Kisah Mbah Tiwi, Nenek Sebatang Kara di Yogya Bertahan Hidup dengan Warung Rames
ยทwaktu baca 3 menit

Tangan keriput Sumartiwi (76) dengan telaten memegang gagang sutil. Di atas minyak panas, potongan paha ayam dibolak-balik dengan saksama. Ayam ini digoreng menggunakan tungku dengan sumber api dari arang.
Tubuhnya mulai bungkuk, tangan kirinya harus membantu ketika tangan kanan mengangkat ayam dari penggorengan.
Ini adalah rutinitas Mbah Tiwi, sapaan akrab Sumartiwi, tiap pagi hari. Ia membuka warung sederhana di Jalan Kolonel Sugiono, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta.
Warung rames sederhana ini diberi nama Warung Mbah Tiwi. Nama ini tersemat di gerobak berwarna biru yang telah memudar seiring waktu. Warung ini menjadi sumber penghasilan Mbah Tiwi yang hidup sebatang kara di Kotagede, Yogyakarta.
"Sejak 2001. Waktu gempa, saya pasang tenda di sini, seperti orang kemah," kata Mbah Tiwi mengisahkan warungnya dalam bahasa Jawa krama inggil, Rabu (22/4).
Setiap hari, Mbah Tiwi harus menempuh perjalanan sekitar 4 kilometer dari rumahnya di Kotagede menuju warungnya. Ia mengendarai sepeda onthel. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke warung.
"Berangkat dari rumah jam 07.00, sampai sini jam 08.00. Saya naik sepeda," katanya.
Di perjalanannya, Mbah Tiwi menyempatkan belanja bahan kebutuhan warung, seperti ayam yang dibelinya dari pedagang di pinggir jalan.
Sembari berbincang, Mbah Tiwi menyiapkan sajian lainnya untuk warungnya. Usai menggoreng ayam, ia kemudian mengiris tempe untuk digoreng.
Di tengah proses membuat hidangan tempe goreng, hujan mengguyur Kota Yogyakarta. Mbah Tiwi lalu bergegas ke belakang warung untuk mengambil terpal.
Sesi wawancara sempat terhenti. Kami bersama-sama memasang terpal berkelir biru dan oranye.
Tali rafia di empat ujung terpal ditambatkan ke tiang-tiang di sekitar. Terpal berukuran 2x1 meter itu terpasang, namun air masih bisa masuk karena terdapat lubang di sana-sini.
"Bolong-bolong," katanya.
Setelah terpal terpasang, Mbah Tiwi kembali melanjutkan aktivitasnya. Namun, lubang-lubang di terpal itu membuatnya kebasahan. Ia lalu menuju sepedanya untuk mengambil mantel plastik berwarna merah.
Dengan mengenakan jas hujan, Mbah Tiwi kembali melanjutkan aktivitas memasaknya. Warung ini memang jadi langganan pekerja di toko-toko sekitar.
Di warung ini, biasanya Mbah Tiwi juga menjual aneka minuman saset, aneka lauk seperti telur hingga sayur.
Hidup Sebatang Kara
Mbah Tiwi hidup sebatang kara. Anak semata wayangnya sudah meninggal dunia. Sementara suaminya yang dahulu bersama-sama berjualan di sini telah meninggal dunia saat pandemi COVID-19.
"Jualan di sini sama Mbah Lanang (suami). Di Kotagede saya sendiri di rumah peninggalan orang tua," katanya.
"(Suami) meninggal saat masa Corona," katanya.
Sebelum berjualan pada 2001, Mbah Tiwi sempat bekerja sebagai penjahit.
Berjualan nasi rames ini penghasilannya tak menentu. Namun, Mbah Tiwi selalu mensyukurinya. Baginya yang terpenting bisa membayar listrik, air, dan pajak rumah.
Dalam sebulan, dia harus menyisakan uang Rp 300 ribu untuk listrik dan air.
"Pokoke buat bayar listrik, sama PAM. Sama bayar PBB, pajak rumah tinggalan simbok," katanya.
"(Listrik, Pam) sebulan Rp 300 ribu kembali Rp 10 ribu. Kadang Rp 300 ribu lebih Rp 2 ribu. Pokoknya menyiapkan uang Rp 300 ribu," katanya.
Di tengah keterbatasannya, Mbah Tiwi selalu ramah pada semua orang. Dia tak henti-henti menawarkan gorengannya untuk dibawa pulang secara cuma-cuma.
Mbah Tiwi juga tak henti-hentinya mendoakan setiap orang yang mampir ke warungnya.
