Kisah Pedagang Rongsokan yang Menafkahi Tiga Anak dari Jalanan Jakarta

Di bawah terik matahari kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, Tirta (56) duduk beristirahat di samping gerobaknya yang penuh kardus, besi bekas, dan barang elektronik rusak.
Bagi pria asal Karawang itu, gerobak tersebut menjadi sumber nafkah untuk keluarga yang tinggal di kampung halaman.
“Kalau ketemu (keluarga) terus, enggak bisa nafkahin juga bingung,” kata Tirta kepada kumparan, Selasa (23/6).
Sejak 2019, Tirta merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai pedagang barang bekas. Sebelumnya, ia menjadi petani dan buruh tani di Karawang.
Namun, penghasilan di kampung dinilainya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Di kampung susah cari kerjaan. Ada nyangkul sawah, cuma upahnya enggak seberapa,” ujarnya.
Istri dan ketiga anaknya tinggal di Karawang. Anak sulungnya kini bekerja di Tangerang, sementara dua anak lainnya masih bersekolah.
Meski terpisah jarak, Tirta rutin mengirim uang untuk kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anaknya.
“Ngirimin lah. Dua atau tiga hari sekali transfer kalau lagi butuh,” katanya.
Bukan Pemulung, tapi Pedagang Rongsok
Tirta menegaskan dirinya bukan pemulung.
“Saya bukan mulung. Saya beli,” ucapnya.
Setiap hari ia mencari barang bekas dari warga, warung, hingga proyek bangunan. Barang yang dibeli beragam, mulai dari kardus, besi tua, sepeda bekas, hingga AC rusak.
Ia bekerja dua kali sehari, pagi hingga siang lalu kembali berkeliling pada sore hari di kawasan Pejaten, Unas, Siaga, dan sekitarnya.
Modal yang dibawanya berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu. Jika menemukan barang bernilai besar, ia bisa meminta tambahan modal dari pengepul.
“Kalau kurang modal dan ada barang jutaan, tinggal telepon bos,” katanya.
Barang yang terkumpul dijual kembali ke pengepul. Keuntungan terbesar biasanya datang dari barang elektronik.
“Kalau dapat AC, beli Rp 100 ribu bisa jadi Rp 800 ribu per biji,” ujarnya.
Buat Makan, Tak Keteteran
Penghasilan Tirta tidak menentu. Dalam sehari ia bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu, tetapi bisa lebih besar jika mendapat barang borongan.
“Bisa jutaan kembali,” katanya.
Karena itu, ia tak terlalu memikirkan pandangan orang terhadap pekerjaannya.
“Buat makan mah enggak keteter. Cuma kelihatannya doang hina,” ujarnya.
Menurut Tirta, profesi pedagang barang bekas cukup diminati karena penghasilannya lumayan dan waktu kerjanya fleksibel.
“Di sini kerja sambil main, santai, enggak dikejar waktu,” tuturnya.
Tantangan: Cuaca dan Sepi Barang
Meski terlihat santai, pekerjaan ini tetap memiliki tantangan.
Hujan menjadi salah satu hambatan karena barang-barang yang dibawanya harus segera ditutup terpal agar tidak rusak.
Selain itu, ada kalanya ia berkeliling tanpa mendapatkan barang yang bisa dibeli.
“Dukanya kalau enggak dapat barang. Kalau hujan juga,” katanya.
Meski demikian, Tirta tetap menikmati pekerjaannya. Baginya, yang terpenting adalah bisa terus menafkahi keluarga di Karawang.
“Yang penting bisa cari nafkah,” ujarnya.
Reporter: Aditya Nugraha, Aulia Firdaus Brillianti, Muhammad Nauval Pratama, Ratu Shafa Auliya
