Kisah Pejuang dari Pinggir Jakarta, Menempuh Jalan Panjang hingga Jantung Kota
·waktu baca 4 menit

Faris (25) mengenakan jaket dan helmnya. Dia bersiap berangkat kerja menuju ibu kota dengan motor matiknya.
Dari rumahnya di Cileungsi, Bogor, Faris berkendara sejauh 15 km menuju Halte Transjakarta Cibubur Junction, Jakarta Timur, pada Selasa (27/5) pagi.
Tak sampai di situ, ia juga harus menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam setiap pagi menuju tempatnya bekerja di Cikoko, Jakarta Selatan.
Setiap harinya, Halte Transjakarta Cibubur Junction menjadi tempat berkumpul pekerja yang tinggal di ‘pinggiran’ Jakarta, seperti Cileungsi, Jonggol, Depok, Kranggan, dan banyak daerah penyangga lainnya. Walau memiliki profesi yang berbeda, mereka tetap sama. Sama-sama mengadu nasib di jantung Ibu Kota.
“Sebenarnya saya tinggal di Cileungsi, di Metland. Nah, dari Metland, kantor saya di Cawang. Karena saya malas naik motor, jadi saya transit di sini untuk naik busway,” ujar Faris tepat sebelum melakukan tap-in untuk naik bus Transjakarta bertarif Rp 3.500.
Perjalanan lintas kota menjadi makanan Faris sehari-hari. Dari Cibubur Junction (Bogor), ia naik Transjakarta rute 7C tujuan Cawang Sentral (Jakarta Timur), lalu melanjutkan perjalanan dengan koridor 9 menuju Cikoko (Jakarta Selatan). Dalam sehari, Faris bisa menghabiskan tiga sampai empat jam di jalan.
“Kalau misal — saya kan masuk sekitar jam delapan (pagi) ya. Jadi kalau misalnya saya berangkat tuh harus kalau dari rumah jam enam (pagi). Jam enam kuranglah, sampai sini jam enam lewat dikit. Ya, sampai kantor tuh bisa (pukul 08.00) kurang lima menitlah nyampe,” tuturnya.
Rela Berdiri Berjam-jam
Bekerja di pusat roda ekonomi seperti Jakarta memang menjadi pilihan bagi banyak orang. Namun, bagi mereka yang tinggal di pinggiran Jakarta, harus ada konsekuensi yang diterima. Waktu tempuh yang melelahkan dan padatnya kendaraan harus dilalui demi mencari cuan untuk membiayai hidup.
Untuk sampai tempat tujuan dengan tepat waktu, mereka sering kali harus berdiri di transportasi umum sepanjang perjalanan. Dengan kantuk yang masih menggelayuti mata, mereka membiarkan tubuhnya terombang-ambing mengikuti ritme jalanan.
Begitulah yang dialami Syauqi (23), pekerja asal Kranggan, Bekasi yang harus menempuh perjalanan hingga Mangga Dua, Jakarta Utara.
“Saya mah ya naik aja, tinggal masuk. Mau berdiri, mau duduk, yang penting ikut aja saya mah,” kata Syauqi, penumpang setia bus Transjakarta.
“Saya (biasanya) pasti berdiri. Hampir setiap hari,” tambah Syauqi.
TransJakarta Jadi Pilihan Pekerja dan Mahasiswa
Bagi banyak penumpang, bus TransJakarta bukan sekadar transportasi. Akan tetapi, sudah menjadi kebutuhan sehari-hari.
Tak hanya pekerja, banyak pula mahasiswa yang menjadikan Transjakarta sebagai transportasi untuk meraih cita-cita.
Salah satunya Frisky (21), mahasiswi semester enam di Universitas Pertamina, Simprug, Jakarta Selatan, yang berasal dari Depok.
“Aku berangkat dari Gas Alam (Depok) ya, terus mau kuliah di Pertamina Simprug, itu di Jakarta Selatan,” tutur Frisky. Dua lokasi ini berjarak 25-30 km.
Setiap ada kelas, Frisky. harus berangkat lebih pagi karena perlu mengantre panjang di Halte Transjakarta Cibubur Junction. Hal ini menjadi salah satu perjuangan yang dilalui Frisky untuk meraih gelar sarjana.
“Biasanya sih, kalau kita misalnya berangkat jam enam pagi. Itu mungkin kita bisa sampai Jakarta sekitar jam tujuh kurang, seperti itu. Nah, tapi kalau misalnya melewati dari setengah tujuh, mungkin kita sampai bisa sekitar jam delapan atau sampai setengah sembilan, karena macetnya jalanan kan,” kata Frisky menceritakan apa yang ia lalui setiap berangkat kuliah.
Sekilas Transjakarta
Transjakarta ditelurkan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada tahun 2004 untuk memecah kemacetan Ibu Kota. Pemberian subsidi oleh Pemprov DKI membuat tarif Transjakarta Rp 3.500/penumpang sejak 2012 bisa dipertahankan hingga kini.
Dalam perjalanan waktu, bus Transjakarta yang memiliki jalan eksklusif (busway) menjadi idola masyarakat. Apalagi setelah koridornya diperluas hingga wilayah Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).
Selain itu, sistem ini terus mengembangkan integrasi dengan moda transportasi lain seperti MRT, LRT, KRL Commuter Line, dan angkutan pengumpan (Mikrotrans/angkot Jaklingko, Royaltrans, dll.), menciptakan sistem transportasi publik yang terpadu dan memudahkan mobilitas warga.
Reporter: Nasywa Athifah
