Kisah Nenek Darwinah, Pedagang Pasar Gembrong yang Terancam Digusur

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Darwinah di pasar Gembrong (Foto: Reki Febrian/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Darwinah di pasar Gembrong (Foto: Reki Febrian/kumparan)

Pasar Gembrong dikenal sebagai sentra pasar mainan di Jakarta. Namun tahukah Anda, kalau di sana juga terdapat pasar tradisional?

Namanya juga sama, Pasar Gembrong, namun pasar ini menjual sembako dan bahan makanan. Letaknya di sebuah gang, tepat di sebelah kiri Jalan Gerbang Tol Pedati, Jakarta Timur.

Pasar ini juga mendapat imbas pembangunan Tol Becakayu. Rencananya akan dibangun sebuah putaran, tepat di atas Pasar Gembrong saat ini beroperasi.

Meski warga sekitar tak menolak relokasi hingga uang kompensasi, namun masih ada beberapa pedagang yang tak ingin dipindah ke lokasi baru. Salah satunya adalah Nenek Darwinah (70) pedagang sayuran di Pasar Tradisional Gembrong.

"Saya dulu yang ikut membangun pasar ini, jangan digusur ya, jangan. Nanti saya mau makan apa," ujar Darwinah ketika ditemui kumparan (kumparan.com) di lapaknya berjualan, Selasa (9/1).

Pasar Tradisional Gembrong  (Foto: Reki Febrian/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pasar Tradisional Gembrong (Foto: Reki Febrian/kumparan)

Nenek Darminah rupanya cukup trauma dengan kata-kata 'gusur', sehingga awalnya dia khawatir ketika didatangi kumparan. Dia mengira kumparan adalah petugas pemerintahan.

"Jangan digusur ya, jangan," ucapnya.

Nenek Darwinah sudah merantau ke Jakarta sejak berumur 7 tahun. Saat itu ia ikut kedua orang tuanya. Ia mengenang, dahulunya wilayah Pasar Gembrong masih merupakan alas (hutan) sehingga ia dan orang tua harus membuka lahan permukiman.

"Saya yang mbabat alas (membuka lahan) di sini, tangan saya dulu sakit sekali, mencabut rumput untuk membuka lahan," kenang Darwinah sembari menunjukkan tangannya yang telah berkerut.

Pasar Tradisional Gembrong  (Foto: Reki Febrian/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pasar Tradisional Gembrong (Foto: Reki Febrian/kumparan)

Darwinah mempunyai 6 orang anak, 3 diantaranya sudah pindah ke Bandung, Tangerang, dan Jawa Tengah. Sementara 3 orang anak dan 3 cucunya yang lain tinggal bersamanya di RW 002 Kelurahan Ciliitan Utara.

"Saya masih punya cucu kecil yang tinggal sama saya. Jangan digusur, kalau dihancurkan saya mau tinggal di mana?," keluhnya dengan mata berkaca-kaca.

Pasar Gembrong Jakarta Timur (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pasar Gembrong Jakarta Timur (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)

Menurut Nenek Darwinah, Pasar Ini dulunya terbentuk secara dadakan. Awalnya warga hanya iseng berjualan di depan rumah masing-masing. Namun lambat laun, karena geliat ekonomi dan lokasinya yang dekat dengan permukiman, membuat pasar ini berkembang.

"Dulu cuma iseng jualan di depan rumah, terus banyak pembeli akhirnya. Dan jadilah melebar jadi pasar seperti ini," jelas Darwinah.

Darwinah sendiri mulai berjualan sejak pukul 02.00 WIB. Namun karena usianya yang sudah lanjut, ia tak lagi mampu berjualan hingga sore hari. Sehingga pukul 12.00 WIB, menantunya, Anisa, datang untuk menggantikanya berjualan.

Di akhir pembicaraan, Nenek Darwinah masih berharap kebaikan hati pengelola tol untuk tak menggusur Pasar Gembrong serta pedagang yang berjualan di sana.

"Kalau bisa jangan digusur, berapa pun kompensasinya, wong saya ini sudah 50 tahun di sini sudah tua enggak kasihan apa," harap Darwinah.

Sudah 50 tahun Nenek Dawrinah berjualan dan menjadi saksi hidup berdirinya Pasar Gembrong. Ketika nanti digusur, dirinya juga akan menjadi saksi matinya pasar tersebut.