Kisah Penderita Talasemia di Banyumas yang Bahagia Pernikahannya Dihadiri Ganjar

kumparanNEWSverified-green

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kanan) saat menghadiri pernikahan penderita thalasemia di Banyumas. Foto: Dok. Pemprov Jawa Tengah
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kanan) saat menghadiri pernikahan penderita thalasemia di Banyumas. Foto: Dok. Pemprov Jawa Tengah

Alif Nur Prabowo (24) tak menyangka hari pernikahannya dengan Mufidatil Chasanah dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Warga Desa Bobosan, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas itu senang bukan kepalang resepsi pernikahannya yang digelar secara sederhana itu dihadiri langsung oleh Gubernur Ganjar.

Alif mengatakan awalnya dia hanya ingin mendapat karangan bunga dari Ganjar Pranowo, tak berharap lebih. Siapa sangka,justru Ganjar datang langsung di hari bahagianya.

"Saya ndak ngundang, saya cuma berharap dapat karangan bunga dari Pak Ganjar Pranowo. Jadi, saya minta teman saya menyampaikan ke Pak Ganjar,eh malah datang pak Ganjar-nya. Saya seperti mimpi, tidak menyangka sekali," kata Alif yang tampak begitu sumringah, Jumat (6/3).

Apalagi, Alif merupakan salah satu penderita Talasemia sejak usia dua tahun yang selalu membutuhkan dorongan dan semangat dari orang sekeliling. Ia mengatakan selama ini begitu mengagumi sosok gubernur berambut putih itu. Kelincahan dan motivasi yang selalu disampaikan menjadi penyemangatnya dalam menjalani hidup. 

"Orang Talasemia itu kalau tidak punya semangat pasti terpuruk. Salah satu penyemangat saya ya Pak Ganjar. Saya rutin minum obat dan melakukan transfusi darah tiga minggu sekali," ucapnya. 

Kehadiran Ganjar memang menjadi kejutan bagi Alif dan keluarganya. Ganjar hadir untuk memberikan semangat pada pasangan itu. Terlebih waktunya yang cocok karena saat itu Ganjar juga tengah melakukan kunjungan kerja di Banyumas. 

Tak hanya sendiri, Gubernur ganjar hadir bersama anggota komunitas Talasemia Banyumas untuk sama-sama memberikan semangat pada Alif dan pasangannya. Alif pun selama ini aktif dalam kegiatan edukasi tentang Talasemia.

"Ada yang ngabarin saya kalau dia minta karangan bunga. Karena saya pas ada kunjungan kerja di Banyumas, saya sempatkan mampir," kata Ganjar.

Tak hanya memberikan ucapan selamat, kedatangan Ganjar ke tempat itu sekaligus untuk mengedukasi masyarakat tentang Talasemia. Selama ini, masyarakat memandang negatif pengidap Talasemia karena takut tertular. "Talasemia itu tidak menular, namun memang ada resiko-resikonya apabila ingin menikah, khususnya resiko pada keturunan. Nah ini saya datang sekaligus memastikan, mas Alif dan mbak Fida sudah diedukasi soal itu," terang Ganjar.

Sebab dari Kementerian Kesehatan lanjut dia, pengidap Talasemia harus menjalani prosedur pengecekan jika ingin menikah. Dirinya senang, karena perintah itu sudah dilaksanakan di Jawa Tengah.

"Mudah-mudahan mereka ini sudah paham resikonya dan mengerti tentang segala kemungkinan yang akan terjadi pada keturunannya," kata dia.

Salah satu anggota komunitas Talasemia, Sugiyo menerangkan bahwa Talasemia bukanlah penyakit menular. Memang ada risiko pada keturunan apabila menikah.

"Tapi kalau pasangan itu salah satunya tidak Talasemia, ada kemungkinan anaknya normal. Saya sendiri sudah punya dua anak, dan mereka semua sehat," ucapnya.