Kisah Nenek Jumaria, Wajah Haji Indonesia di Layanan Makkah Route Saudi
ยทwaktu baca 3 menit

Senyumnya begitu damai. Kerutan wajahnya menjadi saksi bisu perjalanan panjang seorang Jumaria bisa berada di Tanah Suci.
Nenek berusia hampir 70 tahun ini merupakan salah satu jemaah haji Indonesia 2026. Ia perlu menabung puluhan tahun, uang hasil berkebun, untuk bisa berhaji.
Dengan suara pelan, Jumaria mengenang rutinitasnya sehari-hari mengumpulkan pundi-pundi untuk berhaji. Sejak pagi buta ia sudah berangkat ke sawah, membawa bekal seadanya demi menyambung hidup dan menabung.
"Kerja di sawah. Kalau pagi jam 6 pergi, bawa air setengah liter. Habis itu pulang. Pulang mandi, sudah mandi, makan. Sudah makan, tidur sedikit, baru salat," ujarnya di Madinah, Kamis (7/5).
Di balik kesederhanaan itu, Jumaria justru menjadi wajah haji Indonesia di Saudi. Dia viral usai Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi mengunggah kisahnya untuk berhaji di kanal medsos @makkahroute.
Nenek Jumaria dipilih sebagai Ikon Haji 2026 ini karena kisahnya yang luar biasa. Ditambah lagi, kondisi fisiknya yang masih bugar dan kuat, di usianya yang tak lagi muda.
Di Indonesia, Nenek Jumaria hidup seorang diri di rumahnya di tengah sawah. Rumahnya itu cukup berjarak dari penduduk lain di kampungnya.
Selama ini, si Jumaria menghabiskan waktunya dengan sibuk bertani. Tapi penduduk dari Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Maros, Sulawesi Selatan itu, ternyata menjadikan kegiatan bertaninya mampu mengantarkannya ke Tanah Suci.
Si Nenek mengaku, hasil panen yang diperoleh tidak langsung dihabiskan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian disisihkan dan disimpan sedikit demi sedikit sebagai tabungan haji.
"Kalau sudah panen padi, saya jual, baru kusimpan," katanya.
Tak hanya dari sawah, ia juga menerima upah kecil dari bekerja di kebun milik orang lain. Meski nominalnya tidak besar, seluruh uang itu tetap ia simpan dengan disiplin.
"Kadang Rp 500 (ribu), kadang Rp 700 (ribu). Ada lagi tu punya kebun yang ku kerja, dia kasih Rp 200 (ribu), saya simpan. Kalau ada makanan dibawakan, saya simpan semua Rp 200 (ribu)," tuturnya.
Bagi Jumaria, menyimpan uang menjadi perjuangan tersendiri. Ia tidak memiliki tempat khusus untuk menabung. Uang hasil kerjanya disembunyikan di berbagai tempat sederhana agar aman dan tidak digunakan untuk kebutuhan lain.
"Kalau pertama dikasih, saya simpan begini. Bawah ini, bawah kasur. Jadi pergi, saya simpan mi di ember-ember," katanya.
Ia bahkan menyimpan uang itu di dekat tempat tidurnya lalu menutupinya dengan kain-kain bekas agar tidak diketahui orang lain.
"Di bawah tempat tidur. Bawa tempat tidurnya ya. Iya, baru saya tutup kain-kain jelek toh, supaya tidak ada tahu. Gitu cucuku bilang 'ada uang di sini'," ujarnya sambil tersenyum kecil.
Tabungan itu terkumpul perlahan selama hampir dua dekade. Ada kalanya ia hanya bisa menyimpan uang recehan, namun tekadnya untuk berhaji tidak pernah surut.
"Kadang Rp 50 (ribu), kadang Rp 20 (ribu), kadang Rp 100 (ribu), kadang Rp 200 (ribu) gitu, hampir mi kapan 20 tahun," katanya.
Selama bertahun-tahun, ia berusaha keras agar uang yang sudah disimpan tidak terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan saat hidup serba kekurangan, ia memilih bertahan dengan makanan seadanya.
Kesederhanaan itu dijalani tanpa keluhan. Saat tidak memiliki lauk, ia memasak daun ubi yang ada di sekitar rumah agar tabungan hajinya tetap utuh.
"Ndak. Ambil saja anu, daun ubi, saya masak. Masak, masak yang ada saja. Iya. Saya tidak mau ambil itu yang kusimpan," katanya.
Sesekali, ia menikmati telur dari ayam peliharaannya untuk makan sehari-hari. Bagi Jumaria, hidup sederhana bukan masalah selama impian ke Tanah Suci tetap bisa diperjuangkan.
"Eh biasa anu, masak-masak sayur. Baru makan, Iya. Besok-besok bertelur ayam ku, saya ambil mi. Saya masak telur ayam," ujarnya.
Kini, seluruh perjuangan panjang itu terbayar lunas. Di Tanah Suci, Jumaria hanya bisa bersyukur karena cita-cita yang dipendam selama puluhan tahun akhirnya menjadi kenyataan.
