Kisah Ngadimin Tukang Becak Usia 70 Tahun di Kudus: Saya Masih Semangat Bekerja

Ngadimin (70) mengayuh becaknya sebelum matahari terbit hingga matahari tenggelam. Roda becaknya terus berputar seiring kebutuhan dapur yang harus dipenuhi setiap harinya.
Bagi Ngadimin, pekerjaan sebagai tukang becak sudah menjadi kebiasaannya sedari lama. Lebih dari 40 tahun ia menarik becak. Penghasilannya hanya berasal dari mengayuh becak.
Becak milik Ngadimin sudah berusia tua. Becak tersebut dibeli 40 tahun lalu. Tampak beberapa bagian becaknya sudah berkarat. Cat becaknya juga sudah kusam. Namun, becak itulah yang mengantarkannya menuai rupiah.
Roda becaknya menyusuri sudut-sudut Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Pagi itu, ia hendak beranjak ke Pasar Baru, Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Ngadimin biasa menjemput pedagang pisang. Terkadang juga mencari penumpang lainnya.
Berbekal becak yang sudah berusia 40 tahun itu ia mencari pundi-pundi rupiah. Usianya sudah terlalu tua sebagai tukang becak. Namun, semangatnya tak pernah padam.
"Saya masih semangat bekerja. Daripada di rumah tidak ngapain-ngapain," katanya, Jumat (18/9).
Upah mengayuh becak seharian tak menentu. Biasanya ia membawa pulang uang Rp 50 ribu hasil keringatnya mengayuh becak menyusuri Kota Kretek.
"Upahnya tidak tentu. Kadang ramai, kadang sepi. Selama ini pelanggannya itu-itu saja," terangnya.
Sementara itu, istrinya berjualan mainan di depan sekolah. Ngadimin mengaku tak mau merepotkan kelima anaknya. Ia dan istri memilih mencari uang sendiri untuk hari tuanya.
Setiap rupiah yang didapatkannya ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Jika ada uang sisa, ia tabung untuk usia senjanya.
"Kalau capek ya saya tidur di becak. Kalau sudah enakan narik lagi," ujarnya.
Pekerjaan sebagai tukang becak itu akan terus ditekuninya. Ia belum berpikir untuk beristirahat di rumah. Bekerja sebagai tukang becak masih dinikmatinya.
"Kalau narik becak bisa bertemu teman-teman di jalan. Kalau hanya di rumah nggak ada yang dikerjakan," imbuhnya.
