Kisah Mantan Anak Punk di Surabaya yang Kini Bisa Naik Haji 2022
ยทwaktu baca 3 menit

Fatchul Supriyanto (33), salah satu jemaah haji embarkasi Surabaya yang tergabung kelompok terbang (kloter) 3, tak pernah menyangka akan menunaikan ibadah haji di usianya yang masih muda.
Mantan anak punk ini, bisa berangkat naik haji karena menjadi ahli waris pengganti bapaknya yang telah wafat setahun lalu.
Fatchul mengatakan, kesempatan ini menjadi cambukan besar bagi dirinya untuk bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Baik dalam hal ibadah maupun hal lainnya.
"Namanya juga usia muda, saya ingin mencari jati diri. Saya ikut bergabung dengan anak punk. Jadi salah pergaulan," ungkap Fatchul Supriyanto, Senin (6/6).
Sejak dirinya dinyatakan sebagai ahli waris pengganti haji, Fatchul mulai mencari kiai dan gus dari pesantren di daerah Kediri untuk memberinya pencerahan.
Akhirnya, dia bertemu dengan salah seorang kiai asal Kediri, Gus Rofik. Dalam perjumpannya, Gus Rofik memberikan motivasi kepada Fatchul dengan kata "Lebih baik menjadi mantan preman, dari ada menjadi mantan ustad".
Pria asal Lamongan ini menuturkan, sempat terbesit ketakutan atas dosa-dosanya di masa muda. "Ya, sempat takut katanya ada balasan pas di Makkah, tapi ya kalau niat kita ingin berubah menjadi baik, kenapa tidak," ujarnya.
Kemudian, dia menceritakan kehidupan di masa lalunya saat menjadi anak punk. Selepas menamatkan pendidikan SLTA, Fatchul bergabung dengan anak-anak punk yang ada di wilayahnya. Namun, saat ini Fatchul adalah anggota TNI yang berdinas di Kabupaten Kediri.
Saat menjadi anak punk, tentu saja orang tuanya tidak tahu. Saat itu, Bapaknya juga sedang bekerja di negeri Jiran Malaysia.
"Waktu itu, bapak ibu saya tidak tahu dengan kehidupan yang saya jalani. Apalagi bapak saya pas jadi TKI di Malaysia," ucapnya.
Lebih lanjut, dia juga menceritakan terjebak di kehidupan negatif, seperti akrab dengan minuman keras. "Kalau minum minuman keras sudah biasa, ninggalin salat ya sudah biasa, namanya juga ikut pergaulan yang ada," ungkapnya.
Meski demikian, ia mengaku tak pernah meninggalkan salat Jumat semasa menjadi anak punk. "Satu kali pun saya enggak pernah meninggalkan salat Jumat, karena itu harga diri seorang laki-laki," ujarnya.
Fatchul melanjutkan, dirinya merasakan kehampaan dalam dunia punk. Kemudian setahun berikutnya ia ikut pamannya berjualan tahu campur Lamongan di Kota Surabaya.
Di kota pahlawan inilah, Fatchul bertemu dengan seorang TNI yang akhirnya mengantarkan ia menjadi seorang abdi negara. Fatchul berharap, melalui perjalanan spiritualnya ini, ia bisa semakin memantapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
"Sebelum terdaftar ahli waris pengganti haji, salat saya masih sering bolong. Kalau sudah capek, ya sudah sering lewat salatnya. Sekarang saya berusaha salat lima waktu tepat waktu," tandas Fatchul.
