Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Kisah Pak Aziz, Fotografer Cetak Instan di Ragunan yang Bertahan di Era Digital
1 April 2025 18:05 WIB
·
waktu baca 3 menit
ADVERTISEMENT
Di tengah gempuran era digital, jasa foto cetak instan di tempat wisata semakin terpinggirkan. Hampir semua orang kini mengandalkan ponsel untuk mengabadikan momen.
ADVERTISEMENT
Namun, bagi Abdul Aziz (66), fotografer komersial di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan, memotret dengan kamera DSLR yang cukup jadul dan mencetaknya langsung tetap menjadi mata pencahariannya.
“Kalau dulu emang ramai, lebih ramai dari sekarang. Sekarang kita harus kejar-kejar dulu (pelanggan),” ujar Aziz saat berbincang dengan kumparan di Taman Margasatwa Ragunan, Selasa (1/4).
kumparan sempat mencoba memakai jasanya. Kamera yang ia gunakan cukup jadul, yaitu Canon 1000D, dengan printer Canon Selphy untuk cetak foto ukuran 4R dan 5R.
Menariknya, printer tersebut tidak menggunakan listrik langsung, melainkan aki.
“Saya pakai aki, Bang, soalnya untuk ukuran baterainya mahal, Rp 600 ribuan,” katanya.
Pak Aziz kemudian mengajak kumparan menuju salah satu spot favoritnya untuk memotret pelanggan: dekat pohon bougenville yang tengah berbunga serta di depan dinding Ragunan yang dihiasi pahatan hewan.
ADVERTISEMENT
Ia memotret menggunakan flash agar auto focus kameranya yang sudah tertinggal zaman dapat terbantu. Ia bercerita kemarin sempat kehujanan sambil mengecek kameranya.
“Kita coba auto focus-nya dulu, ya, kemarin soalnya sempat kehujanan,” ujarnya.
Sesekali ia mengarahkan saya untuk berpose agar hasil jepretannya semakin bagus.
“Coba, Mas, kakinya yang satu agak dimajuin,” serunya.
Saat berbincang, Pak Aziz mengaku menekuni dunia fotografi secara otodidak. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang ini, bahkan membaca pun katanya masih agak sulit.
“Saya bacanya kurang bisa. Kalau Arab sedikit-sedikit agak mendingan,” ujarnya sembari tertawa.
Ia bercerita sebelum menjadi fotografer sempat berdagang warung kecil di sekitar Ragunan.
Namun, ajakan seorang teman membuatnya tertarik untuk mencoba dunia fotografi. Sejak itu, ia tak pernah lepas dari kamera.
ADVERTISEMENT
“Udah 40 tahun lebih saya di sini,” kata pria yang lahir tahun 1959 itu.
Bertahan di Tengah Gempuran Digital
Meski kini hampir semua orang bisa memotret dengan ponsel, Pak Aziz tetap bertahan. Salah satu alasannya, menurutnya, adalah masih ada pengunjung yang ingin menyimpan foto dalam bentuk fisik.
“Kalau dari HP doang, seumpamanya HP-nya rusak bisa hilang, Bang. Kalau ada fisiknya, bisa dipajang, disimpan dalam waktu lama,” katanya.
Tarif jasanya berkisar Rp 20 ribu per lembar foto. Saat hari biasa, penghasilannya sekitar Rp 150-200 ribu per hari. Sedangkan saat libur Lebaran, ia bisa memperoleh lebih dari Rp 500 ribu sehari.
“Alhamdulillah, kalau Lebaran lebih dari segitu. Belum sama modal, ya, tapi,” ucapnya.
Namun, ia juga harus menyisihkan sebagian penghasilannya untuk biaya operasional. Untuk bisa tetap bekerja di Ragunan, ia harus membayar biaya masuk.
ADVERTISEMENT
“Saya masih punya utang sekitar Rp 800 ribu kali, ya. Ini mau isi lagi, kemarin cuma tutup,” katanya.
Meski persaingan makin ketat, Pak Aziz tetap setia dengan pekerjaannya. Ia sadar zaman telah berubah, tetapi selama masih ada orang yang ingin memiliki foto cetak instan, ia akan terus menekan shutter kameranya.
“Ya, untuk tambahan sehari-hari aja, Bang. Yang penting masih ada yang mau difoto,” tutupnya.