News
·
18 Agustus 2020 12:40

Kisah Pemulung di Yogya Hidup Nomaden, tapi Rela Rawat Kucing Jalanan yang Sakit

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kisah Pemulung di Yogya Hidup Nomaden, tapi Rela Rawat Kucing Jalanan yang Sakit (207391)
Sugiyanto, warga asal Kadipiro, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, yang hidup nomaden dan merawat kucing jalanan. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Keterbatasan tidak menghalangi setiap orang untuk berbuat baik. Hal itu diyakini seorang pemulung bernama Sugiyanto (46).
ADVERTISEMENT
Warga Kadipiro, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, ini sudah empat tahun merawat kucing-kucing jalanan yang sakit. Setiap hari, dengan berbekal sepeda motor bergerobak, dia keliling wilayah Yogya.
Di gerobak tersebut, terdapat 8 kucing sakit yang dia rawat. Selain kucing, gerobak tersebut berisi peralatan servis ponsel yang menjadi perkakasnya mencari nafkah selain mencari rongsokan.
"Tanggal pastinya mulai saya lupa. Dari dulu saya relawan. Terus aku mikir dulu punya kucing sakit (biayanya) sampai jutaan (rupiah) dan aku nggak punya duit. Terus aku mikir kucing di jalan yang mau membiayai siapa," ujar Sugiyanto, ditemui saat melintas di Jalan Purbaya-Sumberadi Mlati, Sleman, Selasa (18/8).
Kisah Pemulung di Yogya Hidup Nomaden, tapi Rela Rawat Kucing Jalanan yang Sakit (207392)
Tulisan di gerobak milik Sugiyanto, warga asal Kadipiro, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, yang hidup nomaden dan merawat kucing jalanan. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Berangkat dari kecintaan kucing Sugiyanto pun bertekad membantu kucing yang sakit di jalan. Setiap pagi dan sore dia berkeliling untuk mencari kucing yang sakit.
ADVERTISEMENT
Jika kucing tersebut sakit tidak parah, maka akan diobati di tempat. Namun jika dirasa parah akan Sugiyanto bawa di gerobaknya. Sugiyanto menyebut obat yang diberikan ke kucing-kucing itu dari dokter hewan.

Dari situ sedikit banyak mulai berkembang pikiranku. Nggak bisa nolong manusia, bisa menolong makhluk yang lain. Dari panggilan hati.

Sugiyanto

Untuk biaya perawatan kucing ini, dia mengandalkan pendapatan dari servis ponsel keliling dan mencari rongsokan. Selain itu banyak teman-teman yang memberikan bantuan seperti pakan dan lain sebagainya. Menurutnya, hidup melajang membuatnya lebih leluasa untuk merawat kucing.
Kisah Pemulung di Yogya Hidup Nomaden, tapi Rela Rawat Kucing Jalanan yang Sakit (207393)
Sugiyanto, warga asal Kadipiro, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, yang hidup nomaden dan merawat kucing jalanan. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Selain itu, Sugiyanto juga rutin memantau media sosial Facebook. Jika ada yang mengunggah kucing sakit, maka dia akan datang memberikan pertolongan. Menurutnya, ketika seseorang sudah mengunggah kucing yang sakit, maka seseorang tersebut memang tidak mampu merawat.
ADVERTISEMENT
"Aku ngambil kalau udah di-up di medsos yang tanpa reaksi baru aku ambil. Namaku Sugiyanto, tapi biasa dikenal Yulianto juga," ujarnya.
Saat disinggung mengapa memilih hidup nomaden, Sugiyanto punya cerita tersendiri. Sebenarnya dia masih memiliki rumah di Kadipiro, tetapi dia tidak ingin mengganggu ibu dan adiknya dengan kebiasaannya memelihara kucing.
Sampai saat ini dia juga mengontrak rumah di daerah Ngemplak, Sleman. Namun dia jarang pulang karena banyak tetangga yang tersinggung dia memelihara banyak kucing. Dulu dia sempat merawat 42 kucing. Lantaran persoalan ini, dia membuka adopsi dan menyisakan 8 kucing.
"Saya hanya ambil yang benar-benar sakit. Kaya itu sakit saraf mulutnya. Karena memang keterbatasan tempat," katanya.
Di balik kebaikan Sugiyanto, cibiran pun berkali-kali menghampiri. Keterbatasannya ini sering jadi hinaan orang. Namun dia tak menghiraukan dan tetap merawat kucing-kucing nahas dari yang tertabrak kendaraan hingga menderita scabies jamur.
ADVERTISEMENT
Orang ngomong, orang enggak punya kok maksain nolong. Jadi kalau orang miskin kaya aku, nggak punya tempat kok rescue. Emang nggak boleh?
-Sugiyanto
Keterbatasan tempat ini tidak mematahkan semangat Sugiyanto. Menurutnya, ketika kucing dirawat dan merasa nyaman dia bisa menemui kembali kucing tersebut di lain hari pada jam yang sama
"Naluri binatang di mana dia dikasih makan pasti nunggu di situ. Kalau kita ngasih dia merasa cocok, (dia) nunggu," ujarnya.
Kini, Sugiyanto tetap bertekad untuk merawat kucing-kucing malang. Dia pun menuliskan doa di gerobak miliknya. "Ya Allah Berikanlah Rejeki Kepada Pemulung Ini Agar Bisa Merawat Kucing di Jalanan yang Terlantar Sakit, Amin" tulisnya.
***
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)