Kisah Marpuah, Penjual Kue Geblog Jadi Jemaah Haji Tertua dari Indramayu

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Marpuah (93) penjual geblog merupakan calon Jemaah Haji tertua asal Kabupaten Indramayu, Kamis, (8/5/2025). Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Marpuah (93) penjual geblog merupakan calon Jemaah Haji tertua asal Kabupaten Indramayu, Kamis, (8/5/2025). Foto: kumparan

Marpuah (93), warga Desa Santing, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, tahun ini akhirnya bisa berangkat haji ke Tanah Suci Makkah. Nenek 13 cucu ini berangkat bersama anak pertamanya.

Selama puluhan tahun penjual kue geblog khas Indramayu itu menabung sedikit demi sedikit. Setiap lembar uang yang ditabungkan dari hasil jualan kue, terselip harapan mulia, menjadi tamu Allah.

“Nabungnya tidak tentu, tergantung hasil jualan. Tapi saya tidak pernah menyerah,” ujar Marpuah saat berbincang di kediamannya, Kamis (8/5).

Marpuah (93) penjual geblog merupakan calon Jemaah Haji tertua asal Kabupaten Indramayu, Kamis, (8/5/2025). Foto: kumparan

Setiap hari ia berjalan kaki keliling desa menggendong cepon (bakul bambu) yang berisi dagangannya tersebut.

Aktivitas ini telah dilakoninya sejak muda, sekaligus menjadi sumber nafkah untuk membesarkan enam anaknya.

Dari penghasilan yang pas-pasan, ia menyisihkan Rp 5.000 hingga Rp 15.000 per hari. Uang itu ia kumpulkan di rumah hingga mencapai Rp 500 ribu barulah ia setorkan ke bank melalui bantuan anaknya.

13 Tahun Menanti

Perjuangan Marpuah dimulai sejak mendaftar haji pada 2012. Kini, setelah 13 tahun menanti, Marpuah resmi tergabung dalam Kloter 11 KJT Kabupaten Indramayu.

Ia akan memasuki Asrama Haji Indramayu pada 14 Mei 2025 dan diberangkatkan ke Arab Saudi sehari setelahnya.

“Rasanya senang sekali, sudah nunggu lama,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Sebagai calon jemaah haji tertua di Indramayu, Marpuah telah mempersiapkan segalanya, mulai dari perlengkapan dalam koper hingga menggelar Walimatussafar (syukuran keberangkatan) di rumahnya.

Perjalanan Marpuah tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga simbol harapan bagi banyak orang yang bermimpi menapakkan kaki di Tanah Suci. Walau berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan bukan berarti tidak bisa menunaikan haji.

“Bismillah, semoga selalu sehat,” pungkas Marpuah.