Kisah Penambang Kota

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana Ibukota dengan latar belakang gedung. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Ibukota dengan latar belakang gedung. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)

Tumpukan barang rongsok terlihat di dalam sebuah truk besar pada sebuah tempat penampungan, bahan limbah elektronik itu merupakan barang rongsokan elektronik bekas yang biasa dijumpai di rumah, perkantoran atau paling tidak di tempat servis elektronik. Barang-barang itu merupakan peralatan elektronik yang telah menjadi limbah, ironisnya jenis limbah ini mengalami pertumbuhan sangat cepat. Bahkan United Nations Environment Programme (UNEP) PBB mencatat sampah elektronik di dunia bertambah 40 juta ton per tahun. Hal itu disebabkan karena barang elektronik memiliki umur operasional dan juga sikap konsumtif manusia yang selalu ingin produk-produk baru.

Namun dari limbah yang berbahaya bagi lingkungan itu, ternyata ada material berharga di samping metal dan plastik, antara lain perak, paladium, platina, rutenium, bahkan emas. Material berharga inilah yang mendorong munculnya "penambang kota", alias pencari sampah elektronik (e-waste) yang mencari emas dan material berharga lainnya dengan mengolah limbah itu.

Penambang kota mencari limbah elektronik seperti televisi dan perangkat keras komputer, bagian komponen yang dicari terutama adalah bagian konektor dan kontak pada papan sirkuit karena mengandung emas yang berfungsi sebagai komponen penghantar listrik pada perangkat bertegangan rendah atau arus rendah. Data dari majalah Wired menunjukkan bahwa satu unit telepon selular rata-rata diperkirakan mengandung 0,2 gram emas, umumnya terdapat pada kartu SIM, papan logic dan komponen-komponen di balik layar LCD.

Truk pengangkut barang limbah elektronik. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
zoom-in-whitePerbesar
Truk pengangkut barang limbah elektronik. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
Pemulung mengambil TV milik warga yang dibuang. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
zoom-in-whitePerbesar
Pemulung mengambil TV milik warga yang dibuang. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)

Seorang penambang kota di Jakarta menceritakan bahwa mereka mencari limbah di pembuangan sampah, datang ke pengepul barang rongsok atau ikut dalam lelang barang-barang elektronik yang dijual sebuah perusahaan. Setelah itu mereka memisahkan komponen yang ada kandungan emasnya.

Pemilik lapak limbah elektronik memilah komponen. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
zoom-in-whitePerbesar
Pemilik lapak limbah elektronik memilah komponen. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
Tumpukan panel Printed Circuit Board (PCB). (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
zoom-in-whitePerbesar
Tumpukan panel Printed Circuit Board (PCB). (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)

Emas diambil dengan cara membakar komponen yang mengandung emas, dibakar untuk memisahkan dari komponen plastik, setelah itu diproses dengan menggunakan bahan kimia yaitu asam klorida, hidrogen peroksida dan merkuri. Setelah berhasil dilucuti bagian emasnya kemudian dilelehkan dengan bahan kimia berupa borak. Untuk mendapatkan 99,9 persen emas murni harus dilakukan proses pemurnian dengan menggunakan cairan air keras guna memisahkan elemen logam lain yang masih menempel pada emas tersebut.

Setelah melalui proses kurang lebih 2-3 hari maka bisa didapat 99,9 persen emas murni dan dapat diolah kembali menjadi perhiasan dengan nilai jual yang tinggi.

Proses pengambilan emas dari komponen tersebut. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
zoom-in-whitePerbesar
Proses pengambilan emas dari komponen tersebut. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
Cairan merkuri yang dipanaskan. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
zoom-in-whitePerbesar
Cairan merkuri yang dipanaskan. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
Pelebur menuangkan cairan merkuri. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
zoom-in-whitePerbesar
Pelebur menuangkan cairan merkuri. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
Mencuci emas yang didapat dari limbah elektronik. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
zoom-in-whitePerbesar
Mencuci emas yang didapat dari limbah elektronik. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
Pelebur emas menunjukan butiran emas. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
zoom-in-whitePerbesar
Pelebur emas menunjukan butiran emas. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
Refleksi dari mata sebuah emas yang dilebur. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
zoom-in-whitePerbesar
Refleksi dari mata sebuah emas yang dilebur. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
Pelebur emas menunjukkan bongkahan emas murni. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
zoom-in-whitePerbesar
Pelebur emas menunjukkan bongkahan emas murni. (Foto: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)