Kisah Marzuni Rawat Asa Bambu Ngentan: Dari Pemuda Pengangguran-Tembus Eropa

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kerajinan lincak bambu di Gentan, Kabupaten Sleman, yang berhasil bawa kerajinan bambu di kampungnya naik kelas hingga tembus pasar Eropa, Kamis (8/10/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kerajinan lincak bambu di Gentan, Kabupaten Sleman, yang berhasil bawa kerajinan bambu di kampungnya naik kelas hingga tembus pasar Eropa, Kamis (8/10/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Dusun Ngentan di Kalurahan Margoagung, Sleman, sejak lama dikenal sebagai riung para pengrajin lincak—bangku panjang tradisional dari bambu. Namun, seiring berjalannya waktu, derit bambu dari tangan-tangan pembuat lincak makin redup sepi pembeli, seiring pudarnya minat generasi muda untuk meneruskan warisan leluhur.

Di tengah kekhawatiran itu, Marzuni (50) memilih pulang. Gelisah melihat tradisi tanah kelahirannya perlahan mati, mantan pekerja sosial ini bertekad memberi "napas baru" bagi bambu Ngentan.

"Ini berawal sekitar 2010-an. Ada kegelisahan karena kondisi pasar lincak banyak mengalami penurunan dari sisi pengrajin maupun output. Anak-anak muda juga mulai tidak tertarik. Saya ingin ada pembaruan tanpa mengambil alih pasar lincak yang sudah ada," ujar Marzuni saat ditemui di rumah produksinya, Kamis (8/10).

Kerajinan lincak bambu di Gentan, Kabupaten Sleman, yang berhasil bawa kerajinan bambu di kampungnya naik kelas hingga tembus pasar Eropa, Kamis (8/10/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Marzuni kemudian merangkul para pemuda desa yang saat itu menganggur untuk merintis usaha bernama Rosse Bambu. Nama ini diambil bukan dari bunga mawar, melainkan dari frasa 'ros' atau ruas-ruas bambu yang saling mengikat.

Kerajinan lincak bambu di Gentan, Kabupaten Sleman, yang berhasil bawa kerajinan bambu di kampungnya naik kelas hingga tembus pasar Eropa, Kamis (8/10/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Di tangan Marzuni dan para pemuda Ngentan, bambu tak lagi sekadar menjadi kursi panjang sederhana. Potongan bambu itu ditransformasi menjadi sofa modern, bambu laminasi berpresisi tinggi, hammock, hingga pernak-pernik seperti tumbler dan wadah belanja.

Keberanian bereksplorasi membawa hasil. Lewat berbagai ajang pameran sejak 2011, Rosse Bambu mulai dilirik pembeli mancanegara. Produk hammock bambu buatan Ngentan resmi menembus pasar Belanda pada 2012, disusul permintaan dari Prancis hingga pasar ekspor Bali dan Solo. Harga produknya pun melesat, mulai dari suvenir seharga Rp 15 ribu hingga set sofa bernilai Rp 8 juta.

Bertahan di Tengah Kelangkaan Bahan dan Ujian Pandemi

Perjalanan mengangkat kelas bambu lokal tak selamanya mulus. Marzuni harus memutar otak ketika bambu tutul khas Sleman kian langka. Demi menjaga rantai produksi, ia berburu bahan baku bambu hitam dan apus hingga ke Kulon Progo, Purworejo, bahkan Pacitan.

Tantangan terberat datang saat pandemi COVID-19 menghantam. Penjualan yang lesu memaksa Marzuni memangkas jumlah pekerjanya dari 15 orang menjadi hanya 6 orang. Sistem kerja pun diubah agar para pengrajin tersisa bisa tetap berbagi rezeki.

"Dulu satu produk bisa dikerjakan berbarengan, sekarang harus berbagi. Dari proses awal sampai finishing dikerjakan berdua agar semua tetap dapat bagian," tuturnya.

Meski tertatih pascapandemi, asa Marzuni tidak pernah padam. Ia terus berjuang memulihkan usahanya demi satu tekad: menjaga riung bambu Dusun Ngentan tetap bernapas dan memberi penghidupan bagi warga sekitar.