Kisah Pak Ogah di Kudus Menjemput Rezeki dengan Satu Kaki

Suparman (47) sehari-hari bekerja sebagai "Pak Ogah" yang membantu mengatur lalu lintas di jalan. Ia menyeberangkan pengendara sepeda motor, mobil, truk, dan bus sambil bertopang pada satu kaki yang masih berfungsi.
Maman, sapaan akrab Suparman, berbagi cerita kepada kumparan tentang kondisinya yang kehilangan satu kaki. Kaki kiri Maman diamputasi pada 2020 akibat kanker.
Warga asal Kabupaten Demak, Jawa Tengah, itu sebelumnya bekerja di sebuah pabrik. Namun, setelah kaki kirinya diamputasi, perusahaan tempatnya bekerja tidak lagi dapat mempekerjakannya.
Kehilangan pekerjaan membuat Maman memutuskan menjadi "Pak Ogah" dengan menawarkan jasa membantu pengendara menyeberang jalan. Berapa pun upah yang diterimanya, mulai dari Rp 500, Rp 1.000, hingga Rp 2.000, selalu ia syukuri.
Setiap hari, ia berangkat dari rumahnya di Desa Karangsari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, menuju Pertigaan Karangdowo, Desa Bae, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Di lokasi itu, ia membantu mengatur pengendara yang melintas maupun hendak menyeberang jalan.
Dengan mengenakan rompi dan membawa bendera, ia mengatur lalu lintas seorang diri. Kawasan tersebut cukup ramai karena berada di dekat sekolah, home industry, dan pabrik.
Berdiri dengan satu kaki sambil mengatur lalu lintas, diakuinya, bukan pekerjaan yang mudah. Namun, ia tetap menjalaninya demi menafkahi istri dan kedua anaknya.
"Dengan kondisi seperti ini sebenarnya kesulitan. Tetapi karena keadaan ya yang penting bisa kerja," katanya kepada kumparan, Kamis (2/7).
Pria yang memiliki dua anak itu mengatakan kaki palsunya memiliki bobot yang cukup berat, mencapai sekitar tiga kilogram. Kaki palsu tersebut dibelinya menggunakan uang pribadi dengan bantuan seorang dermawan.
"Supaya bisa menunjang kerjaan saya. Kaki palsu ini kalau dibuat jalan sebenarnya berat. Tetapi dijalani saja," terangnya.
Ia memilih bekerja di Pertigaan Karangdowo karena dinilai lebih aman. Mayoritas kendaraan yang melintas merupakan kendaraan kecil.
"Kalau di Demak kawasan Pantura saya takut karena mayoritas kendaraan yang melintas kendaraan besar. Di samping itu kondisi kaki saya kan seperti ini. Tidak bisa berdiri terlalu lama juga," ujarnya.
Maman telah menjalani pekerjaan sebagai "Pak Ogah" di Pertigaan Karangdowo selama lima tahun terakhir. Setiap hari, ia bekerja mulai pukul 06.00 WIB hingga 17.30 WIB.
"Penghasilan sehari-hari cukup untuk makan. Kadang bisa untuk nabung sedikit. Sisanya bayar sekolah anak saya yang bontot," jelasnya.
Mengatur lalu lintas dengan kaki palsu bukan satu-satunya tantangan yang dihadapinya. Terkadang ia dibentak sopir yang tidak sabar ingin segera melintas. Selain itu, ia juga kerap dimintai rokok oleh pengguna jalan.
"Kadang ada sopir yang bentak karena nggak sabar ingin segera melintas. Soal orang yang minta rokok, kalau saya ada saya kasih," ungkapnya.
Ke depan, Maman berharap dapat memiliki usaha sendiri sehingga tidak lagi harus berdiri di tengah jalan demi mencari nafkah.
"Pastinya ingin punya usaha sendiri di rumah," imbuhnya.
