Kisah Para Relawan Indonesia yang Bakal ke Gaza Menembus Blokade Israel

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Agriyan Bintang Ramadhan, relawan asal Padang yang siap berlayar ke Gaza. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Agriyan Bintang Ramadhan, relawan asal Padang yang siap berlayar ke Gaza. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan

Dari Padang, Sumatera Barat, ke Tunisia, jaraknya hampir seperempat keliling bumi. Tapi buat Agrian Bintang Ramadan, perjalanan itu baru awal. Sebab, tujuan sebenarnya ada di Gaza, Palestina. Pemuda berusia 25 tahun itu akan berlayar bersama Global Sumud Flotilla 2025.

“Insyaallah, saya akan menembus blokade Gaza. Saya berangkat sebagai relawan dan aktivis kemanusiaan,” kata Agrian saat berbincang dengan kumparan di Tunis, Tunisia, Kamis (4/9).

Agrian merupakan 1 dari 33 relawan Indonesia yang akan berlayar menuju Gaza dari pelabuhan di Tunisia. Delegasi Indonesia, Indonesia Global Peace Convoy (IGPC), sudah menyiapkan lima kapal yang isinya membawa bantuan kemanusiaan untuk masyarakat Gaza yang tengah dilanda kelaparan akibat ulah zionis Israel.

IGPC sendiri merupakan inisiatif kolektif masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi dalam Global Sumud Flotilla 2025. Ada 23 organ atau lembaga yang terlibat dalam IGPC, salah satunya adalah Dompet Dhuafa.

Konfrensi pers Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) terkait update persiapan Global Sumud Flotilla dari Tunisia ke Gaza, Kamis (4/9/2025). Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan

Sebelum berlayar, Agrian bercerita bahwa sudah mengikuti rangkaian pelatihan bersama ratusan relawan dari 44 negara di Tunisia. Mereka yang mengikuti pelatihan berasal dari Prancis, Jerman, Spanyol, Tunisia, hingga Turki. Pelatihan dilakukan dalam bahasa Inggris, Arab, dan Turki.

Menurut Agrian, pelatihan itu bukan sekadar persiapan logistik. Para peserta juga belajar soal keamanan dan prinsip non-kekerasan.

“Kalau nanti kapal ditangkap tentara IDF, kami tidak boleh panik, tidak boleh melawan. Cukup angkat tangan dan diam,” ujarnya.

Agrian bahkan diminta membuat rekaman video SOS. Video itu baru akan dipublikasikan jika kapal disabotase atau dirinya ditangkap. Video itu akan disebar ke akun-akun resmi Global Sumud Flotilla.

"Nah, di situ tuh adalah pesan untuk dunia, terkhusus warga di negara masing-masing. Seperti saya kan terkhusus untuk Indonesia, terkhusus kepada Presiden Prabowo. Di sana itu, jika video itu sudah beredar, itu tandanya kita berada dalam kondisi yang sudah ditangkap oleh tentara zionis, begitu," ungkapnya.

Para aktivis Koalisi Freedom Flotilla, menaiki kapal Madleen, sebelum berlayar menuju Gaza, berangkat dari pelabuhan Catania, Sisilia, Italia, Minggu (1/6/2025). Foto: Salvatore Cavalli/AP PHOTO

Keputusan Agrian untuk pergi Gaza bukan tanpa risiko. Ia tahu ancaman di laut terbuka bisa datang kapan saja. Namun keluarganya, terutama sang ibu, sudah memberi restu penuh.

"Alhamdulillah mengizinkan. Karena memang keluarga saya pun juga tahu, terutama ibu ya, bagaimana isu Palestina ini sangat-sangat menyedihkan, sangat-sangat mengharukan sekali, gitu. Sehingga melihat diamnya dunia, ketidakberdayaannya pemerintah-pemerintah kita atas apa yang terjadi di Palestina, itu juga menumbuhkan empati kepada keluarga saya, dan ketika saya meminta izin untuk bergerak, untuk membantu kemanusiaan ini, mereka sangat support dan mengizinkan saya untuk bergabung dalam misi ini," ungkap dia.

Kini, menjelang keberangkatan di hari Minggu, Agrian mengaku siap lahir batin. “Apapun risikonya, saya sudah siap. Karena di sini yang saya bawa adalah nama kemanusiaan dan nama warga Indonesia” ucapnya.

Wanda Hamidah Ikut Berlayar

Bukan hanya Agrian. Dari Indonesia, nama Wanda Hamidah juga ikut serta dalam Global Sumud Flotilla 2025. Selama tiga hari terakhir, ia menjalani pelatihan dan technical meeting di Tunisia bersama ratusan aktivis kemanusiaan dari berbagai belahan dunia.

Pelatihan itu mencakup urusan administratif, mitigasi risiko di laut, hingga berbagi pengalaman dari aktivis yang pernah bergabung di flotilla sebelumnya.

“Kami dikasih tahu do’s and don't, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pelayaran,” ujar Wanda.

Wanda Hamidah siap berlayar menuju Gaza dalam agenda Global Sumud Flotilla, Kamis (4/9/2025). Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan

Keberangkatannya sempat tertunda karena faktor cuaca. Semula dijadwalkan 4 September, kapal baru bisa berlayar pada 7 September. Meski begitu, Wanda mengaku semakin siap.

“Rasanya kami akan dipecah ke beberapa kapal, bukan hanya bersama orang Indonesia saja. Itu sepenuhnya kewenangan panitia,” katanya.

Bagi Wanda, keterlibatannya bukan hal tiba-tiba. Selama ini ia dikenal aktif dalam aksi-aksi kemanusiaan untuk Palestina. Tahun lalu, ia bahkan sempat berangkat ke Mesir dalam rangkaian Global March of Gaza.

“Saya enggak bisa hanya berdiam diri menyaksikan genosida yang kita yang kita saksikan secara live streaming hari demi hari, gitu. Jadi selama saya bisa melakukan sesuatu yang lebih nyata, with action, tentu saya akan lakukan action itu," ungkap dia.

Chiki Fawzi Juga Ikut Berlayar

Bagi Chiki Fawzi, kepedulian terhadap Palestina bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia menyebut, sejak kuliah di Malaysia sudah terbiasa berdiskusi dan berjuang bersama mahasiswa asal Palestina. Bahkan, kata dia, sang ibu-lah yang pertama kali menanamkan pentingnya membela Baitul Maqdis.

“Kalau bahasa ibu saya, ada hujah yang harus diperjuangkan di sana,” kata Chiki.

Sebelum ikut berlayar, Chiki berusaha mengangkat isu Palestina lewat cara yang dekat dengan dirinya yaitu dunia pop culture. Baginya, itu penting agar isu kemanusiaan ini tidak sepi, apalagi di tengah ruang digital yang kerap menenggelamkan suara Palestina.

“Genosida itu selalu berbarengan dengan verisida—mematikan kenyataan dan kebenaran,” ujarnya. “Jadi kita-kita yang punya media sosial ini harus menyambungkan kebenaran dan apa yang terjadi di Gaza.”

Chiki Fawzi jadi salah satu influencer yang akan berlayar ke Gaza dalam agenda Global Sumud Flotilla, Kamis (4/9/2025). Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan

Ketika pendaftaran flotilla dibuka, Chiki langsung mendaftar. Namun, keputusannya tidak serta-merta mudah diterima keluarga. “Ayah saya sempat kaget, tapi pelan-pelan akhirnya mengizinkan. Sampai sekarang saya masih berharap doa dan rida beliau,” ucapnya.

Pelatihan yang dijalani di Tunisia menurutnya sangat bermanfaat, terutama untuk menjaga kondisi mental selama pelayaran. “Kita diajarkan bagaimana meng-handle diri supaya bisa memberikan vibe positif untuk sekapal. Karena apa yang terjadi sama kita bisa menular ke orang lain,” katanya.

Ia sadar, perjalanan ini penuh ketidakpastian. Laut lepas, ancaman zionis, hingga badai yang menghadang kapal dari Barcelona menjadi risiko nyata. Namun Chiki menyebut koordinasi di bawah pimpinan Ustaz Husein Gaza membuat mereka tetap yakin berada di jalur yang benar.

instagram embed

Sebagai sosok publik yang juga dikenal dekat dengan anak muda, Chiki menitip pesan khusus. “Please, wake up. Banyak anak muda dari negara-negara bule, nonmuslim, tapi bergerak atas dasar kemanusiaan. Semoga teman-teman muda di Indonesia juga peduli,” ujarnya.

Ia mengingatkan, perang bukan hanya soal senjata, tapi juga narasi. “Genosida selalu berbarengan dengan verisida—mematikan kenyataan. Maka kita harus lawan dengan membuka mata, membuat sesuatu, dan berada di sisi sejarah yang benar.”