabar yang membuatnya lega. Aditya diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta.
“Alhamdulillah saya senang sekali. Sampai nangis karena dia bisa sekolah tanpa biaya, gratis,” ujarnya sambil menahan tangis.
Bagi Mak Painah, Aditya bukan hanya anak asuh. Kehadirannya menjadi alasan untuk tetap bertahan menjalani hidup di usia senja.
Mak Painah merasakan perhatian pemerintah banyak menopang hidupnya. Ia juga menerima bantuan dari Kementerian Sosial dalam Program Keluarga Harapan (PKH), lalu pada 2025, ia berhak menerima bantuan sembako dan Yatim Piatu (YAPI) yang membantu kebutuhan hariannya.
"Saya ingin melihat Aditya tumbuh besar, sekolahnya selesai, dan hidupnya lebih baik dari saya," urai Mak Painah.
Kisah Mak Painah bukan hanya tentang kemiskinan, atau tentang seorang lansia yang bekerja di antara makam. Ini adalah kisah tentang ketangguhan dan harapan hidup.
