Kisah Nenek Euis Berjualan Bunga di Jalan Dago hingga Bisa Umrah ke Tanah Suci
·waktu baca 3 menit

Di balik rangkaian bunga yang tersusun rapi, duduk seorang perempuan sepuh bernama Euis (71). Ia menunggu pembeli sambil menjaga harapan yang dirajutnya setiap hari.
Tangannya yang mulai keriput masih cekatan merapikan pita dan plastik pembungkus. Sesekali ia mengangkat bunga, meniup debu halus yang menempel, lalu menatanya kembali agar tampak lebih menarik.
Bagi Euis, setiap rangkaian bunga bukan sekadar barang dagangan, melainkan simbol perjuangan hidup yang telah ia jalani selama bertahun-tahun.
“Alhamdulillah, dari jualan bunga sama berkebun, ibu sudah bisa umrah,” tuturnya pelan dengan mata berbinar.
Ia tak pernah membayangkan hasil usaha kecil di pinggir jalan mampu mengantarkannya umrah ke Tanah Suci.
Bukan hanya itu. Dari penghasilan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, Euis juga berhasil membangun rumah untuk kelima anaknya. Impian yang dulu terasa mustahil kini berdiri nyata berkat ketekunan yang tak pernah padam.
Perjalanan hidup Euis tak hanya bergantung pada jualan bunga. Di rumah, ia tetap mengolah tanah, menanam tomat dan berbagai sayuran lain. Hasil kebun itu kemudian dijual ke pasar sebagai tambahan penghasilan.
“Hasilnya alhamdulillah juga,” katanya sambil tersenyum.
Suaminya pun turut berjuang di sisi yang sama. Di lokasi tempat Euis berjualan, sang suami menjajakan kopi hangat bagi pengunjung. Kehadiran mereka bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan.
“Biar ibu maju, si bapak juga ikut maju,” ujarnya.
Bunga-bunga yang dijual Euis berasal dari daerah Parongpong. Ia membelinya dalam kondisi sederhana, lalu menghias dan menatanya kembali agar tampak cantik dan layak menjadi hadiah bagi orang tersayang. Buket bunga besar dijual seharga Rp 50 ribu, ukuran kecil Rp 30 ribu, sementara bunga satuan Rp 20 ribu.
Pendapatan yang diterimanya tidak menentu. Pada hari biasa, ia membawa pulang sekitar Rp 70 ribu hingga Rp 300 ribu. Namun pada momen tertentu, rezeki datang lebih deras. Saat Hari Kasih Sayang, misalnya, ia sempat memperoleh hingga Rp 800 ribu dalam sehari.
Menjelang sore, sekitar pukul 15.00 WIN, Euis mulai menggelar dagangannya. Ia bertahan hingga larut malam, bahkan kadang sampai pukul 01.00 dini hari. Waktu panjang di tepi jalan tak pernah ia keluhkan, karena setiap jam yang dilewati adalah peluang untuk mengubah bunga menjadi harapan.
Di tengah hiruk pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur, Euis tetap setia di tempatnya. Ia menyaksikan kendaraan datang dan pergi, pasangan muda memilih bunga, serta malam yang perlahan berganti dini hari.
Di bawah lampu jalan Dago, Euis tak sekadar menjual bunga. Ia merangkai kisah tentang ketabahan, cinta keluarga, dan keyakinan bahwa kerja keras, betapa pun sederhana, dapat mengubah hidup menjadi lebih bermakna.
