Kisah 'Menyeramkan' Warga soal Fotografer di Jalan: Istri Dipotret Bareng-bareng

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

clock
comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang fotografer memotret Gunung Gede Pangrango yang terlihat dari Jalan HBR Motik, Kemayoran, Jakarta, Kamis (18/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Seorang fotografer memotret Gunung Gede Pangrango yang terlihat dari Jalan HBR Motik, Kemayoran, Jakarta, Kamis (18/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Fenomena fotografer menyemut saat masyarakat berlari atau olahraga di jalan tengah ramai dibincangkan. Salah satu yang mengutarakan keluh kesahnya yakni Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi.

Ismail menyebut situasi ketika ia lari 'menyeramkan'.

Ia bercerita, ketika berlari di sekitar Palembang Icon Mall, banyak fotografer yang mengerubunginya.

"Awalnya saya merasa foto aja silakan, tapi kok lama-lama wajah saya di mana mana. Ini gila banget, ini sampai 15 meter itu ada lagi. Mungkin ini praktik biasa tapi menurut saya berlebihan." katanya pada Selasa (28/10).

Katanya, ia paham bila fotografer itu mengenalnya sehingga mengincar untuk memotretnya.

Sebab, dengan sebuah aplikasi, para fotografer itu bisa memanfaatkan aplikasi khusus dengan Artificial Intelligence (AI) untuk mendeteksi wajah siapa pun, apalagi Ismail cukup dikenal di media sosial.

Namun situasi semakin membuatnya merasa risih karena sudah melibatkan sang istri.

Ismail Fahmi bercerita, saat ajak istrinya, untuk lari bareng, situasi semakin 'menyeramkan'. Para fotografer juga ikut mengerubungi.

"Saya juga minta istri saya lari dulu, difoto. Kayak artis difoto jebret jebret, ini creepy (menyeramkan)," tuturnya.

Ilustrasi persiapan lari marathon. Foto: Shutter Stock

Kata dia, hal-hal seperti ini juga 'mengintimidasinya'. Jadi, awalnya biasa saja, tapi akhirnya jadi pengalaman yang tidak menyenangkan.

Bahaya Penyelinap Mengaku Fotografer

Di sisi lain, Ismail Fahmi mengungkap, ada bahaya lain yang mengintai dari fenomena menyemutnya fotografer di jalanan ini. Yakni situasi dimanfaatkan oleh orang tak bertanggung jawab dengan pikiran kotor.

"Foto bebas menjadi hal yang normal, tapi gak normal di luar negeri. Ada orang niat jahat pakai foto seksi seksi, kita gak tahu niat mereka. Pura pura fotografer, ini ada something wrong," kata dia.

"Bisa jadi bahan fantasi mereka dan sebagainya," ujarnya.

Ismail Fahmi menambahkan, fenomena risih ini tak hanya terjadi di kota besar saja. Di daerah kecil juga demikian.

"Bukan kota besar saja, kabupaten kecil juga gitu. Banyak orang yang risih ke CFD, harus pakai masker, gak nyaman. Tujuan saya adalah lets talk about this, orang mempermudah pekerjaan, tapi ada motivasi yang lain. Di luar negeri gak ada gitu, di Indonesia selalu ada privasi gak ada," urainya.

Harus Ada Aturan

Katanya, harus ada diskusi antara berbagai pihak. Pemerintah pusat maupun daerah juga bisa terlibat untuk menggodok sebuah aturan khusus.

"Ini aspeknya luas, dan organisasi, harus ada pembahasan ini bersama sehingga mewakili fotografer, runner, ini ruang publik. Gimana kalau ini terjadi di Jakarta, ini Pemprov gimana. Kalau nasional di Kominfo, implementasi Ai dan etika dan lain-lain, ini diharmoniskan,' tutupnya.