Kisah Mba Sarjono Rawat Istri Sakit dari Jual Rongsok di Kudus, Tinggal di Gubuk

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sarjono dan Jumiati tinggal di sebuah gubuk yang berada di atas saluran irigasi, Kamis (24/9/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sarjono dan Jumiati tinggal di sebuah gubuk yang berada di atas saluran irigasi, Kamis (24/9/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Di tepi Jalan Raya Kudus-Pati, Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, riuh bising lalu lintas tak pernah benar-benar menyentuh sunyinya gubuk kayu beratap asbes. Di sanalah, tepat di atas saluran air irigasi, Sarjono (86) dan istrinya, Jumiati (76), merajut hari-hari senja mereka.

Sebuah hunian darurat bertanah merah yang sudah menjadi saksi bisu perjalanan hidup pasangan lansia ini selama satu dekade terakhir.

Langkah kaki ke dalam rumah menyapa petak sempit berukuran 2 x 3 meter. Tak ada kemewahan, hanya dapur dengan peralatan usang tempat Sarjono meniup tungku kayu bakar setiap hari. Kompor gas elpiji adalah barang asing bagi mereka. Saat malam tiba, hangatnya gubuk beratap seng yang kerap bocor digantikan pendar redup lampu bertenaga aki.

Sarjono berada di depan gubuknya yang dibangun di atas saluran irigasi, Kamis (24/9/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Bagi Sarjono dan Jumiati, bertahan hidup berarti menepis rasa takut. Tinggal di atas aliran air kerap membawa tamu tak diundang seperti ular yang menyelinap masuk. Terlebih, Sanjono harus menjadi satu-satunya tumpuan hidup setelah kedua kaki Jumiati tak lagi berdaya akibat sakit-sakitan, memaksanya mengandalkan alat bantu jalan.

Napas Senja dari Barang Bekas

Demi menyambung hidup dan merawat sang istri, Sarjono tak berpangku tangan. Setiap pagi pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, serta lanjut di sore hari, tubuh rentanya menyusuri jalanan mengumpulkan kardus, plastik, dan kertas rongsokan.

Jerih payahnya mengumpulkan rongsokan dari Selasa hingga Sabtu kerap hanya dihargai sekitar Rp 130 ribu sepekan. Angka yang jauh dari kata cukup, namun diusahakan cukup untuk sekadar membeli nasi, tahu, dan tempe.

"Kalau tidak mencari rongsok mau kerja apa? Kami juga butuh makan sehari-hari. Kalau sedang tidak ada uang ya tidak makan," tutur Sarjono lirih.

Sarjono dan Jumiati tinggal di sebuah gubuk yang berada di atas saluran irigasi, Kamis (24/9/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Setiap kebutuhan dasar adalah perjuangan tersendiri. Untuk mandi dan mencuci, Sarjono harus mengangkut sepuluh galon air bersih dari pabrik terdekat. Kendati hidup digencet nestapa, pria renta ini menolak menyerah pada keadaan.

"Prinsip saya, ayam saja bisa makan. Apalagi kita manusia. Hal terpenting mau berusaha," ujarnya menegaskan asa.

Masa tua yang idealnya dihabiskan dengan ketenangan bersama anak dan cucu terpaksa dijalani dalam kepasrahan di gubuk tanpa sertifikat milik desa. Namun, di balik serba keterbatasan itu, Jumiati tetap menyimpannya dalam doa yang paling sederhana.

"Keadaannya ya seperti ini, memilih tinggal di sini karena tidak punya tempat tinggal. Doa kami semoga selalu diberikan kesehatan, bisa melihat anak dan cucu," ucap Jumiati menyimpulkan ikhlasnya.