Kisah Nur dan Roni, Puluhan Tahun Jualan Takjil di Pasar Ramadan Benhil

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana keramaian pembeli takjil di pasar takjil Ramadan Benhil, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2024). Foto: Fadlan Nuril Fahmi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana keramaian pembeli takjil di pasar takjil Ramadan Benhil, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2024). Foto: Fadlan Nuril Fahmi/kumparan

Nur (29) dan Roni (30) sejak usia 3 tahun sudah terbiasa berjualan di Pasar Takjil Ramadan, Benhil, Jakarta Pusat. Ketika kecil, mereka ikut orang tuanya jualan.

Mereka adalah salah satu dari sekian warga RW 01 yang sudah bisa terkenal berjualan takjil di Pasar Takjil Ramadan Benhil yang berada tepat di depan Polsek Bendungan Hilir.

"Sudah jualan hampir 8 tahun. Tadinya orang tua, sekarang saya," ujar Nur dengan antusias diwawancarai wartawan.

"Di sini sudah 3 sampai 4 tahun. Yaa iseng-iseng berhadiah," kata Roni sambil tangannya terus melayani pembeli Es Pisang Ijo-nya.

Suasana keramaian pembeli takjil di pasar takjil Ramadan Benhil, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2024). Foto: Fadlan Nuril Fahmi/kumparan

Nur sudah berada di lapaknya sejak pukul 1 siang. Ia menata jajanan pasar juga minuman es rasa buah yang sudah dikemas dengan rapi di atas meja sambil menunggu pembeli datang.

Mulai dari es nanas, es lemon, es markisa, es jeruk hingga es stroberi lengkap, untuk melepas dahaga saat berbuka.

"Yang paling sering dibeli es lemon, best seller di sini," ucap Nur.

Omzet yang didapat pun beragam, bisa hingga jutaan dalam sehari. Nur dapat menjual hingga 150 cup.

"Sehari bisa 100 lebih sih, 150 cup. 1 cup 10 ribu, kalau makanannya 5 ribuan," tutur dia.

Nur (29) penjual takjil di pasar takjil Ramadan Benhil, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2024). Foto: Fadlan Nuril Fahmi/kumparan

Sedangkan Roni biasa menjual 100 cup es pisang ijonya dalam sehari.

"100 cup, yaa 1 cup 10 ribuan. Kira-kira 100 cup lebih lah," imbuh Roni.

Roni sebagai warga RW 01, mengaku tak perlu membayar uang sewa lapak. "Warga dikasih aja, kalau warga luar nggak tahu," jelas dia.

Suasana keramaian pembeli takjil di pasar takjil Ramadan Benhil, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2024). Foto: Fadlan Nuril Fahmi/kumparan

Berbeda dengan Roni, Nur, sesama warga RW 01 justru membayar uang sewa lapak. Sayang saja ia tak mengetahui berapa nominalnya.

"Iya (bayar sewa lapak), tapi kurang tahu deh itu orang tua (yang bayar sewa) karena saya warga RW 01," ungkap Nur.

Menurut Nur antusias masyarakat tahun ini meredup dibandingkan tahun lalu. Mungkin tahu lalu pasar takjil baru dibuka secara publik usai pandemi Covid-19, membuat masyarakat jauh lebih antusias.

"Lebih ramai tahun lalu ya, karena kan tahun lalu baru buka setelah pandemi. Jadi lebih ramai tahun lalu, nggak tahu besok," pungkas Nur.

Yora (21) dan Aris (52) warga Jakarta Pusat belanja takjil di pasar takjil Ramadan Benhil, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2024). Foto: Fadlan Nuril Fahmi/kumparan
Regi (71) dan Hendri (69) warga Kramat Raya, Jakarta Pusat belanja takjil di pasar takjil Ramadan Benhil, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2024). Foto: Fadlan Nuril Fahmi/kumparan