Kisah Mohammad Natsir akan Dibuat Film
·waktu baca 3 menit

Bertepatan dengan peringatan 117 tahun Mohammad Natsir, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dan Yayasan Kapita Selekta Mohammad Natsir, melakukan kick-off pembuatan film tentang Mohammad Natsir di Jakarta pada Kamis (17/7)
Putri kelima M. Natsir, Aisyatul Asyriah dan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Adian Husaini, secara simbolis memberikan poster film kepada Erick Yusuf, seorang dai kreatif, pimpinan pesantren, dan seniman, untuk menjadi produser eksekutif yang akan memproduksi film tersebut.
M. Natsir, yang bergelar Datuk Sinaro Panjang, merupakan seorang pahlawan nasional, negarawan, ulama, pendidik, dan juga jurnalis. Ketokohan M. Natsir tidak hanya diakui di tingkat nasional namun juga di kancah global.
Ia merupakan salah satu inisiator sekaligus pemimpin Masyumi. Selain itu, ia dikenal sebagai tokoh Islam terkemuka Indonesia. M. Natsir juga pernah menjabat posisi strategis di pemerintahan, yakni sebagai Perdana Menteri Indonesia kelima yang diangkat pada September 1950.
M. Natsir juga pernah mendapat beberapa penghargaan internasional, antara lain Grand Gordon Star dari Raja Tunisia, King Faisal International Prize dari Kerajaan Arab Saudi, gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam Lebanon, gelar kehormatan dalam bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia, dan gelar kehormatan dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Sains Malaysia.
Selain itu, ia juga pernah mengemban amanat sebagai Presiden Liga Muslim Dunia dan Ketua Dewan Masjid se-Dunia.
Jasa terbesar M. Natsir adalah ketika ia sebagai Ketua Fraksi Partai Masyumi berpidato di parlemen Republik Indonesia Serikat pada tanggal 3 April 1950 mengajukan Mosi Integral yang bertujuan mengembalikan negara Republik Indonesia dari bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Mosi tersebut berhasil menyatukan kembali wilayah Indonesia yang sebelumnya terpecah-pecah dalam beberapa negara bagian RIS, dan menjadi tonggak penting dalam sejarah bangsa Indonesia.
Aisyatul Asriah, putri Natsir, menyampaikan bahwa ayahnya tersebut merupakan orang tua, kepala keluarga, dan pelindung keluarga yang luar biasa. Sejak dini, kepada seluruh putra-putrinya ia tanamkan adab dan akhlak yang mulia seperti kerendahan hati, kesederhanaan, kesantunan, dan juga kedisiplinan.
Ketua Umum DDII, Adian Husaini, mengatakan bahwa Natsir bukan hanya brilian dalam gagasan dan pemikirannya tentang konsep-konsep pendidikan, kenegaraan dan kebangsaan, namun yang paling esensial adalah ia juga sangat cemerlang dalam keteladanan baik dari sisi perkataan, sikap, perilaku, hingga perbuatan. Natsir merupakan negarawan, dai, dan guru teladan bagi bangsa.
Erick Yusuf, yang telah diberi mandat oleh DDII dan keluarga Natsir untuk menjadi produser eksekutif film menyatakan bahwa membawa kisah Natsir ke layar lebar bukan perkara mudah. Ini merupakan tugas untuk menjaga akurasi sejarah, menghadirkan nilai dengan estetika, dan juga menyampaikan keteladanan dengan kejujuran.
Dia menyebut, film ini ingin menghadirkan kisah utuh seorang tokoh tentang keikhlasannya dalam berjuang, kesederhanaannya dalam memimpin, dan keberaniannya dalam menegakkan kebenaran meskipun harus menanggung risiko yang besar.
