Kisah Nurul Melawan Penyakit Leukimia Tanpa Kedua OrangTua

Sekelompok anak-anak bermain di teras samping rumah, suara teriakan canda-tawa terdengar hingga ke luar. Dari ruangan tamu seorang anak santai bercanda ditemani perempuan setengah baya sembari menyaksikan tayangan Upin-ipin.
Senyuman sumringah terlihat dari kedua raut wajah mereka, kelucuan dua aktor film asal negeri Jiran menjadi hiburan pagi itu.
“Betul…betul…betul….,” ucap Nurul tertawa menyaksikan film favoritnya.
Bocah perempuan asal Lhoksemawe, Aceh, berumur 9 tahun itu, tampak begitu ceria meski kondisi tubuh tak sama seperti anak-anak lain seumuran dengannya. Nurul tak memilki rambut, kepalanya plontos setelah menjalani kemoterapi sebanyak 16 kali.
Nurul menderita penyakit leukimia limfoblastik akut atau penyakit yang disebabkan karena sel darah putih berlebihan dan tidak terkendali sehingga menyebabkan fungsi normal darah terganggu. Penyakit ini telah mendera Nurul sejak ia masih berumur tiga tahun.
“Nurul nggak malu, karena Nurul yakin rambut ini pasti tubuh lagi,” katanya saat kumparan (kumparan.com) mengunjungi Rumah Kita, Aceh, Kamis (25/1)
Masa kanak-kanak Nurul tak seindah anak lainnya, semesti ia bermain dan sekolah namun saban hari hanya bisa bermain di rumah dan setiap pekannya menjalani perawatan ke rumah sakit. Nurul berjuang melawan penyakitnya hanya seorang diri tanpa kehadiran kasih sayang orang tua.
Kedua orang tua Nurul telah berpisah dan memiliki keluarga masing-masing. Irhamni, ibunya, merupakan seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, meninggalkan Nurul dari sejak kecil hingga kini belum kunjung kembali. Sementara Syahrul ayahnya telah memiliki keluarga baru dan berkerja sebagai pedagang serabutan.
Sejak kecil Nurul tinggal dan dirawat oleh nenek dan pamannnya, akan tetapi tidak lama kemudian setelah Nurul sakit sang nenek meninggal pada Maret 2017 lalu.
“Ayah Nurul di Lhoksukon, Mamak Nurul di Malaysia cari uang untuk Nurul. Mamak pergi sudah dari Nurul kecil belum pernah pulang cuma tinggal sama nenek, paman, dan Wak Uli,” cerita Nurul.
Nurul mengaku ia sangat menyayangi kedua orang tuanya, ia berharap mereka bisa kembali berada di sisinya. “Nurul sayang sekali sama ibu,” kata Nurul bernada pelan, gadis yang akan beranjak usia 10 tahun Maret 2018 mendatang tersebut memiliki cita-cita ingin menjadi seorang guru Matematika.

Nurul di RUMAH KITA
Leukimia limfoblastik akut menyerang Nurul saat ia sedang mengikuti kegiatan karnaval 17 Agustus, pada saat itu masih duduk di bangku kelas 4 SD. Ketika itu, Nurul jatuh pingsan kemudian dilarikan ke rumah sakit Cut Meutia, Lhokseumawe.
Setelah menjalani masa perawatan hingga pulih, tak lama kemudian setelah kembali ke rumah, penyakit itu kembali menyerang Nurul hingga dia dilarikan ke rumah sakit kembali oleh pamannya. Setelah menjalani perawatan yang kedua kali, Nurul dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin, Banda Aceh.
Pada September 2017 lalu, Nurul mendapatkan perawatan di ruang Arafah RSUDZA, seseorang perawat di sana kemudian menghubungi pihak Rumah Kita karena dicurigai penyakit yang menyerang Nurul adalah jenis leukimia.
Mendengar cerita tersebut, kemudian Nurjannah Husen (48) pendiri rumah singgah “Rumah Kita”. Membatu keluarga Nurul membiaya untuk proses pengecekan penyakitnya di Laboratorium rumah sakit setempat. Setelah hasil laboratorium keluar, dokter menyarankan agar segera di kemoterapi jika tidak perjalanan penyakitnya akan memburuk dan dia akan merasakan kesakitan.
“Namun waktu itu adik ayahnya mengatakan tidak ada biaya, tapi kami bersedia untuk membiayainya,” kata Nurjannah yang akrap disapa Nunu.
Pada Rabu 4 Okteber 2017 lalu, Nurul mendapatkan kemoterapi yang pertama dan hingga saat ini ia telah 16 kali. Menurut dokter yang merawatnya, respons kemoterapi cukup bagus.
“Nurul anaknya semangat sekali, selama kita ambil dan merawatnya di sini setiap pagi selalu memeluk dan menciumnya agar Nurul tetap semangat. Sekarang kita ajarkan dia mengucapkan terima kasih ke semua orang yang membantu baik tidak langsung, maupun tidak langsung,” ujarnya.
Selama menjalani proses perawatan di RSUDZA, pengelola di Rumah Kita menjaga Nurul secara bergantian. Namun, selama dirawat tidak ada satupun keluarga Nurul yang datang.
“Keluarga ada yang datang waktu itu saat pertama sekali, Wak Ulinya satu kali dan Pamannya dua kali, tapi pada saat berat-beratnya kami ada kasih kabar tapi tidak ada keluarga yang datang,” kata Nunu.
Tambahnya, saat ini Rumah Kita sedang berusaha mengembalikan Nurul ke masa kanak-kanak se-usia dia. Sebut Nunu, proses kemo yang harus di jalani Nurul masih panjang, selesai siklus kedua akan ada siklus selanjutnya.
“Jadi kita belum tahu sampai kapan proses kemo ini selasai, berdasarkan hasil lab baru direncakan harus kemo lagi karena harus dinyatakan tuntas hingga survivor,” Kata Nunu, yang juga merupakan pendiri dari Komunitas Darah Untuk Aceh (DUA).
Rumah singgah Rumah Kita terletak di jalan Masjid Tuha No.6 Simpang 7 Ulee Kareng, Banda Aceh. Rumah Kita dulunya bernama Rumah Harapan cabang Jakarta. Di sini, kata Nunu, mereka banyak menangani kasus anak-anak penderita penyakit leukimia yang keluarganya kurang mampu dari setiap daerah di Aceh.
